
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Usia kandungan Nayla sat ini sudah memasuki bulan ke sembilan. Ya, setelah kejadian dimana Mia menculiknya dan membuat Nayla masuk ke rumah sakit, bayi nya selamat.
Hanya saja, Nayla harus istirahat total selama dua bulan penuh tanpa melakukan apapun demi kesehatannya agar segera pulih kembali.
Saking posesifnya, Rein tidak pernah mengijinkan Nayla pergi kemanapun sendirian tanpa dirinya. Nayla bukannya senang, malah kesal dengan larangan-larangan yang selalu pria itu ucapkan.
"Kau mau kemana sayang, tetaplah di sana dan jangan bergerak sedikitpun!" Rein menghampiri Nayla dan memapahnya kembali ke tempat tidur.
"Aku hanya ingin mengambil air minum Rein." Nayla mendengus kesal, bagaimana dirinya bisa sembuh kalau setiap haris terus berada di dalam kamar tanpa di ijinkan keluar sama sekali.
"Kau haus?" Nayla mengangguk, sedangkan Rein dengan cepat meraih gelas air yang berada di sampingnya dan memberikannya pada wanita itu.
"Aku lapar," ucap Nayla.
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana karena aku sudah menyiapkan makanan pagi untukmu!" titah Rein, pria itu langsung menuju ke dapur tanpa menghiraukan teriakan sang istri.
Nayla mencebik kesal, "Di benar-benar memperlakukan aku seperti orang sakit!"
Wanita itu merebahkan tubuhnya dan miring ke samping kanan lalu memejamkan matanya. Baginya, mungkin akan lebih baik seperti ini daripada kembali beradu mulu dengan suaminya.
__ADS_1
******
"Tuan, perhatikan jalan anda. Kenapa buru-buru sekali. Kalau anda jatuh pasti saya yang kena getahnya!" gerutu Mark. Tentu saja ia akan selalu jadi sasaran kemarahan seorang Reinhard. "Apa terjadi sesuatu pada nyonya Tuan?"
Rein menghentikan langkahnya lalu berbalik, menatap tajam ke arah Mark. "Tidak. Dia baik-baik saja. Kenapa kau terlihat khawatir padanya? Dia istriku jadi hanya aku yang berhak khawatir!" ketusnya.
'Dasar pecemburu! Aku hanya bertanya kenapa dia jadi nerocos panjang lebar begini' gumam mark namun hanya dalam hati.
"Begini Tuan, hari ini pukul sembilan kita ada meeting penting dengan seorang klien. Dan sekarang sudah pukul delapan seperempat," jelas Mark, mengusap keningnya yang berkeringat.
"Lalu?"
"Istriku lebih penting daripada uang itu Mark! Lagipula aku tidak akan jatuh miskin karena kehilangan secuil aset!" potong Rein. Pria itu menunjukkan senyum mengerikannya saat ini. Membuat Mark merinding karena nya.
"Tapi Tuan, kita tidak mungkin membatalkannya begitu saja. Kerja sama yang dia tawarkan sangat fantastis. Apalagi setelah anda memutuskan untuk tidak lagi bergelut di dunia hitam." Mark mencoba meyakinkan Rein. Sebelum pria yang akan menjadi rekan bisnisnya benar-benar akan membatalkan kerja sama tersebut.
Rein yang mulai kesal merogoh dompetnya dan melempar sebuah black card tepat ke wajah Mark.
"Saya tidak meminta gaji dibayar tunai bulan ini Tuan. Saya hanya--"
__ADS_1
"Pakai untuk berkencan dengan kekasihmu dan jangan banyak bicara!"
"Anda serius memberikan ini untuk saya Tuan?" mulut menganga tak percaya. 'Ini adalah pertama kalinya bagiku memegang kartu black card' ucapnya namun dalam hati.
"Apa wajahku saat ini terlihat bercanda?!"
Mark langsung memeluk erat Rein dengan mulut komat kamit mengucapkan terima kasih padanya. Sungguh pemandangan langka, karena itu tidak terlihat seperti Mark yang biasanya.
"Lepaskan aku bodoh!"
"Terima kasih Tuan. Hanya saja, sayang sekali saya belum memiliki kekasih." raut bahagia Mark tiba-tiba menghilang entah kemana. Berbeda dengan dirinya yang sesaat tadi begitu sumringah.
"Kau pikir aku peduli?!" pria itu mencoba mendorong Mark, namun bukannya menjauh Mark malah semakin mendekatkan wajahnya pada Rein.
"Apa yang mau kau lakukan bodoh!" sentak nya.
"Tentu saja mencium anda Tuan, sebagai tanda terima kasih," jawan Mark tanpa dosa.
"Kau sudah bosan hidup, hah?!" teriak Rein dengan suara bariton yang menggema di seluruh ruangan. Mark langsung kabur begitu mendengar Rein berteriak dan melotot tajam ke arahnya.
__ADS_1