Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 44


__ADS_3

Setelah terlibat pertengkaran dengan Damian, Rein segera pulang untuk menemui Nayla. Tapi sebelum itu, ia membersihkan dulu tubuhnya sebelum Nayla bangun.


Tak lupa, ia juga mengeluarkan timah panas yang Damian berikan sebagai hadiah beberapa jam yang lalu. Dengan bermodalkan pisau tajam kesayangannya, Rein merobek lukanya sendiri dan meringis menahan sakit luar biasa akibat sayatan yang ia lakukan.


"Shhh! Damian brengsek! Kenapa malah menyiksaku seperti ini, bukankah lebih baik dia menghabisi ku saja!" gumamnya lirih.


Ternyata apa yang Rein lakukan sejak tadi di kamar mandi mengusik tidur Nayla. Wanita itu terganggu dengan suara rintihan seseorang yang berada di dalam kamar mandi.


"Arghhh!"


"Rein! Apa kau ada di dalam?" ucap Nayla seraya mengetuk pintu kamar mandinya. Membuat Rein kelabakan dan cepat-cepat mengeluarkan peluru tersebut lalu membalut lukanya dengan kain kasa. "Rein, jawab aku!" teriak Nayla.


"Iya sayang, ini aku. Tunggulah sebentar lagi aku akan segera keluar untuk menemui mu," jawab Rein menahan suaranya agar tidak terlihat sedang kesakitan.


Mendengar ada yang aneh dari nada bicara Rein, tentu saja membuat Nayla sangat khawatir. Apalagi, tidak seperti biasanya pria itu pulang larut malam begini.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, aku baik-baik saja!" Rein menghela nafas kasar dengan tubuh yang mengeluarkan banyak keringat. Ia segera memakai piyama tidur panjang untuk menyembunyikan lukanya.


"Dasar kakak ipar kurang ajar! Saat itu memang bukan Luna yang aku sukai, tapi Lala! Cinta pertama dan terakhirku! Tapi bisa-bisanya dia--" kalimat Rin terhenti saat Nayla kembali menggedor kuat pintu kamar mandi, sehingga membuat Rein mau tidak mau membukanya.


Ceklek!


"Ada apa sayang, kenapa kau menggedor pintu kamar mandi begitu kuat. Bagaimana kalau rusak?" tanya rein. Ia melewati Nayla begitu saja.


Namun, Nayla hanya diam dan mengikutinya tanpa bertanya apapun. Bukankah ini berarti Damian belum memberitahukan semuanya pada Nayla?


"Jadi kau lebih mementingkan pintu itu daripada aku yang khawatir dengan keadaanmu?!" ketus nayla memonyongkan bibirnya ke depan. Terlihat menggemaskan sekali di mata Rein.


Untuk sesaat Nayla hampir saja terbuai, tapi ia teringat dengan ucapan Damian yang baru beberapa jam lalu menghubunginya kalau Rein ingin mengatakan sesuatu yang penting.


"Damian bilang kau ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku Rein?" Nayla memicingkan mata curiga, karena gelagat Rein terlihat sangat mencurigakan baginya. "Katakan, kau mau bicara apa padaku."

__ADS_1


Rein menelan salivanya berkali-kali. Haruskah ia mengatakannya sekarang? Atau tetap menyembunyikannya dari Nayla?


"Sebenarnya aku ingin--"


"Tunggu, ini apa?!" Nayla melihat noda darah di piyama berwarna putih milik Rein.


Ya, sepertinya luka tersebut kembali terbuka karena tidak di obati dengan benar. "Kenapa kau suka sekali bermain dengan maut? Apa kau berniat meninggalkanku dan anak kita?" Nayla mendongak dengan mata berkaca-kaca.


"Aku belum siap kehilanganmu Rein," lirih Nayla.


Rein segera menarik Nayla ke dalam pelukannya. Meluapkan perasaan mengganjal yang ada di dalam hatinya selama ini.


"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu Ay! Aku bahkan tidak peduli jantung siapa yang ada padamu. Yang aku tahu, aku mencintaimu. dari dulu sampai sekarang! Kau istriku, calon istri dari anak-anakku!" pelukan Rein semakin erat. Ia meneteskan air matanya dan juga membuang egonya yang tinggi untuk mengakui semuanya pada Nayla.


Deg.

__ADS_1


"Apa maksud ucapan mu? Katakan!" Nayla semakin bingung dan tidak mengerti. "Katakan Rin kenapa kau diam saja! Aku butuh jawaban bukan diam mu!" bentaknya.


Rein menarik nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Bagaimana ia bertemu Nayla dan kenapa Damian memangilnya Lala.


__ADS_2