SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 26 | Kembali Magang Setelah Libur


__ADS_3

Pagi ini aku tengah bersiap untuk pergi ke kantor. Terlebih dahulu aku sarapan pagi.


Setelah aku selesai sarapan aku langsung mengambil tas dan helm dan pergi menuju ke motorku yang sudah aku parkir di depan pintu. Aku langsung bergegas pergi untuk menuju ke kantor.


Ditengah perjalanan aku merasa hati ini hampa tanpa Cynthia didekatku. Sekarang ia jauh dariku. Raganya tak bersamaku namun hatinya tetap bersamaku.


****


Sejam perjalanan akhirnya aku sampai di kantor. Aku langsung berjalan menuju ke mejaku. Kali ini pasti banyak pekerjaan yang akan diberikan Pak Ilham kepadaku. Dari rumah aku sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Dua hari aku tak bertemu dengannya. Rasanya hati ini sangat tenang dan merdeka dari dirinya.


Tapi hari ini aku harus menemuinya lagi. Aku harus tetap sabar sebab waktu yang dibutuhkanku magang adalah 1 bulan lagi atau 30 hari, 720 Jam, 43.200 menit, dan 2.592.000 second.


“Ahhh, rasanya aku pasrah” desisku pelan.


****


Akupun duduk di kursiku, disampingku ternyata sudah ada Dewi yang terlebih dahulu datang. Aku menaruh tas di bawah kursiku dan mengambil file yang kemarin belum aku selesaikan. Tiba-tiba


“Fakhri kamu dipanggil pak Ilham!” perintah salah satu karyawan tersebut memanggilku untuk bertemu dengan Pak Ilham.


Aku mulai curiga apa yang akan terjadi


“Kayaknya aku tahu kenapa pak Ilham memanggilku”, gumamku dalam hati.


Akupun berjalan menuju ke ruangannya pak ilham.


“Tok-tok-tok”, suara ketukan pintu


“Masuk!” perintah orang yang berada di dalam.


“Ada apa pak memanggil saya?” tanyaku pura-pura tak tahu.


“Ambil file ini dan kerjakan!” perintah pak Ilham.


“Sebanyak ini!” gumamku dalam serasa hati mengeluh.


Aku hanya mengangguk menuruti perintah Pak Ilham dan kemudian aku pergi dari ruangan ini dan menuju ke meja kerjaku dengan membawa banyak file yang harus aku selesaikan.


****


Di Kantin


Aku duduk di sebuah kursi yang hanya bisa ditempati oleh dua orang saja. Berbeda dengan hari biasanya. Saat ini tempat yang aku duduki sepi pengguna. Aku pun memesan makanan kepada pelayan. Setelah itu datanglah Dewi dan duduk disampingku.


“Bagaimana hubunganmu dengan Cynthia udah baik?” tanya Dewi.


“Sekarang udah baikan enggak ada lagi kesalahpahaman”, jawabku.


Kemudian Dewi terdiam dan tak bertanya lagi kepadaku. Dewi pun memesan makanan kepada pelayan.


****


Akhirnya pesananku dan Dewi telah datang, kamipun menikmati hidangan ini. Dewi tetap seperti tadi hanya diam dan tak berkata-kata lagi.


“Biasanya ia selalu bicara meski sedang makan, tapi kenapa hari ini beda. Apakah aku salah bicara?” gumamku dalam hati.


Aku membiarkannya hingga makanan kami habis Dewi tak lagi berkata kepadaku. Merasa ada yang berbeda dengan sikap Dewi akupun bertanya kepadanya.


“Kenapa kamu sakit?” tanyaku yang bingung.

__ADS_1


“Enggak kok”, jawab Dewi singkat.


“Terus kenapa?” tanyaku kembali.


“Enggak kenapa-kenapa kok. Eh aku kembali ke mejaku dulu ya?” ujar Dewi.


“Yaudah”, ucapku mempersilahkan.


Aku tak mau mencari tahu lebih dalam kepdanya karena aku terfokus pada ponselku karena aku akan menelpon Cynthia.


****


Waktu pulang kantor akhirnya tiba, akupun langsung menuju ke parkiran motor. Terlihat bahwa Dewi hari ini tidak membawa motor. Dengan rasa iba akupun menawarkan untuk pulang bersamaku


“Mau pulang bareng hue?” tawarku pada Dewi.


“Ga usah aku bisa pulang naik ojol!” tolak Dewi.


“Nanti lama nunggunya, mendingan sama gue?” tawarku kembali.


“Engga apa-apa, kamu duluan aja. Kamu enggak usah mikirin aku!” pinta Dewi.


Aku yang merasa khawatir dengannya kemudian turun dari motor.


“Kamu mau ngapain?” tanya Dewi padaku yang bingung akan tingkahku.


Akupun menggendong Dewi untuk naik kemotorku. Walau ia berusaha melawan ia akhirnya nurut juga dan naik kemotorku.


“Nah gitu dong. Jadi ga drama”, ucapku pada Dewi.


Aku dan Dewi berjalan di atas motor berdua. Aku menikmati perjalanan ini. Tak terdengar suara dari Dewi sedikitpun kepadaku. Padahal biasanya ia selalu berbicara kapanpun dan dimanapun saat bersamaku.


Pada awalnya aku biasa saja namun lama kelamaan aku juga merasa heran. Setelah sampai dirumahnya Dewi aku mengatakan yang selama ini tertahan dihatiku.


“Kamu ini sebenarnya kenapa?” tanyaku pada Dewi yang dari tadi terus-terusan diam.


“Ga apa-apa!” jawab Dewi.


“Kalo lu ada masalah lu cerita aja sama gue. Kita kan sahabatan!” tawarku untuk Dewi agar bisa bercerita mengeluarkan beban hidupnya.


“Cuman teman?”


“Seandainya kamu tahu kalo aku benar-benar sayang sama kamu!” gumam Dewi dalam hati.


****


Akupun langsung pergi untuk menuju ke rumahku. Hari ini sangat melelahkan bagi diriku baik fisik maupun mental.


****


Hari kedua masuk magang setelah libur dua hari. Aku segera bergegas menuju ke kantor. Hari ini aku tak sarapan sebab aku bangung kesiangan sehingga aku harus buru-buru sampai di kantor agar tidak telat.


Aku berjalan dengan kecepatan tinggi tapi dengan hati-hati dan memperhatikan jalan.


****


Akhirnya akupun sampai di kantor dengan selamat dan aman. Aku langsung menuju ke meja kerjaku, untung saja aku tepat waktu sehingga tidak dihukum.


Aku menyapa Dewi yang sudah tiba dari tadi

__ADS_1


“Apa kabar?” tanyaku pada Dewi.


“Baik”, jawab Dewi.


Akupun duduk di kursiku dan telah nampak tumpukan file yang masih belum aku selesaikan. Akupun bertanya pada Dewi


“Wi, tugas lu sebanyak ini ga?” tanya ku pada Dewi.


“Enggak”, jawab Dewi dengan ketus.


Merasa ada yang aneh dengan dewi aku bertanya padanya


“Sebenarnya kamu itu kenapa?, kamu marah sama aku?, aku ngelakuin kesalahan?, tolong jawab!” ujarku dengan menggujani banyak pertanyaan pada Dewi.


“Enggak apa-apa kok, kamu tenang aja”, jawab Dewi menyakinkan bahwa ia tak kenapa-kenapa.


Aku kembali fokus untuk mengerjakan tugasku yang sangat menumpuk di meja kerjaku.


****


Waktu istirahatpun sikapnya Dewi tetap masih sama seperti tadi bahkan lebih ketus dari sebelumnya.


Didalam sebuah jalan lorong yang menuju ke luar kantor. Dipersimpangan jalan dimana Dewi menuju ke dalam sedangkan aku menuju keluar. Terlihat bahwa sikap Dewi sangat cuek sama seperti ku. Ia seperti bersikap biasanya. Aku kangen sifat cerewetnya Dewi, yang dapat membuatku tersenyum.


****


Aku tak jadi kekantin dan menghampiri Dewi.


“Dewi!” panggilku.


Kemudian Dewipun berhenti dan berkata padaku


“Ada apa?”


“Sebenarnya kamu kenapa?” tanyaku.


“Enggak kenapa-napa kok”, jawab Dewi.


“Ri, kayaknya aku masih banyak pekerjaan deh. Aku harus segera kembali!” pinta Dewi.


“Kamu jawab dulu. Kamu kenapa?, sikap kamu itu beda kayak yang biasanya?, jujur aku kangen sama cerewetmu itu yang bisa membuatku tersenyum!” ujarku.


“Ri, aku sibuk!” kata Dewi.


Akupun mempersilahkan Dewi kembali ketempat kerjanya.


Hari-hari terus berlalu hingga tak terasa sudah satu (1) bulan aku disini dan berakhir pulalah masa magang ku disini. Begitu juga dengan sikapnya Dewi yang berubah terhadapku selama itu juga.


****


Akhrinya aku sudah selesai magang dan sudah dipastikan aku tak akan bertemu lagi dengan pembimbing yang sangat aku rindukan dan yang paling membuatku naik darah atas tugas-tugas yang ia berikan. Akhirnya aku terbebas darinya dan aku menyatakan diri mulai hari ini aku merdeka.


Hari ini aku ingin memberikan surat laporan selama magang disini kepada Pak Ilham. Ini untuk meminta nilai atas pekerjaanku selama disini. Dan hari ini hari terakhir ku bertemu dengannya.


“Sampai jumpa lagi pak Ilham dan terima kasih atas tugas-tugas yang diberikan”, gumamku dalam hati.


****


Setelah selesai aku kembali keparkiran motor. Karena hari ini tak ada jadwal lagi. Maka aku memutuskan kembali kerumah dan menikmati hari-hari istirahatku meski hanya sejam saja.

__ADS_1


****


__ADS_2