Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 39


__ADS_3

"Clara, kau mash hidup sayang?" William ingin memeluk Clara namun segera di tepis oleh wanita itu.


"Jangan pernah menyentuhku brengsek! Jadi ini penyebab mu selama ini tidak mencari keberadaan ku sama sekali!" teriak Clara. Wanita itu benar-benar kecewa pada William. Pria yang sangat ia cintai ternyata tidak setia seperti yang ia kira.


"Bukan begitu sayang. Aku pikir kau sudah--"


"Mati begitu? Picik sekali pikiranmu William! Kau sengaja melakukan ini semua agar bisa bersama dengannya, bukan?!" Clara menunjuk Mia yang sejak tadi hanya memperhatikan pertengkaran itu.


"Sayang, aku terpaksa melakukan ini semua karena wanita ini sengaja menjebak ku dan--"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi William dan tentu saja pelakunya adalah Mia. Bagaimana bisa ia bilang kalau dirinyalah yang menjebaknya.


"Kau yang merayuku saat di club malam itu William! Jangan lupa aku sudah menolak mu berkali-kali!"


"Berani sekali kau menamparku!" teriak William tak terima. "Pengawal, bawa wanita ini keluar! Bila perlu seret dia!"


"Tidak mau! Kau tega sekali padaku William!"


"Kenapa tidak, kau pantas mendapatkannya!"


Clara tersenyum geli melihat kelakukan mereka berdua. Apa pria itu pikir diirnya masih mau menerimanya kembali setelah apa yang sudah dia lakukan. Tidak!


"Aku hamil William! Aku hamil anakmu!"

__ADS_1


Semua orang yang berada di sana terkejut dan menoleh ke arah mereka berdua. Malu, tentu saja William sangat malu sekarang.


"Hamil? Kau pasti sedang bercanda! Bahkan kita belum melakukannya sama sekali Mia!"


"Cukup! Hentikan drama kalian. Kita akan tetap bercerai William. Sekarang kemasi barang-barang kalian dan pergilah dari sini!" usir Clara.


"Tapi Clara sayang, aku bisa jelaskan semuanya!"


"Sayangnya aku tidak butuh penjelasan mu!" setelah mengatakan itu Clara memilih pergi untuk menemui Rein, putranya.


"Drama yang memuakkan." Rein beranjak dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan Nayla.


Sejak tadi wanita itu sama sekali tidak terlihat. Membuatnya khawatir dan gelisah memikirkannya.


"Rein, apa kau tidak merindukan Mama sayang?" ucap Clara menghampiri Rein yang masih berdiri membelakanginya.


Greb!


Rein memeluk Clara dengan begitu erat. Seakan melepaskan rasa rindu yang selama ini sudah terpendam di hatinya. Sekian lama mencari, akhirnya Clara kembali ke dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu Ma. Sangat!"


"Mama juga sayang. Maaf karena sudah meninggalkanmu saat itu!" ucap Clara. "Apa kau tahu sayang, seseorang menyelamatkan Mama. Dia salah satu keturunan Smith. Damian Smith," imbuh Clara.


Deg!

__ADS_1


Apa Clara bilang tadi, Damian Smith? Mendengar nama marga pria yang sudah menyelamatkan Mamanya membuat Rein kesal.


"Putranya?"


"Iya sayang, Damian!"


Melihat raut wajah Rein yang berubah, Clara menjadi sangat khawatir. Apa yang membuat wajah putranya mendadak pucat. Ataukah dia sakit?


"Kau baik-baik saja 'kan sayang?" tangan Clara.


Rein mengangguk. Namun hatinya terus mengumpat. Bagaimana ini bisa terjadi secara kebetulan? Aneh sekali pikir Rein.


"Ikutlah denganku Ma. Aku akan memperkenalkan istriku padamu," ucap Rein mengusap lembut punggung tangan Clara dan mengecupnya.


"Istri? Jadi kau sudah menikah sayang?" tanya Clara tak percaya. Akhirnya putra kesayangannya sudah menikah setelah sekian lama menyendiri.


"Ya, maka dari itu aku akan membawamu padanya." Rein segera menarik tangan Clara dan membawanya pergi dari tempat itu.


Sedangkan William dan Mia, mereka langsung di usir tanpa uang sepeserpun. Karena semua harta milik Clara atas nama Rein. Jadi dialah yang berhak melakukan apapun saat ini.


"Semua gara-gara kau wanita murahan!" ucap William.


"Dan kau lelaki tua bodoh tidak tahu diri dan juga impoten!" umpat Mia berlalu dari sana meninggalkan William sendirian.


"Tunggu Mia! Kau bilang kau sedang hamil kenapa bilang aku impoten hah?!" William menjambak rambut Mia dan memukul wajahnya. "Dasar jala-ng licik!"

__ADS_1


"Cuih!" Mia meludahi William lalu menendang sesuatu yang ada di sela pahanya.


Membuat pria paruh baya itu merintih kesakitan akibat ulahnya yang bar-bar.


__ADS_2