Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 38


__ADS_3

Sedangkan di luar aula pernikahan, Nayla sedang duduk dan menangis di taman. Ia kesal pada Rein yang tidak mau menuruti kemauannya untuk mencium bibirnya.


Sungguh aneh bukan permintaan ibu hamil satu ini?


"Dasar pria menyebalkan. Padahal aku mau kiss. Tapi kenapa dia malah menolaknya! Istri ingin dimanja tapi tidak peka!" Nayla menoleh ke arah kanan dan kiri. Berharap kalau Rein akan menyusulnya. Namun, tidak sama sekali.


"Dia bahkan tidak menyusul ku kemari!" menghapus air matanya. "Aku membencimu Reinhard!"


Srot!


Ingus Nayla keluar, ia bingung harus memakai apa untuk membersihkannya karena gadis itu sama sekali tidak membawa tisu.


"Apa yang kau lakukan di sini, hum? Apa kau tidak takut pada hantu penunggu taman?" tanya seorang pria memberikan saputangan pada Nayla.


Karena Nayla terus asik menatap dirinya, ingusnya semakin keluar. dengan cepat pria itu membersihkannya tanpa rasa jijik.


"Ck! Ingus mu keluar nona manis," ucapnya seraya tersenyum tipis pada Nayla.


Nayla menganga tak percaya, bahkan lirih nya juga ingin keluar melihat ketampanan pria yang ada di hadapannya saat ini.


Cetik!

__ADS_1


Pria tersebut menjentikkan jarinya. Membuyarkan lamunan Nayla. Ia pun langsung tersadar.


"Kau siapa?" tanya Nayla.


"Apa namaku penting untukmu?" pria itu mengedipkan salah satu matanya ke arah Nayla. Sontak membuat pipi Nayla memerah.


"Huwaa, kau tampan sekali. Mirip Michele Morrone yang ada di televisi," teriak histeris Nayla membuat pria itu bingung. Bagaimana ia menyamakannya dengan aktor tersebut. Jelas-jelas dia lebih tampan darinya.


Nyut!


Nayla menarik kedua pipi pria tersebut, hingga membuatnya menahan sakit. "Dasar narsis! Ini sudah malam kenapa kau memakai kaca mata hitam segala sih!" Nayla segera melepas kacamata pria tersebut.


Boy, asisten pribadi pria itu langsung datang hendak menolongnya.


"Oh jadi namamu Damian? Bukan Michele Morrone?" tanya Nayla yang langsung menudukkan wajahnya karena kecewa.


"Tidak asik!" meski kesal ia masih terus menarik pipi Damian hingga memerah padam.


"Astaga, kenapa wanita ini menyebalkan sekali. Mirip si lebah tengil yang selalu menarik pipiku tanpa rasa bersalah sama sekali!" gumamnya namun dalam hati. "Tunggu, tidak mungkin 'kan kalau dia itu Lala?"


Damian melirik Nayla dan memperhatikan wanita itu dari atas ke bawah. Penampilannya sangat berbeda. Tentu saja karena dulu Lala masih sangat kecil saat mereka berpisah.

__ADS_1


"Nona, sebaiknya kita masuk sekarang!" ucap Mark. Ia diperintahkan oleh Rein untuk membawa istrinya.


"Eh tunggu Mark, kenapa aku baru sadar kalau kau mirip sekali dengan Simone Susinna, rival Michele?" tersenyum dengan raut wajah bahagia.


Sret!


Nyut!


"Lepaskan Nona, ini sakit sekali" pekik Mark saat rambut dan hidungnya ditarik kuat oleh Nayla.


"Tidak mau! Aku ingin melihat kalian berdua berciuman dan berpelukan!" pinta Nayla dengan nada memohon. Ia juga mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"What?" pekik mereka berdua bersamaan.


Tentu saja mereka shock mendengar permintaan Nayla yang aneh dan di luar nalar.


"Tidak mau! Kita baru bertemu, kenapa kau meminta sesuatu yang aneh padaku!" bentak Damian. Tentu saja yang ia lakukan membuat Nayla ingin menangis, lihat saja saat ini matanya sudah berkaca-kaca.


"Iya Nona, saya masih normal! Ogah saya peluk-peluk sembarangan!" ucapnya seraya menunjuk Damian.


"Kau pikir aku mau, hah? Tidak sama sekali!" ucap Damian menepis tangan Mark yang dengan berani menunjuk wajahnya.

__ADS_1


"Huwee, kalian jahat hiks..." Nayla terus menangis membuat suasana semakin ricuh karena banyak ramu yang mendekat. Apalagi di dalam sana sedang terjadi keributan besar.


__ADS_2