
Keesokan harinya, Damian sudah berada di meja makan di temani oleh asisten pribadinya Bobby.
Dengan setia Bobby melayani Damian seperti sepasang suami istri yang hubungannya terlihat romantis.
"Sepertinya anda harus segera mencari pasangan hidup Tuan. Supaya ada yang mengurus anda dan menyiapkan semua keperluan anda," ucap Bobby. Ia menyiapkan nasi ke atas piring Damian.
"Apa maksud ucapan mu itu, hum?! Apa kau sengaja sedang menyindirku! Kalau kau sudah tidak mau menjadi asistenku bilang saja Bobby!" sentak Damian.
Pria itu paling tidak suka jika ada orang yang membahas tentang pasangan hidupnya. Baginya sekarang, yang terpenting adalah melihat kebahagiaan Nayla. Baru ia memikirkan tentang dirinya sendiri.
"Tapi saya bukan istri anda yang setiap hari harus memasangkan dasi dan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti ini Tuan!" Bobby mengeluarkan semua ganjalan hatinya yang selama ini begitu membebaninya.
Bahkan hampir semua pekerjaan seorang istri dikerjakan oleh Bobby. Menggelikan sekali bukan?
Damian menahan emosinya dan menghela nafas pelan, lalu kembali fokus dengan makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Sudahlah, aku sedang malas berdebat denganmu!" ucap Damian.
"Baguslah kalau begitu. tapi ingat Tuan anda harumphhh!" belum selesai Bobby bicara, damian sudah menyumpal mulutnya dengan buah apel.
__ADS_1
"Kau berisik sekali!" seru Damian lalu mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Damian mulai mengunyahnya perlahan, lalu menelannya. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok dan...
"Bagaimana rasanya Tuan, apakah masakan ini enak?" tanya Bobby dengan wajah sedikit ketakutan. Jika makanan tersebut tidak enak, Damian pasti sudah memuntahkannya dan juga membuangnya begitu saja bukan?
"Lumayan!" jawabnya singkat.
"Ini adalah masakan yang pernah aku rasakan sebelumnya. Tidak mungkin 'kan kalau---" Damian mengingat satu kenangan bersama seseorang.
"Siapa yang sudah memasak ini?" tanya Damian pada Bobby.
"Damian, sudah lama ya kita tida bertemu," sapa seorang wanita dengan rambut sebatas bahu yang berjalan mendekat ke arahnya.
Reflek Damian langsung berbalik dan menoleh ke asal suara, dimana sang wanita sedang tersenyum begitu manis padanya.
"K-kau! Apa yang kau lakukan di sini Luna!"
"Apa ini sambutan mu untukku Damian? Menyebalkan sekali. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu kau semakin memuakkan!" ketus Luna.
__ADS_1
Prang!
Damian tanpa sengaja menjatuhkan piring tersebut ke lantai, hingga benda itu pecah berserakan di lantai. Hingga tanpa ia sadari serpihan tersebut mengenai kakinya.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan Damian!" Luna berlari mendekati Damian dan memapahnya duduk kembali.
"Jangan menyentuhku! Karena aku sama sekali tidak mengenalmu!" Damian menepis tangan Luna begitu saja tanpa membiarkan wanita itu mengobati lukanya.
"Aku Luna mu Damian aku..."
"Luna sudah mati! Kau bukan dia, kalian berbeda!" teriakan Damian membuat wanita itu shock dan kaget. Terlihat sekali kalau saat ini pria itu sedang murka pada Luna. "Cepat usir dia sekarang! Apa yang kalian tunggu, hah!" bentaknya pada beberapa bodyguard.
"Permisi Tuan! Nona dan tuan Rein sudah berada di depan. Mobil yang mereka tumpangi sudah masuk melewati gerbang utama.
"Mereka sudah datang? Secepat ini?!" Damian melihat arlojinya lalu meninggalkan Luna begitu saja tanpa mempedulikannya sama sekali.
Luna menunduk, ia tahu mungkin kehadirannya saat ini tidaklah tepat dan malah menganggu waktu kebersamaannya dengan Nayla.
Karena bagaimanapun, Damian sudah lama tidak bertemu dengan adik satu-satunya tersebut.
__ADS_1