
Waktu subuh telah tiba. Aku dan sahabat-sahabatku keluar dari tenda. Kamipun berkumpul bersama. terlihat kerumunan para pendaki lain. Salah satu dari mereka mengajak kami.
“Ayo kita shalat berjamaan, walupun kita ada digunung kita harus tetap mejalankan shalat dalam keadaan apapun” papar pendaki tersebut mengajak.
Kamipun mengikuti perintah orang tersebut yang belum kami kenal. Namun begitu setiap orang adalah saudara karena kita tinggal dan berdiri ditanah Indonesia.
Kamipun mengambil wudhu dengan cara menggunakan air mineral dalam botol. Karena disini tidak ada sumber air baik sungai maupun danau.
Semua orang berkumpul bersama dititik yang telah ditentukan, untuk menjalankan shalat subuh berjama’ah.
Setelah shalat subuh selesai dilaksanakan kamipun mendapatkan sebuah muhasabah dari salah satu moderator. Ia memberikan materi tentang Indahnya pegunungan ini dan bagaimana kita harus bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.
****
Semua telah bersiap-siap mengabadikan momen melihat sunset dari dekat. Begitu juga dengan kami. Aku mempersiapkan diri untuk merekam kejadian ini.
Sunset pagi pun telah muncul. Aku sangat senang melihatya dan memyambut kedatangannya. Terlihat dari kejauhan sudah ada Rifki dan Michalle yang sedang bergandengan tangan.
“Emangnya mau nyebrang gandengan tangan” sindir Dion pada pasangan tersebut.
“Udah jadian belom sih?” ujar Santi kepada keduanya.
Akupun hanya memilih diam. Sebab setiap orang punya bahagianya masing-masing. Yang terpenting bagiku mendo’akan selalu sahabatku agar bahagia.
Dewi menghampiri diriku yang sebelumnya berada disamping Dion. Karena Dion pergi ke depan untuk merekam sunset. Dewi pun mendekatiku. Ia mengayunkan tangannya untuk mengenai tanganku. Akupun merasa geer.
“Apa mungkin Ia ingin aku gandeng seperti Michalle dan Rifki” Gumamku dalam hati.
Ia pun terus-terusan mengayunkan tangannya kepadaku. Merasakan hal tersebut akupun berkata kepadanya
“Kalo mau digandeng. Gandeng aja jangan pake diayun-ayunin” Tuduhku kepada Dewi.
“Apaansih. Cuman mau diayunin aja” Dalih Dewi dengan senyum-senyum.
“Gausah pake ngeles. Kalo mau digandeng. Gandeng aja!” Ujarku menyakinkan.
Dewipun masih malu-malu untuk menggandengku. Maka akulah yang menggerakkan tanganku kearah tangan-Nya. Dan akupun menggandeng tangan Dewi sambil menyaksikan sunset dipegunungan. Akupun bertanya kepada Dewi.
“Lu pernah lihat sunset sedeket ini” tanyaku padanya.
“Selama ini sih belum pernah. Tapi hari ini menjadi yang pertama bagiku menyaksikan sunset sedeket ini” papar Dewi menjawab pertanyaanku.
****
Setelah sunset berakhir. Dion pun kembali ketempat sebelumnya bersama Dewi. Namun tiba-tiba ia terhenti. Ia melihat kearah tanganku yang menggenggam Dewi. Akupun langsung melepaskan genggaman tersebut. Dan aku langsung pergi meninggalkan Dewi yang sedang berhadap-hadapan dengan Dion.
Dari kejauhan aku menatap mereka berdua.
“Gue harap lu ga salah paham dengan kejadian barusan. Gue sama Dewi ga ada perasaan apa-apa. Dan gue pun masih tetap tersimpan nama Cynthia dan sampai saat ini gue belom bisa move on darinya” Gumamku dalam hati dengan penuh harap.
****
Sunset pagi pun telah berakhir, kamipun berkumpul didepan tenda. Sambil duduk melingkar kami menikmati sarapan sebelum nantinya kami turun dari gunung ini. Telah tersaji roti yang telah dibaluti selai coklat yang dibuat oleh Santi dan Dewi. Kamipun menikmati hidangan tersebut.
Setelah selesai makan kamipun bersiap berkemas barang-barang yang kami gunakan. Kamipun satu-persatu merapikan tenda.
__ADS_1
Setelah semua selesai merapikan tenda dan memasukan semua perlengkapan yang kami gunakan. Kamipun bergegas turun dari gunung ini sebelum nantinya cuaca panas.
****
Ditengah perjalanan kami harus melewati jalan yang banyak bebatuan baik kecil maupun besar. Aku berjalan paling akhir dan didepanku adalah Dewi. Akupun menasihatinya.
“Awas hati-hati nanti jatuh!” tegurku menasihati Dewi.
“Iya-iya ini aku hati-hati” jawab Dewi.
Tak lama aku berkata seperti itu. Kejadian pun menimpa pada Dewi. Ia kembali terjatuh. Namun, kali ini ia terjatuh kedapan sehingga aku tak dapat menopangnya atau menangkap tubuhnya.
“Aduhhhh!” teriak Dewi kesakitan.
“Tuh kan belum lama tadi gue ngomong!” sentak ku kepada Dewi yang tak nurut.
“Iya-iya tapi tolongin sakit tahu!” pinta dewi untuk menolongnya.
Akupun jongkok dan melihat kaki dewi. Setelah aku lihat dan meraba aku memastikan bahwa sepertinya kaki Dewi terkilir, sehingga ia tidak bisa jalan dulu untuk beberapa hari. Kemudain ia berkata.
“Terus aku jalannya gimana?” tanya Dewi kepadaku.
Sahabat-sahabatku yang melihat kami berdua, memberikan solusi.
“Gimana lu digendong aja sama Fakhri!” tawar mereka memberikan solusi.
Dion pun menghampiri kami berdua.
“Gimana lu gue gendong aja sama gue? Gue kuat kok!’ tawar Dion pada Dewi.
“Gusah Di, gue masih kuat kok buat jalan!” tolak Dewi atas tawaran Dion.
“Kalo lu ga mau sama gue. Gapapa kok kalo lu mau sama Fakhri, yang terpenting lu bisa pulang dengan selamat” suruh Dion membolehkan.
Akupun dengan berat hati harus menolong Dewi. Akupun memberikan punggungku untuk Dewi. Ia dibantu oleh Santi untuk berdiri dan naik ke punggunggu. Setelah siap akupun perlahan-lahan berdiri. Aku berkata dalam hati.
“Ini orang badannya kecil tapi berat juga ya?” gumamku dalam hati.
Akupun berjalan perlahan-lahan menuruni tanah pegunungan yang diselimuti bebatuan. Agar tidak terjatuh dan nantinya akan melukai Dewi lagi.
Akupun menggendong Dewi hingga ke parkiran mobil. Aku menurunkannya didepan pintu mobil yang langsung mengarah pada sebuah bangku mobil.
Setelah itu aku memasukan barang-barangku dan Dewi ke bagasi mobil. Setelah semua telah siap dan selesai dan tidak ada yang tertinggal kamipun pergi kembali kerumah.
****
Selama diperjalanan akupun hanya berdiam diri. Aku tak ikut pembicaraan Michalle dan Santi. Akupun mengambil handphoneku yang berada disaku celanaku.
Akupun membuka layar ponselku. Tak terasa jemariku mengarahkannya ke galeri ponselku. Tak terasa aku membuka foto Cynthia. Akupun kembali terdiam dan termenung. Dulu aku sangat bahagia sekali jika melakukan pendakian digunung manapun bersama Cynthia. Namun, kali ini rasanya berbeda jika tak ada Cynthia disisiku. Akupun melamun mengenai masa-masa kebersamaan kita saat digunung. Dan yang paling berkesan adalah Gunung Papandayan yang bayak bunga Edelweis.
Flasback On
“Kamu ngapain bawa aku kesini?” tanya Cynthia kepadaku.
“Aku mau kasih kamu sesuatu tapi kamu tutup mata dulu!” pinta ku kepada Cynthia.
__ADS_1
Cynthia pun menutup mata dengan tangannya. Untuk lebih menyakinkan akupun menutup matanya dengan tanganku, agar ia tak bisa mengintip hadiah yang kuberikan.
Akupun menuntunnya menuju ketempat yang aku ingin perlihatkan kepadanya. Setelah sampai ditempat tersebut akupun meminta Cynthia agar membuka matanya.
“Sekarang kamu boleh buka mata!” perintah ku ke Cynthia.
“Wah bagus banget, bunga-bunganya indah, kamu tahu aja kalo aku suka bunga?” ujar Cynthia.
“Apapun yang kamu suka aku akan selalu berusaha cari tahu” ujarku kepadanya.
“Terimakasih ya, kamu selalu bisa buat aku tersenyum” puji Cynthia kepadaku.
“Sama-sama sayang” ujarku padanya dengan senyum.
Akupun melangkah menuju bunga tersebut dan mengambil tiga tangkai. Untuk aku berikan kepada Cynthia.
Akupun berjalan kembali ke tempat Cynthia berdiri. Akupun berlutut dihadapannya dan memberikan bunga tersebut kepadanya. Ia pun mengambil bunga yang aku petik sambil tersenyum malu-malu.
Akupun senyum-senyum sendiri mengenang masa tersebut, hingga pada akhirnya aku ditegur Dewi, yang kebetulan duduk disampingku.
“Woy!” ujar Dewi mengagetiku.
Flasback Off
“Senyum-senyum sendiri, kenapa?” tanya Dewi dengan raut wajah curiga.
“Ah lu ganggu aja. Gue lagi mengenang maasa-masa bahagia gue bersama mantan gue saat pendakian. Tiba-tiba aja lu gangguin merusak suasana hati gue” bentakku pada Dewi.
“Yaudahdeh aku minta maaf? Maafin ya, pliss!” pinta Dewi memohon.
“Oke, kali ini gue maafin!” Jawabku memaafkan.
“Nah gitu dong” ujar Dewi.
****
Akupun menikmati perjalanan ini dengan mendengarkan musik. Aku menggunakan airpod yang aku bawa setiap saat dan setiap waktu, kemanapun dan dimanapun.
Tak terasa kamipun telah sampai dirumah Michalle. Waktu telah menunjukan sore hari. Akupun menurunkan Dewi terlebih dahulu dengan memapahnya menuju kerumah Michalle. Akupun bertanya kepadanya.
“Kamu pulang sama Dion?” tanyaku kepadanya.
“Dewi pulangnya sama gue!” sela Dion menyambar pembicaraan.
“Iya, aku pulangnya sama Dion. Makasih ya udah bantu aku selama dipendakian. Maaf kalo aku ngerepotin kamu?” ujar Dewi dengan wajah datar.
“Iya gapapa gak repot kok!” jawabku menyakinkannya.
“Hati-hati dijalan!” pinta ku menasihatinya lagi.
Setelah itu aku mengambil motorku yang terparkir di rumah Michalle. Akupun mengeluarkannya dan sebelumnya aku berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya Michalle.
Akupun pergi dan meninggalkan rumah Michalle. Selama diperjalanan aku masih saja terbayang wajah Cynthia. Mungkin wajah ini akan selalu melekat dalam pikiranku sehingga akupun sulit untuk melupakannya.
Akupun tak lagi berusaha untuk melupakannya. Sebab semakin aku mencoba berusaha melupakannya maka semakin melekat pula ingatanku terhadapnya. Jadi aku biarkan saja bayangan itu tetap ada bagai air yang terus mengalir tanpa harus susah payah untuk dibendung.
__ADS_1
Akupun tak lama sampai dirumah. Akupun langsung memasukan motorku kedalam rumah. Setelah itu aku menaruh ranselku diruang tamu. Aku langsung berjalan ketempat tidurku. Aku tak langsung mandi karena masih keringatan. Akupun beristirahat sebentar ditempat tidurku.
****