Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 47


__ADS_3

Nayla keluar dari rumah sakit dengan wajah yang mulai memucat akibat benturan di kepalanya. Dengan butiran bening yang terus menetes, wanita itu berjalan menundukkan kepalanya.


Bukan sakit akibat ulah Mia yang kasar padanya, melainkan ucapan dokter Sam mengenai bayinya.


"Maafkan Mommy sayang. Apapun yang terjadi Mommy akan terus bersamamu," ucap Nayla seraya mengusap perut buncitnya.


Sedangkan dari kejauhan, seorang pria sedang memperhatikan apa yang Nayla lakukan. Tatapan pria itu terfokus pada wanita tersebut tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Rainer brengsek! Dia memang tidak becus sama sekali menjaga adikku! Lihatlah, bahkan dia membuat gadis kecilku sampai menangis seperti itu! Pergi ke rumah sakit sendirian dan pulang tanpa ada yang mengawasinya!" kesal Damian. Ia mengepalkan tangannya dengan erat lalu berniat untuk menghampiri Nayla.


Namun langkah kakinya terhenti saat asisten pribadinya mengatakan sesuatu yang membuatnya terdiam. "Anda sudah berjanji tidak akan ikut campur dengan masalah nona muda Tuan. jadi lebih baik pikirkan sekali lagi dan jangan membuatnya kecewa," jelasnya.


Damian menghela nafas kasar dan kembali duduk. Mungkin ucapan Boby memang ada benarnya. Daripada dia mengingkari janji yang sudah diucapkan lebih baik mengawasinya dari jauh. Jika terjadi sesuatu, barulah Damian bertindak.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" teriak Nayla saat ada seorang pria yang menarik tangannya dan hampir melecehkan wanita tersebut.


"Woah Nona cantik, untuk apa kau berada di sini malam-malam? Apa kau sedang mangkal dan mencari uang tambahan? Jika ya, bisakah aku menemani mu, hum?" pria dengan kepala botak, pendek dan gemuk itu masih saja menggoda Nayla. Tanpa ia tahu apa yang terjadi jika pawangnya datang.


"Apa kau tuli! Kubilang lepaskan aku!" Nayla terus memberontak. Tapi cengkraman pria tersebut malah semakin kuat. Membuat wanita itu hanya bisa meringis karena kesakitan.


"Jangan harap aku akan melepaskan mu begitu saja Nona! Tidak akan pernah!" ucap pria tersebut. "Kau akan jadi santapan makan malam ku yang paling lezat dan enak!"


Kalimat yang baru saja keluar dari bibir pria itu membuat Nayla merinding seketika. Ia semakin memberontak bahkan ingin sekali memukul wajahnya.


"Lepaskan, menjauh lah dariku sialan! Dasar gendut, kau bau!" teriak Nayla saat pria berbadan gemuk dan sedikit mabuk itu hendak mencium bibirnya.


Di dalam hati, Nayla terus menyebut nama Rein. Berharap kalau saat ini pria itu ada bersamanya. Sungguh ada sedikit rasa menyesal karena ia tidak berani mengatakan apapun pada suaminya dan memilih untuk memendam semuanya sendirian.

__ADS_1


Bugh.


Tiba-tiba saja satu pukulan dari seseorang berhasil membuat pria gemuk tersebut langsung jatuh tersungkur ke lantai.


"Berani kau menyentuhnya sekali lagi, bersiaplah untuk menerima hukumanku bede-bah sialan!" teriakan penuh amarah dan luapan emosi keluar begitu saja dari bibir Reinhard, yang tidak terima saat istrinya di lecehkan oleh pria lain.


"Rein..." lirihnya. Nayla menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh haru. Ternyata pria yang ia harapkan kehadirannya datang. Mungkinkah Rein tahu jika dirinya pergi ke rumah sakit dan mengikutinya?


"Tutup matamu, sayang." Rein menarik Nayla agar bersembunyi di belakangnya. Lalu mengeluarkan sebuah pisau tajam miliknya.


Sret.


"Arghh! Tanganku!" pekik pria tersebut saat Rein memotong salah satu jari tangan pria tersebut tanpa rasa kasihan sama sekali.

__ADS_1


"Itu belum seberapa, lihat yang akan aku lakukan padamu setelah ini!" Rein menyeringai ngeri, membuat pria tersebut ketakutan dan menelan saliva dengan susah payah.


__ADS_2