Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 36


__ADS_3

"Apa anda akan berangkat sekarang Tuan?" tanya Hans yang tak lain adalah asisten pribadi Damian.


"Tentu saja aku akan berangkat sekarang! mau kapan lagi!" jawab Damian merapikan kemejanya yang terlihat berantakan. Ternyata seperti ini jika melakukan apapun sendiri tanpa seorang istri, batinnya.


Damian menghela nafas kasar saat mendengar ucapan Hans.


"Bukankah acaranya pukul tujuh malam Tuan, sedangkan ini masih pukul lima sore," ucap Hans yang masih setia berdiri memperhatikan Damian. "Apa anda berniat menunggu selama satu jam di sana?" tanya Hans.


"Kenapa kau berisik sekali! Aku yang akan datang ke pesta sialan itu, bukan kau!" bentaknya pada Hans. Pria itu langsung kicep mendengar teriakan Damian. Ia memilih diam sebelum tuan nya itu murka.


"Tapi ini seperti bukan anda Tuan, anda terlihat sangat bersemangat sekali. Tidak seperti biasanya."


"Ya, karena aku sudah tidak sabar melihat kehancuran keluarga Federick!"


Tok!


Tok!


Hingga terdengar suara ketukan pintu, membuat mereka berdua menoleh bersamaan dan ternyata wanita itu adalah Clara.


Hans langsung pergi dari sana, ia tidak mau menganggu mereka berdua. terlebih lagi, Clara seakann ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Damian.

__ADS_1


"Ada apa Nyo em maksudku Ma? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Damian memakai dasinya yang baru saja ia ambil dari lemari.


"Bukan begitu caranya Damian." Clara mengambil alih dasi terebut dan mulai memakaikannya pada Damian.


"Tidak Ma, aku bisa melakukannya sendiri," tolak Damian. Karena biasanya dia akan menyuruh pelayan untuk memakaikannya. Jujur saja sampai sekarang Damian tidak bisa memakai dasi.


"Diam lah, kenapa kau ngeyel sekali seperti Rein--" Clara tidak melanjutkan kalimatnya dan menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Maaf sayang," lirih Clara.


"Apa kau merindukannya, Mom?" tanya Damian mengusap air mata Clara yang barus aja menetes di pipinya.


Sungguh ia benci berada dalam situasi seperti ini, apalagi saat melihat seorang wanita menangis.


"Aku sangat merindukannya. Tapi aku sadar kalau aku tidak bisa menemuinya," jawab Clara.


"Pesta?" tanya Clara bingung.


"Hans, suruh para pelayan untuk mendadani Mama secantik mungkin karena dia akan ikut serta bersamaku!" perintahnya pada Hans.


"Baik, Tuan."


Hans segera membawa Clara pergi dari sana. Wanita itu hanya bisa menurut tanpa berkata apapun lagi demi membalas kebaikan Damian padanya selama ini.

__ADS_1


"Tunggulah William. Aku akan memberimu sebuah kejutan besar malam ini," ucapnya tersenyum menyeringai.


*****


Mereka semua sudah berada di hotel di mana pesta pernikahan William dan Mia diadakan. Tempat itu terlihat begitu mewah dan megah. Sungguh, siapapun pasti akan sangat iri melihatnya.


Rein menggenggam tangan Nayla dan mengalungkannya di lengan kananya. Agar wanita itu tidak lepas dari pengawasannya.


"Kau terlihat cantik malam ini sayang."


"Kau juga sangat tampan Rein," ucap Nayla.


"Kau adalah salah satu wanita yang mengatakan kalau aku tampan selain Mama dan--," ucapan Rein terhenti, ia menarik tangan Nayla dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Dan siapa Rein?"


Rein terdiam tanpa mau menjawab pertanyaan Nayla. Ia tidak thu harus berkata apa saat ini. Sedangkan Nayla mengerutkan dahinya karena semakin penasaran dengan kalimat Rein yang terpotong itu.


"Lupakan saja. Itu tidak penting."


Nayla mengangguk dan mengikuti langkah kaki suaminya yang entah saat ini akan membawanya kemana.

__ADS_1


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Rein." gumamnya lirih seraya menatap punggung Rein yang semakin menjauh.


__ADS_2