
Setelah hampir satu jam tidak sadarkan diri, akhirnya Nayla membuka matanya. Ia melihat dua orang pria yang sedang duduk di sisi kanan dan juga kirinya. Siapa lagi kalau bukan Damian dan Rein.
"Syukurlah, kau sudah sadar sayang," Damian beranjak, berniat memeluk adiknya yang sudah lama sangat ia rindukan.
"Berhenti dan menjauh lah dari istriku sialan!" usir Rein dengan teriakan yang menggema di seluruh ruang kamar miliknya.
"Ck! Dia adikku bodoh! Jadi terserah aku mau melakukan apapun padanya!" ucap Damian.
"Tapi dia istriku! Aku yang berhak sekarang! Dan hanya aku yang boleh menyentuhnya, bukan kau!" sahut Rein tak mau kalah.
Damian tersenyum sinis. Mana mungkin ia akan menyerah begitu saja pada Rein. Ia pasti akan mendapatkan Nayla kembali.
"Kenapa kau mengejekku, hah?!"
Karena kesal sejak tadi Rein terus bicara dengan nada membentak, Damian mengambil bantal dan melemparnya ke wajah pria itu.
Bugh.
"Berisik! Apa kau tidak bisa diam dan menutup mulut ember mu itu!"
"Sialan, wajah tampanku!" ucapnya seraya melotot tajam ke arah Damian.
"Kalian berdua, cepatlah keluar sana! Kalian semakin membuat kepalaku--"
__ADS_1
Bugh.
Belum selesai Nayla bicara, Rein melempar bantal membalas perbuatan Damian padanya dan hampir saja mengenai wajah Nayla.
"Breng-sek!" memejamkan matanya menahan kesal.
"Bagaimana rasanya, nikmat bukan?!" ejek Reinhard.
Damian kembali membalas perbuatan Rein dan melempar bantal tepat mengenai kepalanya.
Ya, terjadilah adegan lempar melempar bantal yang membuat kedua pria dewasa itu terlihat seperti bocah sedang berebut mainan.
"Kenapa mereka malah bertingkah seperti anak kecil yang kurang bahagia, Nona," bisik Mark pada Nayla.
"Tapi Nona, saya--"
"Jangan menyentuh istriku Mark!"
"Cepat bawa adikku pergi dari sini dan jangan pedulikan orang gila ini Mark!"
"Awas saja kalau kau mendengarkan dia Mark. Aku potong gaji mu selama satu tahun!" ancam Rein.
"Tapi aku Kakak ipar mu, bodoh!" Damian menarik kerah baju Rein dan hendak memukul wajahnya. Namun ia gagalkan niatnya saat melihat Nayla. "Sayang, ikutlah pulang bersamaku. Kita akan berkumpul kembali dengan kedua orang tua kita." Damian meraih tangan Nayla dan mengecupnya.
__ADS_1
Nayla terdiam. Tatapannya tertuju pada Rin yang sejak tadi terdiam membisu tanpa mengatakan apapun.
"Bukankah ini yang aku inginkan selama ini. Berpisah dari Rein? Tapi kenapa rasanya begitu sakit," gumamnya dalam hati.
"Pergilah kalau kau memang ingin pergi Nayla. Aku tidak akan menahan mu dan menerima apapun keputusanmu," ucap Rein. "Dan tentu saja, ku pastikan akan merebut mu kembali darinya!" gumamnya lirih.
"Tidak perlu banyak berpikir Nayla! Kita harus segera pulang karena Mama dan Papa sudah ditemukan!" sahut Damian.
"Mama? Papa?"
Damian mengangguk seraya mengusap lembut kepala Nayla. Berharap jika adiknya tersebut mau ikut pulang bersamanya. "Tentang ingatanmu yang belum pulih, kita bisa perlahan--"
"Tapi aku mencintai suamiku, Kak. Maaf aku tidak bisa ikut bersamamu..."
Nayla menunduk dengan tubuh gemetar. Ia harus bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai kakaknya. Tentu saja itu bukan hal yang mudah baginya untuk menerima begitu saja.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu satu minggu untuk bersama pria menyebalkan ini! Setelah itu, aku akan menjemputmu dengan atau tanpa ijin darinya!" setelah mengatakan itu, Damian memutuskan untuk pergi dari sana dengan raut wajah kecewa.
"Rein, kemari lah." Nayla membuka lebar kedua tangannya.
Sedangkan Rein yang mengerti maksud Nayla, segera mendekat dan memeluk wanitanya erat.
"Jangan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi Ay."
__ADS_1
"Tidak akan pernah, Rein," jawab Nayla seraya mengusap punggung bidang suaminya.