
Nayla yang kesal langsung meninggalkan Rein begitu saja keluar dari mansion milik Damian. Hatinya panas melihat sang suami dipeluk oleh wanita lain.
Dan yang membuat Nayla kesal adalah Rein yang diam tanpa menolak pelukan wanita itu.
"Bodoh! Kenapa kau malah kabur Nay. Dia suamiku, seharusnya wanita itulah yang menjauh darinya!" umpat Nayla pada diri sendiri. Ia menyesal karena tidak berpikir dulu sebelum bertindak.
Drtt, Drrt!
Getaran ponsel dari dalam tasnya mengalihkan fokus Nayla. Apalagi saat melihat nomor siapa yang menghubunginya saat ini.
"Ya, hallo."
"......"
"Lakukan saja sekarang. Siapkan semuanya jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun!" Nayla mematikan sambungan teleponnya, lalu berniat masuk lagi ke dalam. Bagaimanapun juga, ia harus menjauhkan Rein dari wanita yang mengaku bernama Luna tersebut.
"Sepertinya wanita itu minta di garuk dengan ini!" Nayla menyeringai tipis dan memasukkan kembali pisau lipat itu ke dalam clutch bag nya.
"Mphhh!" langkahnya terhenti saat seseorang tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya dengan sebuah sapu tangan. Membuat pandangannya berubah gelap. Tak lama setelah itu Nayla pingsan.
Seseorang tersebut segera membawa Nayla pergi dari sana sebelum ada yang memergokinya.
"Shitt! Cepat sekali dia menghilang Mark! Padahal tadi aku melihatnya ke arah sini," Rein mengusap rahangnya, ia menyesal karena sudah terbuai oleh ucapan Luna dan mengabaikan Nayla begitu saja.
"Maaf tuan, saya terlambat datang. Tadi, saat saya menuju kemari ada beberapa orang yang menghadang." Mark mengatur nafasnya yang naik turun.
"Kau menghabisi mereka?" tanya Rein. Sepertinya, pria itu baru saja bermain tembak-tembakan. Terlihat bekas noda darah yang tertinggal di kemeja putihnya.
__ADS_1
"Tentu saja Tuan. Saya menyisakan satu tikus kecil utuk di interogasi dan setelah itu anda bisa bermain-main dengannya," ucap Mark memberikan sebuah belati pada Rein. "Seharusnya anda sudah tahu 'kan siapa pelakunya, Tuan?"
Rein menyeringai ngeri lalu mengajak Mark pergi dari sana sebelum semuanya terlambat dan dia kehilangan Nayla. "Temukan istriku dalam keadaan selamat dan tidak tergores sedikitpun Mark!" perintah Rein pada Mark dan langsung di angguki pria itu.
*******
Dan di sinilah Nayla tengah berada. Di sebuah ruangan gelap dan kotor dengan sedikit pencahayaan.
Kaki dan tangan Nayla di ikat di sebuah kursi, sedangkan wanita itu dalam keadaan belum sadarkan diri akibat efek dari obat bius.
"Apa dia masih belum sadarkan diri, sayang?" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Mia. Ia duduk di pangkuan seorang pria yang ada di hadapannya.
"Seperti yang kau lihat, Mia. Dia masih pingsan dan belum sadarkan diri. Apa perlu kita membangunkannya dengan paksa?" ucap Leon.
Ya, dalang di balik penculikan Nayla adalah Mia dan Leon. Mantan kekasih dan juga ibu mertuanya sendiri. Sungguh ironis, cinta membuat keduanya menjadi pendendam seperti ini.
"Bukankah semalam kita berdua sudah melakukannya sampai kau puas, hum?"
"Tidak Leon! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah puas denganmu ahh!" desaah Mia saat Leon meremas gundukan kenyal miliknya lalu melu-mat kasar bibirnya.
"Kau benar-benar tidak tahu diri!" ucap Leon di sela-sela aktifitasnya. Pria itu masih kesal jika mengingat saat ini Mia tengah hamil dan mengandung benih dari pria lain.
Kalau saja dia tidak membutuhkan wanita itu untuk tujuannya, mungkin Leon sudah membuangnya sejak lama.
"Ahh Leon, kau luar biasa sayang!" racau Mia saat rudal Leon masuk ke dalam miliknya.
"Ck! Berhentilah meracau seperti itu! Sejak kapan milikmu jadi cepat basah seperti ini, hum?!" Leon menarik tubuh Mia dan membalik posisinya dengan Mia yang memunggunginya, lalu memasukkan kembali miliknya.
__ADS_1
Dengan sekali hentakan benda tersebut berhasil masuk. Leon menghentakkan miliknya semakin cepat seiring suara lenguhan dan desa-han yang saling bersahutan menggema, memenuhi tempat itu.
Nayla membuka matanya perlahan saat mendengar suara menjijikkan dari kedua manusia lak-nat tersebut.
"Kalian!" pekik Nayla tak percaya melihat apa yang ada di depan matanya saat ini. "Lepaskan aku!"
"Ahh Leon percepat sayang!" tanpa rasa malu Mia melakukan percintaan panas di depan wajah Nayla. Sungguh tidak tahu diri sama sekali.
"Ya! Seperti keinginanmu!" Leon kembali menghentakkan miliknya, membuat Mia seakan melayang dibuatnya. Hingga tak lama setelah itu keduanya mencapai kepuasan bersama.
"Aku menyesal pernah mencintai pria sepertimu, Leon!" Nayla memalingkan wajahnya. Kenapa dia harus melihat adegan seperti ini di depan mata.
Setelah merapikan celananya, Leon mendekati Nayla. Mengamati wajah cantiknya, wajah yang selama ini membuatnya tidak bisa lupa dan terus menjadikan Nayla fantasi liarnya saat bercinta dengan banyak wanita.
"Tapi tidak denganku, honey. Aku masih sangat mencintaimu meski saat ini kau sudah menjadi istri kakakku." Leon mengusap lembut paha Nayla yang putih sebening susu itu dengan air liur yang hampir menetes.
"Cuih! Menjauh lah dariku brengsek!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Nayla. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Mia. "Kau akan mati jadi jangan sok jual mahal pada kekasihku Nayla!"
Nayla terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari bibir Mia. "Kekasih kau bilang? Wanita murahan dan penghianat seperti kalian memang sangat cocok!"
Dugh!
"Arghh!" Nayla kembali mendapatkan sebuah pukulan dari Mia, dan kali ini tepat mengenai perutnya. "Apa yang kau lakukan Mia, kau bisa membunuhnya!" teriaknya dengan wajah pucat menahan sakit luar biasa.
__ADS_1
"Sudah cukup kita bermain-main! Saatnya menuju ke menu utama hari ini!" Mia mengambil satu gelas air, dimana air tersebut sudah tercampur dengan ramuan penggugur kandungan. "Aku akan membantumu mempercepat kematian bayi yang ada di dalam kandungan mu, Nayla!"