SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 12 | Menghilangkan Ingatan Tentangnya


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku, aku membuka hordeng dikamarku, sinar mataharipun menyinari ruangan kamarku. Akupun berjalan menuju ke kamar mandi untuk mandi karena hari ini aku sudah masuk kuliah.


Setelah aku mandi dan mengenakan pakaian untuk kekampus. Akupun langsung bergegas menuju kakampus, namun sebelum itu aku mampir ke danau terlebih dahulu. Disini tempat aku menembak Cynthia dan disaksikan oleh sahabat-sahabatku. Tapi kini aku melihat Cynthia ditembak cowok lain didepanku bahkan sangat dekat denganku.


Aku mengambil duduk dikursi berwarna putih yang menghandap danau. Aku berdiam sejenak sembari melamun mengenai Cynthia.


Akupun bertekad untuk melupakan Cynthia dan membiarkannya bahagia dengan pilihannya yang selalu ada didekatnya. Aku kemudian mencari cara agar tidak selalu terbayang wajahnya. Aku merasa sulit melupakannya.


“Butuh waktu satu jam untuk ku mencintaimu


namun aku perlu waktu seumur hidup untukku melupakanmu dari hati dan pikiranku".


..."Setelah aku putus denganmu yang tersulit bagiku yaitu bukan melupakanmu melainkan bagaimana caraku menghilangkan kebiasaan ku saat bersamamu”....


...****...


Setelah lama terdiam duduk dibangku putih, akupun berdiri dan berjalan menuju kemotorku yang aku parkir dibelakang kursi ini. Aku pergi menuju ke kampus.


Setelah sampai dikampus, aku disambut oleh semua sahabat-sahabatku.


“Sahabat kita udah kembali nih?” ujar Rifku sambil menyindir.


“Mana nih oleh-olehnya?”. ujar Dion.


“Oleh-oleh apaan yang ada patah hati”. aku menjawab dengan ketus.


“Patah hati kenapa?” ucap Santi ingin tahu.


“loe ga ketemu sama Cynthia?” ucap Michalle.


“Loe gagal baikin Cynthia?”


“Dia masih marah sama lue?”


“Gue putus sama dia!” jawabku kepada Michalle.


“kenapa?” semua bertanya hal yang sama dengan heran.


“Dia ditembak sama cowok lain bahkan langsung didepan gue!” ujarku dengan emosi.


“Apa Gila-Gila, salut gua sama tuh cowok” ucap Rifki.


“Eh lu kok muji-muji dia lihat dong sahabat lu hatinya lagi rapuh” ujar Santi menasihati.

__ADS_1


“Tapi lu yakin dia benar-benar menerima cintanya?” ujar Michalle.


“Ga tahu gue langsung pergi” jawabku.


“Mending lupastiin lagi deh” perintah Michalle.


“Males, udah pasti Thia bakal nerima dia, orang dia lebih ganteng dari gue bahkan lebih keren penampilannya. Udahlah males gue bahas itu lagi. Mending gue langsung kekelas”. jawabku.


Akupun langsung menuju kekelas. Selama dikelas aku pusing sendiri, aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku kepada Cynthia dan bahkan aku tak ingin lagi melihat bayangan wajahnya dipikiranku.


Tapi sekeras apapun aku berusaha namun tetap saja tak bisa melupakannya melainkan makin nempel diingatanku.


...“Tuhan menciptakan otak itu untuk mengingat...


...Bukan untuk melupakan...


...Itu sebabnya sekeras apapun kita berusaha melupakan sesuatu...


...Maka semakin sulit juga kita menghilangkannya...


...Sebab otak hanya melakukan tugasnya ...


...yaitu mengingat dan bukan melupakan”....


...****...


Setelah mendapat teguran dari dosen akupun kembali berupaya agar fokus terhadap pelajaran yang sedang diterangkan.


...****...


Mata pelajaran pun selesai, aku pergi meninggalkan kelas menuju kekantin. Karena lapar, dan patah hati itu perlu makan yang banyak agar nantinya kuat menerima kenyataan.


Langkah kakiku menuju kekantin, namun ditengah perjalanan aku dihentikan oleh Dewi, ia bertanya-tanya kepadaku, namun aku menghindarinya karena malas untuk menjawab pertanyaannya. Maka aku menjawab satu kata dengan tegas


“Gue pengen sendiri?”. perintahku kepada Dewi.


Akupun segera bergegas menuju kekantin. Ketika sudah dikantin, akupun memesan makanan yang biasa aku pesan kali ini aku mesan dua mangkok. Kemudian datanglah sahabat-sahabatku. Sembari meledek.


“Ciye yang abis putus, sampe mesen dua mangkok?” ujar Dion sinis.


“lapar apa laper?” ujar Rifki ikut menyindir.


“Gue itu lagi lapar biar nantinya kuat”. jawabku.

__ADS_1


“kuat apa?” ucap Santi.


“Kuat menghadapi kenyataan puas lu”. jawabku dengan tegas.


Akupun menghabisi dua mangkuk tersebut. Setelah selesai aku mengeluarkan ponselku. Aku membuka Instagram namun jemariku mencari nama Cynthia dan membuka profilnya ia membuat instastory. Aku tak mengetahui kenapa aku mencari nama Cynthia padahal aku ingin melupakannya.


Akupun menutup layar handphone. Rifki, Dion Santi mengajak ku untuk main ludo, akupun menyetujuinya karena agar aku tidak selalu memikirkan Cynthia. Sambil menunggu pelajaran selanjutnya kamipun menikmati permainan tersebut. Kami mengulangi permainan itu sebanyak tiga kali.


...****...


Waktu istirahatpun telah berakhir. Aku dan sahabatku kembali kekelas kami. dengan jalan bersama-sama melintasi kelas demi kelas menuju kelas kami.


Kamipun sampai dikelas kami. Namun ada seseorang yang memanggilku, aku menunggunya dan sahabatku masuk duluan.


“Fakhri?” ujar Tiara.


“Tiara, mau kemana?”


“mau ke kampus kebetulan lagi freeclass” jawab Tiara.


“owh, sampai ketemu lagi, gue masuk dulu nanti keberu dosen datang”. ujarku.


“Yaudah, yang semangat ya belajarnya?”, ujar Tiara memberiku semangat.


“Jangan mikirin mantan mulu”, sindir Tiara.


...****...


Waktu pembelajaran hari ini selesai, aku segera merapikan buku-buku yang ada dimeja dan memasukannya kedalam tas. Aku berdiri dan berjalan menuju keluar kelas. Seperti biasa kami kalau pulang kampus selalu konvoi dan ditengah jalan kami membubarkan diri. Hal ini selalu kami lakukan sejak kami berada di bangku SMP. Kami selalu bersama dan tak akan pernah terpisah.


Dan ditengah jalan pun tiba, kamipun berpisah. Aku menuju kerumahku, namun aku tidak mengarah langsung kerumah, melainkan aku mampir dulu didanau. Setelah sampai didanau aku memarkirkan motorku dibelakang bangku. Aku turun dari motor dan duduk dikursi berwarna putih.


Aku menatap kearah danau. Dan lagi-lagi aku masih memikirkan tentang Cynthia. Hingga tak terasa waktu yang ditandai dengan langit yang sudah berubah warna menjadi orange, yang menandakan waktu senja tiba.


Saat melihat senja tersebut aku kembali teringat kepadanya. Saat dulu aku bersama Cynthia, aku selalu mengajak ia ketempat ini untuk menyaksikan cantiknya senja. Setiap hari minggu aku membawanya kesini.


...****...


Setelah itu aku beranjak dari kursiku menuju ke motorku. Aku menaikinya dan menghidupkan motor. Aku pergi meninggalkan danau untuk menuju rumahku. Selama diperjalanan aku masih saja teringat tentangnya, sebagaimana dulu Cynthia selalu memeluk erat tubuhku saat pulang menggunakan motor yang ditemani oleh senja.


“Tapi saat ini akankah Cynthia akan memeluk erat tubuhku lagi?”


Akupun sampai dirumah dan langsung masuk kerumahku dan menuju kekamar, aku ingin sekali beristirahat dari memikirkan tentang Cynthia.

__ADS_1


......****......


__ADS_2