SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 23 | Kado Untuk Cynthia


__ADS_3

Malam ini sangat bahagia dan menyenangkan dalam hidupku. Aku pun bersiap untuk pulang. Tapi, terlebih dahulu aku mengantarkan Cynthia pulang kerumahnya.


Setelah sampai dirumah Cynthia. Akupun mengantarnya sampai ke depan puntu. Aku tak memintanya untuk berpamitan kepada orang tua. Sebab, aku takut menggangu tidurnya. Eh ternyata ibu dan bapaknya Cynthia keluar.


“Eh, Cin udah pulang. Gimana acaranya seru ga?” tanya ibu Risma. Ibunya Cynthia.


“Pasti bahagialah bu. Orang sama Fakhri kok!” ujar Pak Bambang. Ayahnya Cynthia.


“Ah, bapak apaansi!” ujar Cynthia malu-malu.


“Eh, emang bener kan!” ujarnya kembali.


“Makasih ya udah dianterin pulang. Udah malem gini?” ucap pak Bambang.


“Sama-sama pak!” jawabku.


“Pak, Buk, saya mau izin pamit pulang?” pinta ku untuk izin pulang.


“Silahkan. Hati-hati dijalan!” jawab Pak Bambang.


Akupun menuju ke motorku yang diparkir tak jauh dari sini. Aku menaiki motor dan mulai mengambil helm dan mengenakannya. Setelah selesai aku menyalakan motor untuk bersiap pergi.


“Hati-hati dijalan!” perintah Cynthia mengingatkan kembali.


Akupun hanya mengangguk dan perlahan pergi meninggalkan rumah Cynthia.


****


Pagi yang cerah secerah hatiku saat ini. Ya. Sebab saat ini aku dan Cynthia mulai membaik dan tak ada lagi perselisihan yang terjadi.


pagi ini aku berniat untuk olahraga pagi dengan joging mengelilingi kompleks rumahku. Aku bersiap dengan mengenakan baju dan celana sport beserta sepatunya.


Akupun mulai mengelilingi komplek dan ditengah perjalanan aku bertemu dengan Dewi yang kebetulan sedang joging juga. Aku menghampirinya.


“Sendirian aja nih?” tanyaku pada Dewi.


“Enggak kok aku berdua!” ujar Dewi.


“Sama siapa?” tanyaku kembali keheranan dengan mengerutkan dahi.


“Sama Kamu!” ungkap Dewi.


Akupun dibuat tersenyum olehnya.


“Baru kali ini ada perempuan yang bisa bikin gue senyum selain Cynthia!” gumamku dalam hati.


“Tujuannya sampai mana?” tanyaku.


“Sampai aku mendapatkanmu!” ujar Dewi menjelaskan.

__ADS_1


“Ah, bisa aja luh!” ujarku.


“Ga deh. Becanda kali, jangan anggap serius. Kamu mah anggap serius nanti!” ujar Dewi.


“Siapa juga yang mau serius sama kamu!” ucapku.


****


Setelah aku merasa sudah cukup untuk olahraga. Akupun pergi meninggalkan Dewi.


“Wi. Kayaknya gue udahan olahraganya deh. Gue balik dulu ya?


“Oh, yaudah. Sampai ketemu lagi” ujar Dewi.


“Dadah” ucap Dewi dengan melambai-lambaikan tangan ke atas kepala.


Akupun langsung pergi tanpa membalas ucapan Dewi.


****


Sesampainya dirumah aku bersiap-siap untuk pergi ke rumah Cynthia. Rencananya aku ingin mengajaknya ke Mall untuk memberikan hadiah karena kita udah baik kembali.


Aku pun menaiki motorku dan pergi menuju kerumah Cynthia.


****


Akhirnya aku sampai dirumah Cynthia. Akupun mengetuk pinta pintu.


“Siapa?” ucap seseorang dalam rumah tersebut.


“Fakhri!” jawabku.


“Fakhri siapa ya?” ucap kembali orang tersebut.


“Kalo yang didalam siapa?” tanyaku ingin tahu.


“Saya Cynthia. Ada yang bisa saya bantu!” tanya Cynthia.


“Tolong dong. Panggilin pacar ku!” perintahku padanya.


“Emang siapa pacarnya?” tanya Cynthia.


“Cynthia Wijaya Putri. Ada enggak orangnya!” ujarku.


“Oh. Dengan saya sendiri!” ungkap Cynthia.


Kemudian ia keluar dari rumahnya dan membukakan pintu yang menghalangi kami berdua.


Akupun langsung mengajaknya untuk segera berangkat, sebelum nantinya panas dan macet dijalan.

__ADS_1


Aku dan Cynthia pun langsung berangkat dan pergi meninggalkan rumah Cynthia. Yang sebelumnya kami telah berpamitan terlebih dahulu pada kedua orang tuanya Cynthia.


****


Setelah menempuh perjalanan yang tak jauh. Akhirnya kamipun sampai di Mall yang sangat terkenal di kota kami. Aku turun dari motor dan membuka helm. Setelah itu aku melihat ke arah Cynthia yang masih mengenakan helm.


“Kamu mau pakai helm terus!” ujarku.


“Enggak kok!” ujar Cynthia.


“Terus kenapa masih pakai helm?” tanyaku kembali yang masih bingung.


“Kamu enggak sadar!” sindir Cynthia.


“Sadar apa. Oh iya aku lupa. Maaf-maaf, sinih aku bantu buka helmnya!” jawabku.


Aku pun menyadari apa yang diinginkan Cynthia. Aku membuka helmnya sesuai permintaannya.


Setelah itu aku dan Cynthia langsung masuk ke dalam Mal dengan bergandengan tangan.


****


Akupun berkeliling toko namun tak ada satupun yang menarik perhatian Cynthia. Maka aku bertanya kepadanya.


“Kamu mau apa untuk hadiahnya?” tanyaku pada Cynthia.


“Apa ajah. Asalkan itu pemberian kamu. Aku akan terima dengan senang hati!”


Pada saat Cynthia mengucapkan itu aku teringat untuk memberikan Cynthia sebuah boneka beruang. Maka aku menarik tangan Cynthia untuk berjalan menuju ke toko boneka.


Setelah sampai di toko boneka aku memesan boneka dengan ukuran yang sedang. Agar nantinya jika ia kangen denganku. Tidak perlu memelukku secara langsung melainkan peluklah boneka ini. Dan jika kamu menangis maka nangislah pada pangkuan boneka ini.


Setelah selesai aku memberikan hadian boneka padanya aku mengajak kembali Cynthia untuk datang ke sebuah taman di didekat rumah Santi. Karena taman tersebut sangat indah dan belum aku temui dengan Cynthia.


****


Setelah itu. Aku sampai di sebuah taman dekat rumah Santi. Aku dan Cynthia turun dari motor dan mengajaknya menuju sebuah kursi putih yang terpasang rapih disana.


Aku berjalan beriringan dengannya dengan menggenggam tangannya. Sungguh lembut dan halus disertai bau harum yang begitu melekat.


Aku dan Cynthia duduk di kursi putih tersebut. aku kembali berdiri untuk pergi membeli eskrim yang kebetulan sedang lewat disini. Akupun membeli sebuah eskrim cornetto.


Kemudian aku kembali ke tempat Cynthia dan memberikan eskrim tersebut kepadanya. Aku membuka bungkusnya dan memberikan cicipan yang pertama kepada Cynthia. Ia pun memakannya dan setelah itu Cynthia memberikan sodoran eskrim miliknya untuk aku cicipi. Akupun memakan pemberian tersebut. Lalu aku meminta kepada Cynthia untuk melihat ke samping. Setelah ia mengetahui bahwa yang dilihatnya tak ada apa-apa. Ia kemudian menoleh ke arahku namun aku menyodorkan eskrim ke arah pipinya. Maka Cynthia pun pipinya ceremotan karena eskrim yang sengaja aku berikan untuk menjahilinya.


“Ih kamu ya!” desis Cynthia.


“Apa?” tanyaku pura-pura tak mengetahui kesalahanku.


“Awas ya aku balas!” ancam Cynthia kepadaku.

__ADS_1


Kemudian kamipun saling menceremoti wajah dengan eskrim yang aku beli tadi. Aku dan Cynthia saling kejar-kejaran untuk mengenai wajah kami. Sehingga eskrim tersebut habis untuk dimainkan bukan untuk dimakan.


Hari ini sangat menyenangkan bagi ku sekaligus hari yang sangat mengembirakan karena ada Cynthia yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa sebahagia ini. Ia adalah sumber tawa dan kebahagiaanku. Kepergiannya membuat hatiku terpukul dan menjadikanku gelisah memikirkannya. Ku tak berdaya ketika jauh dari sisinya. Cynthia kamulah orang yang akan ku cintai selamanya, dan kamu tak akan pernah tergantikan oleh wanita lain. Kamu adalah orang yang paling aku sayangi setelah ibuku.


__ADS_2