
Dor!
Prang!
Sret!
Seorang pria sedang mengamuk dan melukai beberapa bodyguardnya karena sudah lalai menjaga tawanan yang beberapa tahun ini ia sembunyikan.
Ya, siapalagi pria itu kalau bukan Reinhard. Salah satu anak buahnya memberitahunya kalau kedua tawanannya berhasil di bebaskan oleh seseorang.
Padahal, selama ini tidak ada yang tahu kalau Rein menyembunikan mereka berdua di sana.
"Bodoh! Bagaimana bisa mereka bebas, hah?! Sebenarnya apa saja yang kalian lakukan sampai tidak becus bekerja!"
"Tuan, tenanglah. Kita pasti akan segera menemukan mereka berdua," sahut Mark mencoba menenangkan Rein.
Namun, sepertinya pria itu sama sekali tidak bisa ditenangkan dan malah semakin membabi buta. Kemarahannya membuat Rein melukai tangannya sendiri dengan sebuah pisau tajam.
"Argh! Brengsek! Bagaimana kalau sampai Nayla tahu dan membenciku Mark!"
"Nona tidak akan tahu kalau anda tidak memberitahunya, Tuan!" Mark meraih meraih tangan Rein tapi langsung di tepis oleh pria itu.
"Biarkan saja Mark! Jangan kau obati!" sentak Rein membuat Mark diam di tempat dan hanya bisa menatap Rein miris.
"Jangan menyakiti diri anda sendiri hanya karena seorang tahanan, Tuan. Mau sampai selama apapun anda menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan--"
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Belum selesai Mark bicara, ia sudah mendapat bogeman mentah dari Rein. Sudah tahu pria itu sedang emosi, masaih saja menyela.
"Aku tidak menyuruhmu untuk bicara sialan!"
Hingga terdengar suara langkah kaki emndekat ke arah Rein dan juga Mark.
"Drama yang cukup menarik untuk di tonton, Reinhard Federick!" sapa pria tersebut.
Mereka semua langsung menoleh. Betapa terkejutnya Rein saat tahu siapa pria yang berada di hadapannya saat ini.
"Cih! Kau amsih saja terus berpura-pura seakan tidak terjadi apapun Rein. Tapi tak apa untukku. Hanya saja, kalau Nayla tahu semua ini pasti adikku tersayang akan sangat terkejut," ucap Damian menodongkan senjatanya tepat di kepala Rein. "Kalau pria yang ia cintai ternyata sudah mengurung orangtuanya sendiri selama bertahun-tahun. Bahkan menyiksanya seperti seekor binatang!" geramnya menggertakkan giginya.
Rein terdiam mematung. Padahal niatnya datang kemari untuk melepaskan mertuanya itu dan mengatakan semuanya pada Nayla. Namun apa daya, Damian sudah menemukan mereka terlebih dahulu.
"Maafkan aku," lirih Rein.
Ia mrendahkan dirinya hanya untuk meminta maaf. Kalimat yang tidak pernah ia ucapkan pada siapapun selama ini kecuali Nayla, istrinya.
"Apa kau bilang? Maaf?! Kau pikir kata maaf cukup untuk menebus semua kesalahanmu Rein! Kau egois dan keras kepala! Kau selalu mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya, bahkan menculik kedua orang tuaku tanpa menyelidiki kebenarannya!" rasanya Damian ingin mengeluarkan semua kata-kata kasarnya untuk mengumpat seorang Rainhard.
Tapi sepertinya itu percuma, karena Damian bukanlah tipe orang yang suka basa basi.
__ADS_1
"Lalu apa mau mu sekarang, katakan!" teriak Rein.
"Ck! Masih saja angkuh!" Damian melayangkan beberapa pukulan pada Reain. Sedangkan Rein, ia hanya bisa pasrah tanpa membalas apa yang Damian lakukan saat ini.
"Tuan!" teriak Mark.
"Tetaplah di sana dan jangan ada yang ikut campur Mark!" pinta Rein.
"Tapi Tuan..."
"Kubilang tetap berada di sana dan jangan mendekat, bodoh!"
Wajah Rein sudah babak belur. Banyak luka dan juga bekas pukulan yang mula membiru akibat pukulan Damian. Jika harus melawan sekalipun, itu tidak akan Rein lakukan.
Anggap saja ini adalah caranya untuk menebus semuanya meski belum seberapa.
"Kau memuakkan Rein! Berdiri dan lawan aku sekarang!"
"Menghabisi seseorang sepertimu sangat mudah bagiku, Damian. Hanya saja aku sedang malas mengotori tanganku untuk--"
Dor!
"Arghh!" teriak Rein saat timah panas tersebut mengenai lengan kanannya. "Apa kau puas sekarang, Kakak ipar?"
Damian tersenyum tipis dan meninggalkan Rein begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1