Suamiku Mafia Kejam

Suamiku Mafia Kejam
Bab 54


__ADS_3

Rein sudah berada di rumah sakit ternama di kota. Saat ini, ia sedang menunggu sang istri yang berada di dalam ruangan darurat.


Ya, beberapa jam yang lalu, Rein kehilangan Nayla dan dengan cepat memerintahkan beberapa anak buahnya untuk melacak keberadaan sang istri.


Saat tahu di mana Nayla berada, Rein segera meluncur ke sana karena takut jika terjadi sesuatu padanya. Namun sayangnya ia terlambat beberapa menit. Dan inilah yang pria itu sesali saat ini, Nayla tak sadarkan diri.


"Maafkan aku sayang." terlihat sekali raut khawatir di wajah pria itu. "Semua gara-gara wanita sialan itu. Lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu!"


Rein masih ingat bagaimana Nayla mengeluhkan sakit di bagian perutnya akibat perbuatan Mia. Juga darah segar yang mengalir di sela pahanya. Itu membuat Rein hampir frustasi. Inikah yang di sebut dengan karma?


Ucapannya yang dulu meminta Nayla menggugurkan kandungannya terlaksana, namun bukan karena dirinya. Melainkan orang lain.


"Aku benar-benar calon Papa yang buruk!" umpatnya pada diri sendiri.


"Meski berkali-kali kau menyalahkan dirimu, waktu tidak akan pernah bisa di putar kembali Rein!" sahut seorang pria yang saat ini berada di belakang Rein dan menepuk pundaknya.

__ADS_1


Rein menoleh dan pecahlah sudah air mata yang sejak tadi ia tahan. Pria itu langsung berlari ke dalam pelukan Damian, menumpahkan segala kegundahan yang ada. "Maafkan aku." hanya kata maaf yang bisa Rein ucapkan.


Bahkan ia tidak peduli jika saat ini sedang menangis di depan umum dan menurunkan harga dirinya sebagai seorang mafia.


"Berhentilah menangis, bodoh! Kau membuatku malu saja!" bisik Damian.


Bagaimana tidak malu, Rein menangis sesegukan dan memeluknya erat. Seakan mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Menggelikan sekali.


"Maaf."


Rein mengurai pelukan, menatap Damian penuh tanda tanya. "Apa maksud ucapan mu?"


Damian sudah menyelidikinya. Dan ia mengetahui semuanya tanpa terlewat sedikitpun. Mia lah dalang dari semua masalah yang terjadi. Sedangkan Leon tidak bisa dikatakan bersalah sepenuhnya, karena saat Mia akan memberi racun pada Nayla, Leon dengan sigap menahannya.


Bukan tanpa alasan, Nayla sudah terlebih dulu bekerja sama dengan Leon dengan satu syarat.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Berkencan satu malam bersamanya?! Dia benar-benar sinting! Mengajak kakak iparnya yang sedang hamil berkencan," pekik Rein saat tahu apa yang dilakukan sang istri di belakangnya. "Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengannya!"


Rein berniat mencari keberadaan Leon untuk memberikan pelajaran padanya. Namun, langkah kaki Rein terhenti saat melihat Luna berdiri di hadapannya.


"Kau mau kemana Rein? Aku turut bersedih atas Nayla. Tapi aku yakin dia wanita yang tangguh. bayi dalam kandungannya pasti selamat." Luna mendekat, hendak memeluk Rein. Tapi pria itu segera menjauh dan meninggalkannya begitu saja.


"Rein..."


"Sudahlah, biarkan dia sendiri. Kita akan menjelaskannya perlahan pada Rein setelah Nayla sadar." Damian memeluk Luna dan menenangkannya.


"Semua karena aku Damian. Kalau saja aku tidak memeluk Rein dan mengajaknya bicara, mungkin saja Nayla tidak akan pernah mengalami hal ini. Dia pasti cemburu karena suaminya bersama wanita lain." rasa bersalah itu membuat Luna membenci dirinya sendiri. Kehadirannya yang tiba-tiba adalah sebuah musibah.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah takdir."


Damian sudah mendengar semuanya dari Luna. Kalau memang dirinya mempunyai saudara kembar yang memang mendonorkan jantung dan matanya untuk Nayla. Awalnya Damian memang tak percaya, sampai Luna berani menunjukkan beberapa bukti akurat padanya.

__ADS_1


Lalu kenapa Luna baru muncul saat ini? Itu karena kedua orang tuannya membawa Luna pindah ke luar negeri setelah kematian saudaranya. Apalagi saat tahu siapa penerima donor tersebut. Mereka tak sampai hati jika harus bertemu dengan Nayla.


__ADS_2