
POV: Cindy
.
.
Hanya karena masalah kecil ini,mereka memenjarakanku,tidak ada seseorang pun yang menolongku,
ntah sudah berapa lama aku disini,
aku benci! Sangat benci!!
kehidupan yang aku rintis selama ini dengan kemampuanku hilang begitu saja karena perempuan sialan itu,
kutundukkan kepalaku,tanganku mengepal kuat,
tubuhku gemetar menahan amarah.
aku tak ingin berakhir disini,jika aku tak bisa mendapatkan edward,maka ia pun juga tidak akan bisa.
"Hei Cindy..
kau sudah sadar!!! Tanya brian didepan pintu jeruji,ia membawakanku makanan dan minuman
ku lirik tajam dia,makanan itu tak pantas untukku,
aku ingin mengatakannya,namun suaraku tidak bisa keluar.
suara langkah kaki terdengar jelas dipendengaranku ,aku menatap kehadiran lelaki idamanku. Kusambut
dengan senyuman menyedihkan, berharap ia akan mengasihaniku,
ia mendekat membuka pintu jeruji lalu perlahan berjalan mendekatiku
"cindy,mungkin tempat ini yang terbaik untukmu,,
kau tahu,besok aku akan menikah dengan kekasihku, semoga kau tak akan pernah mengusik calon istriku.
mendengar pernyataan itu,membuat tubuhku
Kaku,bibirku gemetar,aku ingin menjawab namun tak mampu.
berkali kali mulutku menganga ingin mengatakan sesuatu ,namun tetap saja percuma
hanya air mata yang bisa menunjukkan kesedihanku mendengar pernyataan edward.
__ADS_1
"tidak perlu mengatakan sesuatu,sebab aku sudah memerintahkan david untuk menyuntikan obat itu,agar kau tidak bisa menggunakan lidahmu itu,untuk menipu lagi.
arg' gelora kekesalan bercampur amarahku memuncak,tetesan darah terasa dimulutku
Tanpa sadar aku mengigit bibirku hingga berdarah.
edward beranjak berdiri,merapikan jasnya sembari melirikku
"tidak perlu menyakiti diri sendiri,"ia berbalik dan meninggalkanku
dengan tangan terikat tubuhku terus memberontak sembari membenturkan ke jeruji besi,batinku berteriak memanggil edward
"tolong lepaskan aku,ku mohon jangan begini,tolong aku!!edward
hingga kakiku duduk terlemas, edward tak kunjung datang.
"cindy kau terlalu terobsesi, ternyata kau begitu bodoh"nyinyir brian
"aku akan meminta kak ed,untuk menggantikan posisimu"sombong obrian.
aku mendengus kesal lalu memicingkan mata
Marah ke arahnya
"tunggu saja jika aku lolos dari tempat ini,mungkin dia orang kedua yang akan aku singkirkan,
Arg'..."jeritku dalam batin
tak lama kemudian,aku mendengar langkah kaki banyak orang menuju kemari,
ternyata langkah kaki itu berasal dari dua bawahan ed yang sedang membawa jack menuju sel lain.
aku terdiam saat mereka melewatiku.mataku menatapi jack sepertinya ia babak belur mungkin dia habis dipukuli oleh 2orang ini ,aku tidak perduli,
yang jelas aku harus mementingkan dori ini untuk bisa terbebas.
Jack berhenti didepanku, perhatianku terahlikan saat jack mengedipkan matanya sebanyak 2kali,kulirik belakang tangannya yang terlihat mengepal,sepertinya ada yang ia sembunyikan.
Jack diam diam melemparkan sesuatu kedalam jerujiku,
sebenarnya apa yang jack lemparkan, tepat setelah penjaga itu pergi membawa jack
aku buru buru mencari ujung sudut tempat jack melemparkan tadi, sangat susah mencarinya,sebab ruangan ini begitu remang,
jadi aku berusaha menajamkan mataku dan meraba pakai kakiku
__ADS_1
aku harus bergerak cepat,sebelum pengawal pengawal itu kembali.
"Argh"jeritku
pecahan botol seukuran satu jari melukai kakiku,dan tertancap didalamnya.
kuangkat kakiku yang tertancap lalu perlahan aku mengambilnya,dengan cepat aku menyembunyikan darah dikakiku,dari penjaga
aku mengabaikan rasa sakitnya ,lalu kupegang erat pecahan kaca itu,lalu mencoba memotong tali yang mengikat tanganku
ini tidak sulit bagiku,perlahan tapi pasti aku berhasil melakukannya
Diam diam aku mengeluarkan tanganku
dengan gerakan cepat aku menangkap leher penjaga itu
Aku mencekik lehernya sampai ia terpingsan
segera tangan ku meraba-raba kantung celananya, mencari kunci atau senjata lainnya
aku mendapatkan sebuah pistol dengan senyuman santai aku mundur kebelakang lalu mengarahkan pistol ke arah gembok
"Dor!!" hanya satu tembakan saja aku berhasil membuka pintu jeruji ini,
cepat cepat aku berlari keluar,dengan mengendap endap melewati lorong menuju tangga pintu utama,satu persatu penjaga dan bawahan edward telah kumusnahkan
"sudah ku bilang,jika tanganku sudah terlepas,dan amarahku sudah membara,kalian semua bukanlah tandinganku"seruku pada pengawal yang telah tewas.
saat aku sudah berhasil membuka pintu utama ,aku mendapati brian yang sudah ada dibalik pintu,dan yang mengagetkanku rara pun berdiri disampingnya dengan menatap tajam kearahku.
"dasar bocah sialan mengganggu saja,!! Gumamku pada brian
"mau kemana kamu cindy,kau telah membunuh 12penjaga kak ed,"ujar brian
"cindy berhenti,lebih baik kembali ke sel-mu
karena kak ed hari ini akan menikah,jadi besok kak ed akan mengirimmu pergi.
"ap-Apa?? Menikah??
"sudah la kau tak perlu terkejut,bukankah kau tahu,mereka saling mencintai
jadi berhentilah menganggu mereka"ucap brian
"
__ADS_1