
"Selamat datang Nona," sapa salah satu bodyguard yang berjaga di depan pintu utama. Bodyguard tersebut membungkukkan badannya sekilas lalu kembali berdiri tegak dan menatap Nayla.
"Apa Kakak ada di dalam?" tanya Nayla, matanya mengedar untuk melihat keadaan sekeliling manson. Untuk pertama kalinya wanita itu datang ke sana.
"Ya, Nona. Tuan ada di dalam. Beliau sedang sarapan pagi," jawabnya seraya tersenyum begitu manis. Bagaimana tidak tersenyum, wajah cantik Nayla membuatnya ingin terus melihatnya.
Tanpa dia tahu, kalau saat ini pawangnya sedang menatap kesal ke arahnya. "Menunduk bodoh! Aku tahu istriku itu cantik, jadi jangan memandangnya terlalu lama. Itu juga kalau kalian tidak ingin kedua bola mata jelek kalian itu keluar dari tempatnya sekarang juga!" ancam Rein dengan senyum mengerikan.
Mereka semua langsung menundukkan pandangannya dan enggan menatap wanita yang ada di hadapannya saat ini. Sayang sekali, wanita secantik Nayla harus menikah dengan monster kejam seperti Rein. Batinnya.
"Tidak perlu mengumpat ku sialan! Aku tahu apa yang ada di dalam otak udang mu!" Rein kembali membentak bodyguard tersebut. Entah apa yang membuatnya menjadi emosi dan sensitif seperti itu pagi ini.
"Cukup Rein! Kita datang kemari bukan untuk bertengkar 'kan?!" Nayla menatap tajam suaminya.
"Tapi sayang, aku tidak suka dengan cara mereka yang menatapmu seakan kau ini miliknya!"
Nayla menghela nafas. Suaminya memang benar-benar posesif. "Berhenti bersikap manja atau malam ini tidur di luar!"
"Eh, kenapa begitu. Ini tidak lucu sayang, jangan bercanda!" Rein menarik pinggang Nayla lalu memeluk wanita tersebut dari belakang. Mengendus wangi vanila yang tercium dari tubuhnya.
"Aku sedang tidak bercanda, menurut atau--"
Prang!
Terdengar suara berisik dari dalam, hingga membuat perhatian Nayla teralihkan dari Rein. Wanita itu masuk tanpa peduli dengan sang suami yang terus berteriak memanggil namanya.
"Astaga! Apa yang terjadi di sini?!" teriak histeris Nayla saat melihat sebuah piring sudah hancur berantakan di atas lantai dan tepat mengenai kaki Damian.
__ADS_1
"Lala!" Damian langsung berlari dan memeluk adiknya tersebut dengan erat.
"Apa yang kau lakukan Damian! Lepaskan istriku!" sahut Rein tak terima melihat sang kakak ipar memeluk istrinya.
"Rein!" seru Nayla.
Melihat sorot tajam mata sang istri, membuat Rein langsung kicep dan tidak berani melakukan apapun. Ya, anggap saya kalau saat ini pria itu sedang cosplay menjadi suami-suami takut bini.
'Untung kakak iparku, kalau bukan sudah giles kepalamu!' batin Rein.
Nayla memapah Damian dan mendudukkannya di sofa, Menjauh dari meja makan. "Katakan padaku, apa yang terjadi?" ucapnya, seraya mengusap punggung Damian.
"Wanita itu!" Damian menunjuk seorang wanita yang sedang berdiri dan menatap sendu matanya, "dia bukan Luna 'kan! Pasti dia sedang berbohong dan mengaku sebagai Luna!"
Nayla mengeryit bingung. "Luna? Luna siapa maksudmu, aku tidak mengerti Kak.
Rein menoleh ke asal suara. Ia melihat seorang wanita dengan rambut hitam lurus sampai pinggang. Tubuhnya terlihat seksi dan mulus tanpa noda.
Jangan lupakan paras cantik juga senyum manisnya. Hampir membuat para pria meleleh di buatnya.
Tapi tidak dengan Rein. Matanya seakan tertutup oleh wanita lain. Karena yang ada dalam hatinya hanya Nayla dan Nayla.
"Kau siapa?!" tanya Rein sedikit menjauhi Luna saat wanita itu hendak memeluknya.
"Kau melupakan aku? Sahabat kecilmu, kau si cupu dengan kaca mata besar itu 'kan Rein?!" Luna terkekeh. Wanita itu sangat mengenal siapa Rein luar dalam.
"Kau tahu Rein, aku sangat merindukanmu selama ini," imbuhnya.
__ADS_1
Seakan tersihir atau larut dengan kata-kata Luna, Rein diam saja saat wanita itu memeluknya erat dan membenamkan kepalnya di dada Rein.
"Dasar kadal buntung!" gumam Nayla, beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.
Pyar!
Suara gelas terjatuh yang baru saja Nayla lempar ke lantai, membuat Rein tersadar dan mengejar sang istri. "Sayang, tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya!"
Luna mengepalkan tangan melihat kepergian Rein. kedua pria yang selama ini ia harapkan dan ia rindukan mengabaikannya begitu saja. Bukankah seharusnya mereka senang karena dirinya sudah kembali?
"Kenapa kau datang tiba-tiba dan mengaku sebagai Luna?! Kau tahu, Luna ku sudah mati! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia--"
"Sebenarnya bukan aku yang mendonorkan jantung dan juga mata itu pada Nayla, tapi saudara kembar ku." ucapan Luna berhasil membuat Damian tercengang.
Namun sesaat kemudian, ia tertawa terbahak seakan semua perkataan Luna itu hanyalah sebuah lelucon belaka.
Mana mungkin Luna memiliki saudara kembar, sedangkan mereka saja sudah berteman sejak kecil dan harus terpisah karena suatu hal. Lalu, wanita itu datang menamparnya dengan kenyataan. Ataukah sebuah kebohongan?
"Sudah cukup drama yang kau perankan ini, Nona! Aku memberimu nila sepuluh atau bahkan seratus jika perlu!"
"Jadi kau tidak percaya padaku?!" Luna memekik, wajahnya memanas karena harus menahan emosi yang sudah sampai di pucuk kepala. "Lihat ini!" Luna melempar sebuah foto, dimana ada sepasang bayi perempuan dan di belakang foto tersebut tertulis nama Aluna dan Alana.
"Cih, kau pikir aku akan percaya begitu saja?" Damian berdecih, ia merobek foto tersebut dan melemparkan ke wajah Luna. "Hanya dalam mimpimu Nona!"
Setelah membuat Luna menitihkan air mata, Damian pergi begitu saja. Tidak peduli apakah wanita itu Luna atau bukan.
"Tidak ada bedanya Luna. Meski kau kembali, kau pasti akan tetap memilih Reinhard, bukan aku!" ucapnya seraya mengusap wajah frustasi.
__ADS_1