Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 49


__ADS_3

"Shhh! Pelan sayang! Apa kau ebrniat membunuh suami mu yang tampan ini, hum?!" ucap Rein saat merasakan sakit luar biasa di bagian lehernya akibat ulah Nayla.


Begaimana tidak sakit, Nayla menggigit dan menye-sap lehernya tanpa mau berhenti sama sekali. Bahkan darah yang keluar dari leher Rein langsung ia teguk begitu saja melewati tenggorokannya.


"Diamlah, kenapa kau berisik sekali Rein. Kalau kau tidak mau melakukannya keluar saja sana! Tapi ingat jangan harap dapat jatah dariku!" ancam Nayla seraya beranjak dari duduknya.


Namun, belum sempat Nayla beranjak, rein sudah terlebih dahulu menarik pinggangnya hingga Nayla kembali jatuh ke dalam pelukan Rein.


"Jangan marah sayang, aku hanya bercanda. Ayo lakukan saja sepuasmu. Hisap dan gigit leherku!"


Nayla masih enggan menatap wajah suaminya. Ia memalingkan wajah dengan bibir monyong ke depan. Sungguh sangat menggemaskan di mata Rein.


"Kalau begitu aku keluar saja," Rein melirik Nayla sekilas. Berharap kalau wanita itu akan menahannya.


"Ya sudah, pergi sana!" jawab Nayla ketus. Moodnya jadi berubah, kadang manja, kadang menangis, dan kadang ceria bahkan Rein hampir selalu menjadi sasaran kemarahannya.


"Kau yakin tidak akan menahanku sayang? Aky ebrniat mencari jala-ng di luar sana dan--"

__ADS_1


Plak!


Belum selesai Rein melanjutkan kalimatnya, ia sudah mendapatkan tamoaran keras tepat di pipi kananya. Sakit? Tentu saja iya! Rasa panasnya membuat air mata Rein hampir menetes keluar.


Apa seperti ini rasanya di tampar oleh wanita hamil? Biasanya Rein yang selalu menampar wanita, sekarang kebalikannya. Memalukan!


"Sayang, kau tega sekali. Ini menyakitkan untukku," rengeknya menduselkan kepala di ceruk leher Nayla dan memeluk pinggangnya erat. Jujur saja, baru kali ini Rein merasakan takut. Ia taku kehilangan Nayla dan calon bayinya.


"Berani kau mencari wanita lain di luar sana, kupastikan burungmu itu akan kubabat habis Rein!" nada penuh ancaman dan tatapan tajam mengerikan terlihat dari sorot mata Nayla.


Glek!


"Tidak sayang. Aku hanya sedang bercanda. Maafkan aku."


"Kau boleh memukul wajahku atau menggigit leherku sayang. Cepat lakukan lagi asal jangan marah seperti ini padaku," ucap Rein. Ia menatap sendu Nayla lalu memimiringkan kepalanya, bersiap jika wanita itu akan menggigit lehernya.


"Tidak mau! Mood ku sudah hilang!" Nayla mengabaikan Rein begitu saja dan memilih masuk ke kamar mandi karena ada sesuatu yang harus ia tuntaskan di dalam sana.

__ADS_1


Sedangkan Rein, pria itu hanya bisa menghela nafas kasar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Ini salah, itu salah. Sebenarnya apa mau wanita!" gumamnya seraya mengusap wajah frustasi.


Di dalam kamar mandi, Nayla langsung melepaskan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bathub. Ia memilih berendam dengan air hangat yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Dasar suami tidak peka!" gerutunya kesal.


*****


Di tempat lain, terlihat seorang pria dan wanita yang sedang bergumul di atas ranjang dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya.


"Bagaimana, apa kita lakukan sekarang saja?" tanya pria tersebut pada sang wanita. Ia terus menggerakkan pinggulnya dan menghentak-kannya kuat.


"Uhh tidak sekarang, kita harus menunggunya keluar dari mansion. Kau tahu 'kan seketat apa penjagaan Rein shh!" ucapnya semakin kuat mencengkram pundak pria yang sedang mengungkungnya saat ini.


"Baiklah, aku akan mengikuti semua kemauanmu asal kau bersedia membuatku puas di atas ranjang!"


"Tentu, aku mencintaimu."

__ADS_1


"Ya aku tahu itu."


Pria tersebut terus mempercepat gerakannya hingga tak lama kemudian keduanya sama-sama mencapai pelepasan berama dan ambruk di atas tempat tidur.


__ADS_2