SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 18 | Perencanaan Cinta


__ADS_3

Mentari pagi telah bersinar. Aku bersiap untuk bergegas ke perusahaan untuk memberikan surat izin magang. Aku pun mulai merapikan pakaian dan celanaku dengan memperhatikan dengan teliti tidak ada kusam dan bau yang tak diinginkan. Aku menggunakan parfum yang wanginya menyejukan hati.


Aku melangkah keluar dari rumah menuju ke motorku simerah. Akupun bergegas berjalan dengan hati-hati. Lokasi perusahaan tersebut berada di Jakarta Selatan. Kurang lebih waktu yang kami tempuh jika tidak macet adalah 1 jam.


Selama perjalanan aku menikmatinya. Udara yang sejuk dipagi hari megenakan badan. Cahaya matahari yang tak begitu panas menambah hati tentram.


****


Akhirnya aku pun sampai di PT. Citra Manggala Makmur. Aku langsung bergegas menuju ke ruangan HRD untuk memberikan surat izin ini.


“Tok-Tok-Tok” suara pintu yang ku ketuk diruangan HRD.


“Masuk!” Seru orang yang berada didalam ruangan.


“Silahkan duduk!, ada keperluan apa?” tanya bapak-bapak berambut pendek dan berkumis tipis yang tengah diduduk dikursi.


Akupun berjalan mendekatinya dan langsung duduk dibangku yang telah disediakan.


“Saya ingin memberikan surat izin dari kampus untuk magang diperusahaan ini dan saya juga memberikan data-data yang diperlukan untuk melengkapi persyaratannya” ujarku memaparkan niat kedatanganku dengan hati yang dak dik duk tak karuan.


“Mana saya lihat dulu kelengkapannya!” pinta kepala HRD tersebut kepadaku dengan nada datar.


Akupun menyerahkan dokumen tersebut. Dan langsung keluar dari ruangan tersebut dengan hati lega. Akupun langsung pergi meninggalkan perusahaan tersebut. Aku bergegas ke motorku yang diparkir di halaman kantor.


Aku langsung kembali ke kampus dengan santai, karena pihak kampus tak membatasi waktu untuk aku kembali.


****


Aku memutuskan untuk tidak kembali kekampus sekarang. Namun, aku lebih dahulu mendatangi satu tempat yang berkesan dalam hidupku di Jakarta. Ya di Kota Tua. Walaupun namanya kota tua namun bagiku namanya adalah kota cinta. Sebab disinilah tempat aku memberanikan diri untuk pdkt dengannya. Pdkt ku yaitu dengan mengajaknya ketempat-tempat yang menyenangkan. Atas rasa persahabatan yang selalu membelenggu, akhirnya aku berani untuk menyatakan sikap. Hingga tibalah waktu untuk aku mengungkapkan perasaan yang selama ini tersimpan.


Aku turun dari motor, dan menghampiri tempat demi tempat yang pernah aku singgahi dengan Cynthia. Ini aku lakukan sebagai obat rinduku kepadanya. Dengan ingatan yang masih melekat aku mendatanginya. Aku terhenti pada pesulap, terlintas dipikiranku.


“Betapa aku rindu senyummu ketika menyaksikan ini!” ujarku lirih.


Aku kembali melanjutkan jalanku. Aku kembali terhenti pada sebuah air mancur. Tempat aku dan Cynthia mengikrarkan janji suci bahwa kami akan selalu tetap bersama apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya.


Falasback On


“Cyn kita ke air terjun yuk!” pintaku kepada Cynthia.


“Pliss!” pintaku lagi dengan lirih.

__ADS_1


“Oke, ayo” ujar Cynthia.


Cynthiapun memandangi air terjun tersebut. Aku pergi meninggalkannya untuk memberikannya sesuatu. Setelah mendapatkannya akupun kembali lagi.


“Cyn?” panggilku pelan.


“Apa?” ujar Cynthia.


“Aku mau kasih kamu sesuatu. Mana tangan kamu!” pintaku padanya.


Ia pun mengulurkan tangannya, menuruti permintaanku. Akupun memasangkan sesuatu dipergelangan tangannya.


“Gelang ini buat kamu dan akupun memakainya, dengan gelang ini kita akan membuat janji?” ujarku.


“Janji apa?” tanya Cynthia.


“Aku mau kita buat janji. Aku dan kamu akan tetap bersama - sama apapun yang terjadi dan bagaimana pun keadaannya” paparku menjelaskan janji yang akan kita sepakati.


Akupun mengulurkan tanganku dan melipat keempat jariku, dan memberikan kelingkingku. Kemudian Cynthia menjawab dengan mengulurkan tangan dan menyatukan jari kelingkinya bersama jari kelingkingku.


“Janji!” ujar ku menyakinkan perjanjian tersebut.


Flasback Off


****


Akupun tersadar dalam kenanganku. Aku berkata dalam hatiku


“kenaganmu tak akan bisa diulang. Tetapi kenangannya akan selalu melekat selama-lamanya didalam hati dan pikiran” gumamku dalam hati.


Akupun langsung pergi dan kembali ke motorku. Setelah puas berkeliling tempat, aku kembali ke motorku yang aku taruh di parkiran.


Akupun pergi meninggalkan tempat itu dan langsung kembali ke kampus. Waktu telah menunjukan tengah hari, akupun memutuskan untuk kembali secepatnya.


****


Setibanya dikampus aku langsung masuk ke kelas. Telah nampak dari kejauhan bahwa sudah ada dosen yang sedang mengajar.


“tok tok tok” bunyi pintu yang kuketuk.


“Silahkan masuk!” seru dosen yang sedang mengajar tersebut.

__ADS_1


“Maaf pak, saya harus mengantarkan surat izin kampus untuk magang diperusahaan. Saya sudah mendapat izin kok pak!” paparku menjelaskan ketelatan ku.


“Yaudah, silahkan duduk” perintah dosen tersebut.


Akupun berjalan mendekati kursi ku. Dan mulai mengikuti pembelajaran.


****


Rifki meminta kepada ku untuk berkumpul dihalte bus setelah simpangan jalur kita berpisah. Akupun menyanggupi permintaan rifki tersebut.


Selepas pulang kampus kami berjalan bersama-sama. Namun, dipersimpangan hanya Michalle yang jalan terus. Rupanya mereka semua telah membohongi Michalle. Bahwa mereka ada keperluan mendadak jadi tidak bisa bareng. Untuk saja ia tidak curiga.


Aku tak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Rifki. Tapi, sebagai sahabat aku selalu mendukung apapun yang ingin ia lakukan jika itu adalah kebaikan.


Kamipun berhenti di sebuah halte bis. Kami berkumpul disini tapi entah apa yang ingin dilakukan. Rifki pun menjelaskan tentang tujuannya mengajak kami ketempat ini. Kamipun mendengarkan apa yang ingin dibicarakan.


“Gini Gengs, sebenernya gue minta lu kumpul disini. Gue mau minta bantuan lu semua?” pinta Rifki kepada kami semua.


“Bantuan apa?” tanya Dion.


“Tolongin gue, hari minggu nanti gue mau nembak Michalle lagi!” ujar Rifki.


“Lu masih belum kapok di tolak berkali-kali?” sindir Santi.


“Ga masalah yang terpenting gue masih mau berusaha menyakinkan dia lagi. Makanya itu masalahnya, selama ini kan yang gue lakuin kurang maksimal, jadi gue minta bantuan lu semua untuk membuat dekor tempat gue menyatakan perasaan sama Michalle. Maunya!, Pliss!” pinta Rifki sambil memohon bantuan.


“Oke, gue mau bantuin lu, tapi tentuin dulu tempatnya!” ujar Santi menyetujui permintaan Rifki.


“Oke nanti gue infoin lagi ke lu semua. Makasih loh ya udah mau nolongin gue!” ujar Rifki memberikan penghormatan.


“Ga masalah. Kita kan sahabat udah sebaiknya saling tolong-menolong!” jawabku atas perkataan Rifki.


“Bener tuh, kita semua adalah sahabat. Sahabat sejati!” ujar Santi menyambar perkataanku.


Kamipun pergi meninggalkan tempat tersebut setelah menyetujui permintaan Rifki. Ternyata Rifki ga ada kapoknya, meski ditolak berkali-kali oleh cewek yang sama. Tapi, ia tetap berjuang meluluhkan hatinya dan mendapatkan cintanya. Aku salut atas apa yang ia lakukan. Masih mau bertahan walau berkali kali harus patah.


****


Akupun langsung menuju kerumahku. Dengan mengendari si merah dengan santai, berhati-hati dan waspada. Aku sampai dirumah hingga sore hari. Langit pun berubah warna menjadi orange. Aku bergegas memasukan motorku kedalam rumah. Aku mengunci pintu dan berjalan masuk menuju kekamar. Akupun disitu langsung berbaring, untuk menghilangkan lelah karena banyak tugas yang aku harus selesaikan hari ini juga dikampus, ditambah lagi harus menunggu untuk mendengarkan permintaan Rifki. Akupun beristirahat sebentar sebelum nantinya berkumandang azan Maghrib.


****

__ADS_1


__ADS_2