Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 57


__ADS_3

Mereka semua sudah berada di depan sebuah ruangan, tepatnya di depan ruang persalinan. Hampir tiga jam, belum ada satu orangpun yang keluar dari ruangan tersebut.


"Rein, Damian. Tenanglah. Semua pasti baik-baik saja. Jangan bertengkar seperti anak kecil!" Clara mencoba memisahkan mereka berdua yang sejak tadi saling adu mulut tanpa ada yang mau mengalah sama sekali.


"Apa kau bisa berhenti mengikuti langkahku, bodoh!" ucap Rein, menatap tajam kakak iparnya tersebut.


Damian tak bergeming dan masih dengan kegiatannya, bolak balik seperti setrikaan dan tanpa sengaja menabrak Reinhard. "Kenapa kau berdiri di sini sialan!"


"Kau yang sejak tadi mengikuti aku! Dan sekarang kau malah menyalahkan ku karena kesalahanmu sendiri!" Rein yang tidak terima sudah bersiap untuk melayangkan pukulan pada Damian, namun Clara sudah melerai mereka terlebih dulu.


"Ck! Aku sedang panik. Nayla ada di dalam dan kau malah terlihat santai. Dasar suami tidak peka!" sindir Damian tersenyum mengejek ke arah Rein.


"Apa kau bilang?! Tidak peka!" bentak Rein. "Apa kau ingin melihatku menangis karena istriku akan melahirkan! Aku juga khawatir tapi tidak lebay sepertimu."


Ya, terjadilah adu mulut yang tidak bisa terelakan lagi. Mark dan Clara hanya bisa menggeleng dan meminta bodyguard untuk menyumpal mulut mereka berdua.


"Apa tidak apa-apa jika seperti ini Nyonya?" tanya Mark pada Clara.


"Ini lebih baik daripada kita terus mendengar ocehan mereka yang tidak berguna sama sekali Mark."


Luna hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Mirip sekali seperti anak kecil yang sedang bertengkar hanya karena rebutan bola. Untung saja, mereka tidak terlibat baku hantam.


"Jika nanti aku yang berada di dalam sana apa kau juga akan khawatir seperti ini, Damian?" tanya Luna seraya mengusap lembut pipi suaminya.


Damian mengangguk tanpa bisa menjawab pertanyaan Luna karena mulutnya tidak bisa bicara. Pasrah mungkin lebih baik karena ia sadar kalau sejak tadi malah memperkeruh suasana.


Hingga tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Membuat mereka semua lega dan bersyukur. Akhirnya yang ditunggu sejak tadi sudah keluar.


"Sebentar lagi mansion kita akan ramai dengan triakan bayi Tuan." Mark menyenggol lengan kakan Rein. Bukanya mendapat senyuman, pria itu malah mendapat tatapan tajam. Segera Mark menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Rein dan juga Damian sebelum menjadi sasaran empuk keduanya.


Pintu ruang persalinan terbuka, beberapa orang keluar dari sana termasuk Nayla yang akan di pindahkan ke ruangan lain.

__ADS_1


"Istriku! Apa dia baik-baik saja?" Rein menghampiri Nayla yang masih memejamkan matanya.


"Tenang saja Tuan. Nyonya hanya tertidur. Dan selamat anda sudah menjadi seorang ayah. Bayinya laki-laki dan lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun," ucap dokter itu sebelum pergi dari sana.


Reinhard meneteskan air mata haru. Ia benar-benar tidak menyangka kalau bayi yang selama ini ingin dia lenyapkan sudah lahir ke dunia dan memiliki jenis kelamin laki-laki seperti keinginannya dulu.


Dan yang paling mengejutkan adalah bayinya tidak cacat seperti yang Nayla katakan sebelumnya. Mungkinkah salah diagnosa? Tidak mungkin 'kan dokter se ceroboh itu?


"Brengsek! Lihat saja aku akan menghabisinya karena sudah membuat istriku tertekan selama ini!" Rein mengepalkan tangannya erat dan hendak pergi.


"Jangan macam-macam atau aku akan membawa keponakanku itu bersamaku Rein!" bisik Damian, ia seakan tahu apa yang sekarang Rein pikirkan. "Nayla lebih membutuhkanmu!"


Rein menghela nafas. Benar ucapan Damian kalau ia memang harus melupakan dokter itu untuk sementara dan fokus pada istrinya.


******


Seorang wanita sedang tertidur dengan begitu lapnya setelah hampir tiga jam berjuang di ruang persalinan. Terdengar suara tangisan bayi yang membuatnya langsung membuka kedua matanya dan menoleh ke samping.


"Sepertinya dia haus."


"Haus?"


"Ya, dia butuh susu Rein. Aku akan memberikannya."


"Susu? Apa kau punya susu sayang?" tanya Rein dengan wajah bingung. Apalagi saat melihat Nayla membuka satu persatu kancing bajunya dan mengeluarkan salah satu gundukan kenyalnya.


"Berhenti!" teriak Rein.


Nayla memutar bola mata malas. pasalnya teriakan Rein membuat bayi mereka kembali menangis karena kaget. "Apalagi Rein! bayi kita haus!"


"Jangan berikan itu padanya!"

__ADS_1


"Lalu, aku harus memberikan apa?! Kalau aku tidak menyusuinya dia akan terus menangis bodoh!" Kesal Nayla. Ia tak habis pikir dengan suaminya, terus menghalanginya agar tidak memberikan asi pada bayinya.


"Tapi itu milikku Ay! Bukan miliknya!"


"Tapi Rein, baby kita lebih membutuhkannya."


"Berikan saja dia jus, asal jangan benda favoritku itu!" Rein hendak merebut bayinya namun, belum sempat ia melakukannya, ia mendapatkan bogeman mentah mendarat di perutnya.


Ya, ulah siapa lagi kalau bukan Damian.


Pria itu terbawa emosi apalagi melihat keponakannya terus menangis karena ulah ayahnya sendiri yang tidak mau mengalah.


"Bagaimana bisa dia memiliki ayah sebodoh dirimu! Dia haus dan kau malah--" Damian tak melanjutkan kalimatnya dan memilih pergi dari sana meninggalkan mereka berdua sebelum emosinya semakin meledak.


Akhirnya Rein mengalah dan membiarkan bayinya menyusu. Setelah tertidur ia memindahkannya ke ranjang bayi, lalu merebahkan tubuhnya di samping Nayla, memeluknya dengan erat.


"Maaf dan terima kasih karena sudah memberiku bayi yang tampan dan menggemaskan sepertiku," ucap Rein mengecup bibir Nayla sekilas.


Nayla menjawab dengan anggukan. Lalu membalas pelukan Rein. "Aku juga minta maaf karena sudah membuat mu kesusahan selama ini Rein. Maaf belum bisa menjadi istri yang baik untukmu." tatapan Nayla berubah sendu. Sungguh, ia tidak pernah menyangka selama ini akan menikah dan memiliki bayi dari pria yang sangat ia benci.


"Aku mencintaimu, istriku." Rein kembali memeluk erat Nayla.


"Aku juga mencintaimu, Rein." Nayla membalas pelukan Rein.


Dan inilah kisah cinta mereka, yang awalnya saling membenci dan sekarang keduanya tidak bisa di pisahkan oleh apapun.


 


The End...


Terima kasih sudah membaca novel ku, maaf mungkin tidak sesuai ekspetasi kalian. Sama seperti novel sebelumnya, bab tidak panjang.

__ADS_1


__ADS_2