SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU

SUAMI SELINGKUH DENGAN SAHABATKU
BAB 59. TARGET SELANJUTNYA


__ADS_3

Tak terasa jam kerja pun usai. Siang sudah berganti sore, saatnya semua pegawai PT. Sumber Rejeki kembali pulang ke rumah masing-masing.


Yunan sang direktur sudah berada di tempat parkir. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah, karena sudah kangen dengan suasana tenang di tempat huniannya, bersenda gurau dengan keluarga. Ditemani secangkir kopi yang disuguhkan oleh Alma sang istri, juga bercerita dengan dua anaknya, Angga anak kandungnya, Tiara anak tirinya.


Walau Tiara bukan anak kandung dari Yunan, tapi kasih sayangnya tak dibeda-bedakan. Begitu juga dengan Tiara, gadis yang makin cantik ini sudah menganggap Yunan sebagai orang tuanya sendiri.


Sedang Anton, notabene ayah kandung dari Tiara, tak pernah ingin menemuinya atau berusaha menghubunginya. Apalagi memberikan nafkah yang seharusnya tetap diberikan oleh Anton pada Tiara, anak kandungnya.


Jadi wajar, jika akhirnya Tiara makin melupakan sosok ayah kandungnya sendiri. Ia lebih bangga menjadi anak dari papa Yunan.


Dalam perjalanan pulang, Yunan sempat memikirkan peristiwa di kantor yang mengganggu pikirannya. Sudah beberapa kali, sekretaris barunya yang genit mulai berani menggoda dan mencari-cari kesempatan mendapat perhatian darinya.


Tapi usaha Yuanita yang makin gencar, belum juga membuahkan hasil, bahkan sang direktur dengan tegas menolak dan memberi peringatan pada wanita penggoda itu. Seperti kejadian siang tadi.


"Pak Yunan, ini ada beberapa berkas yang harus segera ditandatangani." Ucap Yuanita sambil menyerahkan tumpukan map ke meja Yunan.


"Ya. Taruh saja di meja. Aku akan memeriksa dan segera tanda tangan." Jawab Yunan dengan tegas.


Tapi Yuanita tak beranjak dari tempat berdirinya. Ia malah mulai pasang senyum nakal ke arah Yunan. Ia menjatuhkan pulpen yang dipegangnya dengan sengaja, entah apa yang ada dalam pikiran wanita penggoda itu.


Setelah pulpen dijatuhkan, ia melirik ke arah Yunan dan tak segera mengambilnya. "Maaf, Pak. Apa bisa diambilkan pulpen saya yang jatuh di dekat kakinya pak Yunan?"


Yunan sedikit menoleh, ia tak segera mengambilkan pulpen itu. Bagaimana ia melakukannya, sedang posisi Yuanita berada di dekatnya dengan rok span ketat diatas lutut. Tentu bisa menimbulkan pandangan tak nyaman pada mata lelaki normal.


Yuanita sengaja seperti itu, ia ingin menjerat lelaki tampan yang sedang berdua saja di ruangan itu dengan segala cara.


"Ooo... silahkan ambil sendiri." Jawab Yunan sambil berdiri dari duduknya dan menjauh sementara dari sang sekretaris.


"I... iya, Pak." Sahut Yuanita singkat dengan muka langsung di tekuk. Harapannya kini musnah, yang ada dia malah mendapat teguran dari sang direktur.


Setelah itu Yunan kembali duduk, dan segera memeriksa beberapa berkas yang ada di mejanya. Dirasa cukup, lelaki tampan itu membubuhkan tanda tangan yang diperlukan di sana.

__ADS_1


Yuanita hanya bisa berdiri dan tertunduk malu. Ia merasa kesal dengan sambutan Yunan yang tak sesuai harapannya.


"Ini berkasnya. Segera kembali ke ruangan mu. Dan sudah berulang kali aku sarankan. Pakailah pakaian yang sopan! Jangan terlalu pendek dan ketat!" Ucap Yunan tanpa basa-basi.


"Iya, Pak. Saya kembali ke ruangan." Pamit Yuanita dengan lirih. Lalu ia membalikkan badan dan segera meninggalkan ruangan direktur dengan muka masam.


'Dasar lelaki nggak normal. Ganteng, tajir, tapi sayang dia nggak asyik. Kurang apalagi aku ini? Siapa pun yang ku mau bisa ku dapatkan. Hmm... Yunan belum tau, aku akan menggodanya sampai dapat.' Gerutu Yuanita yang tak puas dengan kenyataan yang terjadi.


Sekretaris cantik nan centil itu tak bisa menggoyahkan keteguhan hati direkturnya. Bahkan teguran keras yang menampar penampilannya.


'Hmm... Yuanita sudah beberapa kali menggodaku, maaf ya... aku sudah punya istri yang lebih cantik dan lebih segalanya dari kamu. Istriku Alma wanita terhormat, nggak murahan seperti Yuanita.' Yunan berbisik dalam hati. Ia sebenarnya kurang suka dengan penampilan sekretarisnya yang terlalu minim dalam berpakaian, tapi kalau di lihat dari kecekatan kerjanya, Yuanita terbilang mumpuni dan disiplin. Dengan alasan itu, Yunan masih punya alasan untuk mempertahankan dia menjadi sekretarisnya.


"Assalamu'alaikum, " sapa Yunan ketika masuk ke teras depan rumah.


"Waalaikum salam," Jawab Angga dan Tiara yang sedang ngobrol di sana. Sudah menjadi kebiasaan keduanya suka menghabiskan waktu sore, duduk di taman depan rumah yang nampak hijau oleh rumput manila dan berbagai macam bonsai.


Tanpa di kasih aba-aba keduanya beranjak dari duduknya, lalu gegas mencium punggung telapak tangan kanan Yunan dengan takzim. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Angga dan Tiara, menghormati dan menghargai kedua orang tuanya di mulai dengan hal-hal sederhana.


Lalu Yunan melanjutkan langkahnya masuk ke rumah untuk segera melepas penat setelah bekerja seharian.


"Iya, Sayang." Sahut Yunan dengan sapaan yang membuat hati wanita di depannya makin mencintainya.


Tak lupa, Alma mencium punggung telapak tangan kanan suami dengan penuh takzim.


"Mau dibuatkan kopi atau teh, Mas?" tanya Alma.


"Teh saja, Sayang. Aku mau mandi dulu. Badan lengket-lengket nggak enak kalo mau peluk kamu, Sayang." Pamit Yunan sembari masuk kamar.


Alma segera menyiapkan teh hangat kesukaan suaminya, dengan di temani muffin blueberry buatannya.


Lima belas menit kemudian, Yunan sudah nampak segar dan segera duduk di teras depan bersama Angga dan Tiara.

__ADS_1


"Wah... ada teh hangat nih," ucap suami Alma dengan senyumnya yang merekah. Dengan menempatkan pantatnya di kursi rotan, ia segera mengambil secangkir teh hangat di meja.


"Mas, coba cicipi muffin buatan ku! Kalau nggak enak, bilang enak aja ya. He he..." kata Alma. Alma juga menawarkan pada kedua anaknya, " Angga, Tiara. Ini mama buat muffin bluberry. Cobain ya, pasti enak!"


Lalu keduanya segera mendekati meja taman dan mencicipi kue buatan mamanya.


"Hmm... enak sekali, Ma. Masakan mama selalu enak," ucap Angga setelah menyomot muffin di tangannya.


"Iya dong... siapa dulu papanya?" Kelakar Yunan sambil melirik ke arah Alma.


"Lho... ngapain papa ikutan? Emang papa bantu buat kue apa??" tanya Tiara heran.


"Kan papa yang nyeponsori, gimana sih?!" sahut Yunan dengan santai.


Mereka akhirnya tertawa mendengar ucapan Yunan yang asal-asalan tapi bikin suasana hangat dan menyenangkan.


"Oh ya, Mas. Mulai senin, aku dapat tugas diklat ke Malang. Kemarin aku dan empat kepala sekolah yang lain di kasih mandat diklat di sana selama tiga hari." Ucap Alma.


"Hmm... Iya, Sayang. Semoga diklatnya lancar dan mendapat ilmu yang manfaat. Tapi, kalo kamu di sana, siapa yang buat muffin lagi kayak gini?" celetuk Yunan.


Alma tersenyum manis mendengar ucapan suaminya. "Kan cuma tiga hari, Mas. Setelah itu tak buatin muffin lagi deh. Apa nggak bosen tuh, makan muffin tiap hari?" tanya Alma.


"Kalo yang masak bu Alma, aku nggak akan pernah bosan." Jawab Yunan sambil memandang wajah istrinya yang tertunduk malu setelah mendapat pujian dari suaminya.


Beruntung sekali Alma sekarang mendapatkan suami Yunan, lelaki ini selalu berusaha menyenangkan hati istrinya, salah satunya dengan cara memberi pujian. Hal yang kelihatan sepele ini, sering diabaikan oleh para suami dalam kehidupan nyata. Entah karena ego atau karena para suami tak tahu manfaat yang begitu besar pada jiwa sang istri.


Diantaranya membuat isteri merasa dihargai, menyalurkan motivasi, meningkatkan keharmonisan dan membuat suasana hati istri menjadi lebih baik.


***


BERSAMBUNG... 

__ADS_1


Jangan lupa like, komen & votenya ya... 


Makasih banyak❣️❣️❣️


__ADS_2