Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 46


__ADS_3

Seorang wanita sedang berada di sebuah rumah sakit ternama di kota. Entah apa yang sedang wanita itu lakukan. Yang jelas raut wajahnya sangat khawatir dan gelisah saat ini.


"Aku sudah memeriksa keadaanmu," ucap dokter Sam pada wanita tersebut.


"Lalu bagaimana perkembangannya, Dok? Apa dia baik-baik saja?!" tanya wanita itu tang tak lain adalah Nayla.


"Sebaiknya gugurkan saja atau dia akan lahir dengan cacat. Tapi itu terserah padamu Nayla, karena kau yang akan melahirkannya. Bukan aku," jawab dokter Sam.


Pria itu menghela nafas dan menyeka keringatnya. Karena mengatakan hal tersebut pada Nayla membutuhkan waktu yang cukup lama.


Bisa dilihat kalau saat ini Nayla merasa sait mendengar ucapan dokter Sam. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu padahal usia kandungannya saja sudah berusia lima bulan.


"Apa kau gila, Kak! Kau pikir kehamilanku ini main-main! Dengan mudahnya kau mengatakan padaku harus menggugurkannya." Nayla mengusap wajahnya frustasi.


Sungguh ia tidak menyangka jika hal seperti ini harus menimpa bayi nya yang tidak bersalah.


"Aku hanya mengatakan sebuah kemungkinan yang belum tentu kebenaranya. Tapi, delapan puluh persen aku--"


"Cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan mu lagi, Kak!" sela Nayla dengan tangan terkepal erat. "Sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankan bayi ini. Dan satu lagi, jangan katakan apapun pada Rein. Aku tidak mau dia berpikir macam-macam," Nayla menggenggam erat tangan dokter Sam, pria yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.

__ADS_1


Dokter sam hanya bisa mengangguk dan menuruti kemauan Nayla. "Baiklah jika itu mau mu! Aku tidak berhak atas mu, Nayla."


Nayla tersenyum dan berterimakasih pada dokter Sam karena sudah mau menjaga rahasia yang selama beberapa bulan terakhir ini ia sembunyikan. Setelah selesai, Nayla memutuskan untuk pergi dari sana.


Namun, langkahnya terhenti saat bertemu dengan Mia, mantan ibu tirinya yang kebetulan juga akan masuk ke ruangan dokter Sam.


"Kau! Apa yang sedang kau lakukan di ruangan Kakakku!" teriak Mia pada Nayla. Sorot mata Mia memperlihatkan rasa benci teramat dalam pada sosok Nayla.


Mungkinkah wanita itu masih memiliki dendam padanya?


"Setelah merebut Rein apa kau juga akan mendekati kakakku, hum?!" sindir nya dengan senyum meremehkan.


Berbeda dengan Mia yang seakan ingin segera menyerang Nayla dan mencakar wajahnya.


"Ikut aku!" Mia menarik paksa tangan Nayla dan memaksa wanita itu agar mau ikut bersama dirinya.


Namun, Nayla memberontak. Ia memilih untuk menahan dirinya agar tidak berbuat kasar pada Mia, karena bagaimanapun juga Mia pernah jadi ibu tirinya juga Rein.


"Lepas! Jangan menyentuhku sembarangan. KIta bahkan tidak ada masalah apapun Nyonya!"

__ADS_1


Dengan kasar, Mia mendorong tubuh Nayla hingga kepala wanita hamil tersebut membentur tembok.


Dugh!


"Argh! Dasar wanita gila!" teriak Nayla seraya menyentuh kepalanya yang terasa sakit luar biasa.


"Kau yang gila! Bukan aku. Kau merebut semua yang seharusnya menjadi milikku! Apa kau masih tidak sadar diri, karena seharusnya tempatmu itu adalah di jalanan! Bukan di samping Rein!"


Suasana yang berada di depan ruangan dokter Sam menjadi ricuh karena ulah Mia yang tiba-tiba datang memancing keributan. Membuat dokter Sam malu dan segera menyeret adiknya pergi dari sana.


"Kenapa, Kak! Apa kau membelanya sekarang? Aku adikmu, bukan dia!"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Mia. Wajahnya memerah padam akibat ulah dokter Sam.


"Kau sudah keterlaluan Mia. Memancing keributan tepat di depan ruangan Kakakmu sendiri. Apa kau sengaja ingin mempermalukan ku?!"


"Kau menyebalkan, Kak! Aku benar-benar membencimu." Mia berlari keluar meninggalkan dokter Sam.

__ADS_1


Sedangkan dokter Sam memilih diam, karena sejak dulu seperti inilah sikap seorang Mia padanya. Keras kepala dan selalu ingin menang sendiri.


__ADS_2