
“Uhuk! Rasanya aneh sekali” gumam seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah. Jari-jari tangan kanannya sesekali memainkan rambut hitam panjangnya yang terurai ke bawah.
Ya, gadis bola mata berwarna hazel dan pipi chubby tersebut adalah Nayla Putri.
Setelah jam pelajaran sekolah usai, Nayla memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan mampir ke sebuah cafe remang-remang yang berada di pinggir jalan.
Kenapa disebut cafe remang-remang? Karena letaknya ada di ujung jalan dan hanya buka pukul enam sore sampai dua belas malam saja.
Ini adalah kali pertama Nayla pergi ke tempat asing yang tidak pernah ia kunjungi seorang diri. Karena biasanya, Nayla selalu ditemani oleh Clarissa, sahabat baiknya.
Di cafe tersebut, hampir semua orang menatap aneh ke arah Nayla. Mungkin saja karena gadis itu masih mengenakan seragam sekolah menengah atas.
“Apa ada yang aneh? Kenapa mereka menatapku seperti itu?” gumamnya lirih seraya melihat pada dirinya sendiri.
Nayla memejamkan mata sekilas dan kembali tak peduli dengan tatapan orang-orang yang saat ini tertuju padanya. Ia lebih memilih menikmati minuman berlogo bintang dengan kadar alkohol yang cukup rendah.
__ADS_1
Kedua manik mata sendunya tertuju pada ponsel yang berada di atas meja. Sudah hampir satu jam Nayla berada di sana. Namun, belum ada satu orang pun yang menghubunginya atau sekedar menanyakan dimana keberadaan nya.
“Nggak ada yang peduli sama lo Nay. Jadi berhenti mengharapkan sesuatu yang nggak akan pernah jadi kenyataan.”
Nayla menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Tanpa sadar manik matanya meloloskan butiran bening. “Cukup Nay. Berhenti nangis buat hal yang nggak guna!”
Nayla menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Meyakinkan pada dirinya sendiri untuk tetap kuat. Masalah keluarganya saat ini sudah cukup membuat hidupnya berantakan. Ditambah lagi tidak ada satu orang rumah pun yang menyadari kalau dirinya belum kembali.
Gadis itu kembali menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menikmati alunan musik dj yang terdengar meliuk sampai ke telinganya.
Hingga tanpa Nayla sadari, ada beberapa orang pria yang datang dan menghampirinya.
Nayla tak bergeming dan mengacuhkan mereka. Kedua manik matanya tertuju pada orang-orang yang keluar masuk cafe tersebut.
“Cakep sih tapi sombong,” sahut pria yang lain.
__ADS_1
“Pergi nggak lo semua! Atau lo mau gue hubungi petugas keamanan. Biar tempat ini ditutup sekalian!” ancam Nayla seraya menunjukkan ponsel yang berada di tangan kanannya. Dimana Ia sudah siap menekan tombol hijau. Berpura-pura kalau sedang menghubungi petugas.
Tentu saja kalimat ancaman Nayla membuat wajah mereka langsung pucat dan ketakutan. Jika tempat ini ditutup, mereka tidak akan bisa nongkrong lagi.
“Cantik-cantik kok galak,” ucap pria tersebut yang langsung mengajak teman-temannya pergi dari sana dan meninggalkan Nayla seorang diri.
Merasa sudah bosan dan malam juga sudah semakin larut, Nayla memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, saat hendak melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang berat menahan tas punggungnya.
“Kalian mau apa lagi sih!” Nayla langsung berbalik dan mendongak ke atas.
Pria bertubuh tinggi dan kekar dengan wajah datar menatap tajam ke arah Nayla. “Mau kemana kamu?” suara bariton pria tersebut berhasil membuat bulu kuduk Nayla yang sedang tidur anteng, merinding seketika.
Ya, suara seseorang yang tidak asing, bahkan sangat Nayla kenali saat ini berada di hadapannya. Sorot matanya seakan mengatakan kalau Nayla adalah mangsanya.
“Kenapa diam? Saya sedang bertanya!” tanya pria itu sekali lagi pada Nayla.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Nayla malah berniat kabur. Nayla melepaskan tas punggungnya dan berancang-ancang untuk lari. Namun, lagi-lagi pria itu berhasil menarik kerah kemejanya. Menenteng Nayla seperti seekor kucing yang ketahuan mencuri makanan.