
Dalam suatu penciptaan ikatan ada tantangan dan cobaan yang membuat sebuah ikatan itu lebih berwarna dan indah, karena dari cobaan itu akan terdapat suatu rahmat yang nikmat.
“Sofia, apa benar kamu menerima lamaran tadi?” tanya Nenek yang datang ke rumah, ya rumah orang tua Mama Sofia hanya berada di samping rumah Sofia, jadi Nenek pasti akan mengetahui apapun kejadian di rumah Sofia
“ ya Nek dan kata Ayah akan di bicarakan lagi nantinya” ucap Sofia yang duduk di ruang tamu di ikuti NeneKnya
“ya baguslah, kalau kamu menyukainya dan dia juga menyukaimu itu hal yang baik” ucap Nenek seraya berdiri menuju kearah Fatur cucu kesayangannya.
“ ya Nek, do’akan saja yang terbaik buat Sofia” ucap Sofia tersenyum kearah Neneknya
“ya itu pasti, jangan lupa menghubungi keluarga yang lain pastikan waktunya” ucap Nenek yang duduk kembali
“ ya buk, saya juga sudah menghubungi keluarga yang lain dan tinggal buat kesepakatan dengan keluar laki-lakinya saja lagi” ucap Ayah Sofia yang kemudian ikut duduk
“nanti biar Sofia yang beritahu sama Kak Ardyan, bagaimana keputusannya?” ucap Sofia
“ lebih cepat, lebih baik Sofia, agar berjalan dengan baik nantinya” ucap Mama Sofia yang ikut duduk
“ baik Ma” ucap Sofia hanya bisa menganggukkan kepala
“allahu akbarrullahu akbar” terdengar suara azan isya yang mengisyaratkan bahwa sudah masuk shalat
“sudah kita shalat dulu” ucap Ayah yang berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu shalat berjama’ah
Selesai shalat
“Ma, Yah Sofia ke kemar dulu” ucap Sofia yang lantas naik ke kamarnya dibalas dengan anggukan oleh orang tuanya
Di kamar
“huff lelah.. nya…” ucap Sofia yang kemudian merebahkan badannya, meraih ponselnya yang sudah terisi penuh.
“ahhh… ada panggilan tak terjawab,hahah….harus gimana nih?” ucap Sofia yang kemudian hanya tertawa sedikit akan rasa bersalah lalu mulai mengetik pesan
Pesan
Sofia
“ kak maaf, tadi ponsel sedang di isi baterai, jadi nggak ada memegang ponsel”
^^^Ardyan ^^^
__ADS_1
^^^“ ooo nggak pa-pa, lagi ngapain?” ^^^
Sofia
“beneran nggak pa-pa kak?”
^^^Ardyan ^^^
^^^“beneran nggak pa-pa sayang”^^^
Sofia
“balik lagi gilanya”
Sofia sudah terbiasa dengan sikap Ardyan yang blak-blakan, kadang bercandaan, dia gampang bergaul orangnya dan juga akan gombalin semua cewek yang dia kenal, itu cuman bercanda bukan beneran loh
Ardyan
“ hahaha.. maaf, Sofia bisa telponan
”
^^^Sofia ^^^
Belum sampai Sofia mengirimkan pesannya, Ardyan sudah memanggil duluan
“ benar benar nih anak” ucap Sofia yang kemudian mengangkat telfon dari Ardyan.
“assalamualaikum calon istriku” ucap Ardyan dari telepon terdengar suara lembut dan hangatnya
“ wa’alaikumussalam calon suami ku, hahahahah…. Lebay” ucap Sofia yang tertawa akan perkataan Ardyan dan dirinya
Di kamar Fira
“aduh sudah mulai tuh kakak yang satu cengengesan” ucap Fira yang kemudian bangkit dari tidur seraya membuka kamarnya yang lantas kaget melihat Rina yang ternyata juga merasakan hal sama dengannya
“ kak..” ucap Rina memberikan isyarat ntah apa maksud isyaratnya itu, mereka mengendap-endap seraya membuka pintu kamar kakaknya yang belum menyadari akan kehadiran adiknya yang sudah memperhatikannya dari pintu kamar
“hahahaah…jangan aneh-aneh kak, ntar kualat” ucap Sofia yang entah apa yang dibicarakan dengan ardyan, membalikkan badannya yang seketika menghadap kearah pintu masuk
“ yaaaa… jangan kayak hantu, emang sulit ya buat ketok pintu dulu sebelum masuk?” ucap Sofia yang reflek bangun dari tempat tidur dan sedikit teriak kaget akan perbuatan adiknya yang hanya menampakkan kepalanya
__ADS_1
“hahahahahahaha…” mereka berdua tertawa puas melihat ekspresi kakak tertuanya itu
“ ada apa Sofia??,kenapa sampai berteriak begitu?” tanya Ardyan dari ponsel
“ahhhh… tau ah.. tuh adek yang gak ada kerjaan” ucap Sofia kesel cemberut
“ maaf kak, jangan marah nanti keriput” ucap Rina yang masih dengan tawaan nya
“kak Sofia garang amat ya, kayak kak ros serem!!”ucap Fira yang kemudian kembali ke kamarnya masing-masing.
“halo kak, masih di situ?” ucap Sofia yang kembali meletakkan ponselnya kembali ke telinganya
“ masih di hatimu kok..” ucap Ardyan gombal
“ kak tunggu sebentar, Sofia mau ke WC dulu” ucap Sofia
“mau ngapain?” ucap Ardyan penasaran
“ mau muntah dengerin gombalan kakak” ucap Sofia datar
“ tega amat sih “ ucap Ardyan sedikit sedih, namun dia sudah terbiasa dengan sikap Sofia, orangnya tidak suka hal yang lebay, dia suka yang biasa-biasa saja, sederhana dan dia akan bicara kalau dia tak menyukai sesuatu secara langsung tanpa dari belakang.
“sekali lagi maaf ya Sofia” ucap Ardyan dengan nada sedih dengan posisi berbaring di kasurnya juga
“ hahaha..maaf buat apa kak?”ucap Sofia yang bingung atas permintaan maaf Ardyan kepadanya
“soal tadi siang” ucap Ardyan menjelaskan atas sebab apa dia meminta maaf
“ sudahlah jangan minta maaf lagi kak, yang berlalu biarlah berlalu” ucap Sofia yang tak tega mendengar suara Ardyan yang sedih
“kamu benar” ucap Ardyan
“oh ya kak, kapan keluarga kakak bisa ke rumah lagi, kalau keluarga kakak pasti akan datang, maka keluarga sofia akan mengikut saja” ucap Sofia teringat perkataan ayahnya
“ hhmm.. nanti kakak bicarakan, sekarang sudah malam” ucap Ardyan yang mulai membicarakan hal-hal apa yang terjadi seharian ini
“Sofia…Sofia” panggil Ardyan yang tak di jawab oleh Sofia
“ apa dia ketiduran ya? hhmm ya sih, sudah jam 11 malam” batin Ardyan tersenyum dengan keadaan Sofia yang sudah tertidur di seberang sana, dia bahagia walaupun hanya berbicara dengan Sofia lewat telfon sampai tertidur
“ haahh…,beneran sudah tidur ya, baiklah” ucap Ardyan yang masih setia meletakkan ponsel di telinganya
__ADS_1
“Sofia kamu harus tahu, kamu bukan hanya sekedar pelampiasan atas sahabatmu yang meninggalkanku, itu tak benar, karena saat aku dan sahabatmu tak ada lagi hubungan, kamu yang datang dan hadir seperti cahaya hangat dan lembut, mengisi hati dan keseharian ku dan itu berbeda dengan sahabatmu lakukan, dia tak berbagi denganku tak terus terang dan terbuka, seperti tak saling kenal padahal kami berhubungan, tapi tidak dengan mu, aku merasakan, jadi diriku sendiri, kamu terbuka begitu dengan ku, apa adanya, saat ku membutuhkan seseorang kamu yang datang bukan dia, membuat ku mengerti dengan mu, membuatku mengenalmu dan sebaliknya dan itu adalah hal yang luar biasa, jadi aku menyayangimu karena dirimu bukan karena yang lain” ucap ardyan yang berusaha membuka hatinya dengan mengatakan hal tadi membuat hatinya lega, walaupun Sofia tak mendengarnya, namun ponsel Sofia ternyata merekan pembicaraan lewat telfon tersebut.
“hah.. sepertinya aku harus lebih berani mengungkapkannya secara langsung, selamat tidur Sofia, semoga mimpi indah, assalamu’alaikum” ucap Ardyan yang menutup ponselnya terlentang di atas kasurnya, merenungkan kejadian tadi sambil tersenyum lalu tertidur dengan lelap.