
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan di sini, hum?" tanya Rein. Ia begitu kaget melihat keributan yang terjadi di depan matanya saat ini.
Dengan cepat, Rein langsung menarik tangan istrinya dan membawa ke dalam pelukannya.
"Maafkan saya, Tuan. Tadi Nona--"
"Hiks, mereka jahat Rein. Mereka tidak mau menuruti kemauan aku! Gimana kalau anak kita ileran?!" keluh Nayla seraya melirik tajam Mark dan Damian bergantian.
Sedangkan Rein, ia melayangkan tatapan tajam membunuh ke arah Damian. Begitu juga dengan Damian, ia melakukan hal sama pada Rein.
"Anak kita? Maksudnya apa Rein?" tanya Clara. "Lalu siapa wanita ini?"
"Dia istriku Ma, Nayla."
Clara terlihat kebingungan. Sejak kapan Rein menikah. Dan bahkan sekarang, ia akan segera memiliki seorang cucu.
Sungguh Clara sangat bahagia, akhirnya Rein menemukan pendamping hidup yang tepat untuknya.
"Halo tante, perkenalkan saya--"
"No tante, tapi Mama sayang." Clara memeluk erat Nayla.
"Mama..." Nayla memejamkan matanya. Menikmati setiap hangat pelukan Clara. Sebuah kehangatan yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1
Damian merasa kesal melihat Nayla dan Clara terlihat begitu akrab. Sedangkan dirinya, seakan sedang di acuhkan begitu saja oleh mereka.
"Aku harus pergi Ma. Ada urusan penting yang harus di selesaikan," pamit Damian. Namun, langkah kakinya terhenti saat Nayla memanggilnya dan meminta Damian untuk tetap tinggal beberapa hari bersamanya.
"Tidak boleh! Michele Morrone harus tetap tinggal di sini!"
"Sayang, kamu lupa dengan ucapan suamimu ini, hum? Untuk tidak dekat-dekat dengan pria lain selain aku!" tegas Rein yang terlihat cemburu pada Damian.
"Tapi anak kita yang mau, bukan aku Rein," ucapnya dengan nada memohon.
"Maaf Nona, aku tidak bisa menuruti kemauan mu."
Nayla menghempaskan tangan Rein dan lebih memilih memeluk Damian. Ya, semua itu ia lakukan bukan karena keinginannya sendiri.
Tidak hanya Rein, Mark juga Clara bingung dengan sikap Nayla yang aneh menurut mereka. Apakah ada wanita ngidam yang ingin memeluk pria lain?
Bugh.
Tiba-tiba saja, satu pukulan keras mendarat di wajah Damian. Pria itu langsung saja mendapat bogeman mentah dari Rein.
"Breng-sek! Berani sekali kau memeluk istriku hah?!"
"Kau yang breng-sek! Bisa-bisanya kau memukulku karena kesalahan istrimu!" sahut Damian tak mau kalah dan memukul wajah Rein.
__ADS_1
Terjadilah adegan di mana keduanya terlibat baku hantam tanpa ada yang mau mengalah sama sekali.
"Mark, cepat pisahkan mereka berdua!" teriak Nayla.
"Untuk yangs atu ini saya tidak berani ikut campur nona. Daripada wajah saja bonyok kena pukulan," jawab Mark.
Ia lebih memilih diam dan hanya memperhatikan mereka berdua. Daripada dirinya menjadi sasaran Rein seperti sebelumnya saat ia sedang melakukan pilihan sulit begini.
"Kenapa di antara mereka berdua terlihat memiliki dendam pribadi?" gumam Mark.
Pria itu mengambil kursi dan cemilan segelas anggur merah yang dibawa oleh pelayan yang lewat di depannya.
"Menggelikan sekali."
"Cukup kalian berdua, hentikan! Atau Mama akan bunuh diri sekarang juga!"
Clara meraih pisau yang ada di meja dan meletakkannya di lehernya. Hingga ujung pisau tersebut hampir saja mengenai kulitnya.
"Tidak Ma, hentikan itu!"
"Jangan lakukan itu Ma! Aku tidak sanggup jika harus kehilangan orangtuaku lagi!" ucap Damian.
"Dia ibuku bodoh!" seru Rein.
__ADS_1
"Terserah kau saja!" ketus Damian memilih pergi dari sana mengikuti Nayla yang sudah terlebih dahulu membawa ibunya jalan-jalan.