
"Lepaskan aku Mia, dan cepatlah pergi dari sini karena aku muak melihat wajahmu!" usir William yang sejak tadi masih berdebat dengan wanita itu.
"Tidak akan pernah! Kau sudah berjanji akan menikahi ku, lalu kenapa sekarang kau mengusirku, hah?!" Mia tidak terima dengan perlakuan William yang tiba-tiba saja menyeret tangannya dan berniat mengusirnya dari aula pernikahan.
"Aku hamil, apa kau sama sekali tidak kasihan padaku!" teriak Mia.
"Aku sama sekali tidak peduli!" jawab William menepis tangan Mia begitu saja tanpa mau mendengar apapun lagi yang keluar dari bibirnya.
Sedangkan Clara, ia merasa muak melihat drama pertengkaran mereka berdua. "Mark, usir mereka berdua dari sini, aku tidak ingin melihat wajahnya!"
"Baik Nyonya!"
Tanpa menunggu lama, Mark menyuruh beberapa anak buahnya untuk menyeret Mia dan juga William. Meski keduanya mencoba untuk memberontak, tapi mereka tidak peduli dengan hal itu.
******
"Sayang, tunggu aku! Jangan marah seperti ini." Rein mengejar Nayla yang hendak masuk ke dalam mobil bersama dengan Damian.
"Jangan mengejar ku, Rein. Pergi sana! Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu!" usir Nayla.
Greb.
__ADS_1
Rein menahan Nayla dengan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
"Maafkan aku sayang, aku mencintaimu. Hanya mencintaimu."
"Lalu bagaimana dengan wanita dari masa lalu mu itu? Apa kau juga masih mencintainya Rein?!" tanya Nayla.
Entah darimana Nayla mengetahui tentang masa lalunya yang pernah mencintai wanita lain.
"I-itu hanya masa lalu. Dan kau sekarang adalah masa depanku sayang," pinta Rein dengan nada memohon agar istrinya mau memaafkannya.
"Jika kau saja masih belum bisa melupakan masa lalu mu, untuk apa ingin membuka lembaran baru bersama denganku Rein! Aku tidak mau menjadi bayang-bayang kalian berdua dan--"
"Tapi kau memang cinta pertama ku Lala! Hanya kau, bukan dia!" Rein mencoba meyakinkan Nayla agar tidak terpengaruh dengan ucapan Damian. Karena Rein yakin, semua yang Nayla ketahui sekarang karena ulahnya.
"Apa kau sama sekali tidak mengingat siapa dirimu sayang?"
Nayla semakin bingung, sebenarnya apa maksud arah dan pembicaraan Reinhard.
"Tentu saja aku ingat kalau aku itu Nayla, bukan Lala! Menyebalkan sekali!"
"Bagaimana cara menjelaskan padamu supaya kau mengerti!" Rein hendak mengangkat tangannya, karena sudah mulai kesal dengan sikap Nayla yang kembali keras kepala dan tidak mau mendengar penjelasannya sama sekali.
__ADS_1
Untung saja saat ini di sana tidak ada siapapun yang melihat pertengkaran mereka. Bisa dipastikan wajahnya dan juga Nayla akan masuk surat kabar besok pagi.
"Jangan pernah berani menyakiti adikku dengan tangan kotor mu itu Rein!" ucap seorang pria yang tak lain adalah Damian.
Ya, dia sudah mengetahui kalau Nayla adalah adik kandungnya setelah blum lama tadi salah satu anak buah Damian memberinya sebuah informasi mengenai Nayla.
"Kau!"
"Jadi selama ini kau yang sudah menyembunyikan adikku? Sekian lama aku mencarinya, ternyata ada di depan mata. Pantas saja saat bertemu dengannya aku merasa kalau dia mirip sekali dengan Lala!" Damian berdiri tepat di hadapan Nayla dan membelakanginya. "Atau jangan-jangan selama ini kau juga yang sudah menyembunyikan kedua orangtuaku, hum?"
Deg.
Rein mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal. Bagaimana bisa Damian mengetahui itu semua. Padahal ia sendiri tidak bermaksud melakukan itu. Karena Rein mengira kalau Damian lah yang sudah mencelakai Clara, ibunya.
"Jawab breng-sek! Kenapa kau diam saja, hah?! Saat kecelakaan itu terjadi, hanya ada Lala dan juga mereka berdua!"
"Sebenarnya aku--"
Brugh.
Nayla yang sejak tadi sudah tidak enak badan ditambah mendengar pembicaraan mereka yang membuat kepalanya pusing, akhirnya pingsan dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Nayla!" ucap Rein dan Damian bersamaan.