Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 56


__ADS_3

"Apa masih sakit sayang?" tanya Rein pada Nayla yangs ejek tadi pagi terus mengeluhkan sakit di bagian pinggang juga di awah perutnya. Pria itu bahkan sampai membatalkan janji dengan kliennya demi menemani sang istri.


Nayla mengangguk. "bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayi kita Rein? Aku sangat takut sekali kalau--"


"Apa maksudmu? Kita kemarin sudah memeriksa keadaanya bukan. Bayi kita sehat dan baik-baik saja. Jadi jangan pernah berpikir hal yang tidak-tidak sayang," ucap Rein seraya mengecup bibir Nayla sekilas.


Jujur saja, sebenarnya Rein juga takut jika terjadi sesuatu pada mereka berdua. Terlebih lagi Nayla. Karena bagi Rein, wanita itu adalah segalanya dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Kalau anak urusan gampang, sedangkan istri seperti Nayla, mungkin saja ada satu dari ribuan wanita.


"Lihat aku sayang." Rein menarik dagu Nayla agar wanita itu menatapnya. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk kalian berdua. Ingat itu! Dan maaf karena selama ini sudah menolak kehadirannya lalu berusaha untuk--"


Kalimat Rein terpotong saat Nayla membungkam bibir pria itu. Ia sudah tidak mau lagi mendengar kata penyesalan tentang masa lalu mereka dari bibir Rein.


"Jangan membahasnya lagi Rein. Aku tahu kalau saat itu kau sedang emosi." Nayla tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Rein.


Ekhem!

__ADS_1


Hingga suara deheman seseorang menganggu keromantisan mereka berdua.


"Ini masih pagi dan kalian asik mesra-mesraan! Apa kalian pikir dunia ini milik kalian berdua, hah?!" sindir Damian yang tiba-tiba menyelonong masuk dan menjahili keduanya.


"Kakak, kenapa tidak mengabari ku kalau mau datang. Aku bisa menyiapkan makanan kesukaanmu," ucap Nayla, ia berlari memeluk Damian.


Setelah puas memeluk Nayla, pria itu berlutut. Mensejajarkan kepala dengan perut buncit Nayla. "hei keponakan Uncle! Apa kau baik-baik saja di dalam sana. Cepatlah keluar dan jangan membuat Mommy mu kerepotan, oke!" Damian mengecup perut Nayla.


'Dasar pengganggu!' umpat Rein dalam hati.


Pria itu melirik tajam ke arah Damian yang juga sejak tadi tengah meliriknya. Seharunya pagi ini, mereka berdua melanjutkan aksi panasnya di atas ranjang. Karena ada Damian, semua rencana Rein gagal.


"Aku sangat merindukanmu Kak. Apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Nayla.


"Tentu saja. Semua berkat dirimu. Acara pernikahanku dengan Luna akan di laksanakan setelah bayimu lahir," jawab Damian tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


Rein yang melihat kedekatan mereka berdua berusaha mati-matian menahan emosi yang sudah membakar hatinya. Cemburu? Tentu saja! Dia tidak terima jika ada seseorang yang menyentuh Nayla tanpa ijin.


"Apa sudah puas main peluk-pelukannya?!" ketus Rein.


"Dia adikku bodoh! Wajar saja kalau aku melakukan ini padanya!" jawab Damian.


"Ck!" Rein berdecak kesal. "Dia sudah menjadi milikku seutuhnya. Dan siapapun yang sudah menjadi milikku tidak ada orang yang boleh merebutnya, meski saudaranya sendiri!" jelas Rein panjang lebar.


Tentu saha itu membuat Damian menahan tawanya mati-matian, Melihat adik iparnya begitu posesif pada Nayla. Walaupun, sebenarnya ia sangat bahagia karena pria seperti Rein tulus mencintai Nayla.


"Cukup! Apa kalian tidak malu, sudah sedewasa ini tapi masih bertengkar?" Nayla mencoba memisahkan namun, tiba-tiba perutnya kembali sakit dan kali ini lebih dari gejala yang ia rasakan sebelumnya. "Argh! Shhh..."


Nayla terus memegang perutnya, seakan ada yang ingin meledak di bawah sana. Berbeda dengan Rein dan juga Damian yang asik bertengkar sejak tadi hanya karena masalah sepele.


"Stop, kumohon berhentilah kalian..." Nayla terus menahan sakit itu dan meremas tangan Rein.

__ADS_1


"Astaga! Apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa kalian diam saja! Sebentar lagi nyonya Nayla akan segera melahirkan!" ucapnya memberikan sebuah video dimana ia melihat Nayla selesai memeriksakan dirinya ke dokter.


"A-apa kau bilang Mark! Melahirkan?!" pekik Rein dan Damian bersamaan.


__ADS_2