SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 13 | Rencana Liburan


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku, dengan masih menggunakan baju kuliah. Aku langsung bergegas mandi dan bersiap untuk kekampus.


Setelah selesai aku bersiap untuk sarapan dan aku merasa tidak nafsu makan, entah apa yang terjadi pada diriku. Akupun mencoba memaksakan, agar nantinya aku tidak sakit dan menjadi kuat dalam menghadapi kenyataan yang ada.


Setelah selesai makan akupun berjalan keluar menuju motor, dan ketika aku hendak menaiki, tiba - tiba ponselku berdering. Aku mengeluarkan ponselku dari saku celanaku. Ternyata itu datang dari Cynthia. Akupun keheranan mengapa ia meneleponku, bukankan semuanya telah usai. Akupun mereject teleponnya dan mematikan ponselku. Belum aku memasukan kedalam sakuku ponselku kembali berdering. Ternyata orang yang sama yang meneleponku.


...“Disaat aku ingin melupakannya ia datang kembali, aku tak ingin ia memberikan harapan palsu kedaku yang nantinya akan menyakiti hatiku”....


Akupun mematikan handphone dan memasukannya kedalam saku celanaku. Aku pergi menggunakan simerah, motor kesayanganku.


...****...


Selama diperjalanan aku masih saja memikirkan dia, aku tidak bisa melupakannya. Otakku berkata.


“Kamu harus melupakannya dan segera mencari kebahagiaanmu yang baru”.


Namun kenapa sepertinya hatiku menolak, aku tak tahu apa ini. Yang pasti bagiku bahwa cintaku telah berakhir.


Aku kembali mencoba fokus kejalan, namun aku tetap saja tidak bisa melupakannya. Seolah-olah dia akan menetap selamanya didalam hatiku.


Hingga pada akhirnya terjadi sesuatu padaku. Karena tidak bisa fokus dijalan akupun menabrak pembatas terotoar hingga kepalaku terbentur stang motor dan kemudian terjatuh ke aspal. Akupun mencoba berdiri sambil dibantu orang-orang yang dekat pada kejadian tersebut.


Akupun langsung kembali menuju kekampus dan mencoba untuk fokus keperjalanan dan akupun menekankan pada diriku.


“Fakhri tolong berhenti memikirkannya karenanya kamu menjadi celaka!”. ungkapku dengan tegas.


...****...


Akupun sampai di kampus, aku terlebih dahulu menaruh motorku di parkiran. Lalu aku langsung berjalan menuju kekelas. Selama diperjalanan, langkahku kembali dihentikan oleh Dewi.


“Fakhri, kamu kenapa?, itu berdarah, sini aku obatin!”. ujar Dewi.


“Tadi jatoh di jalan, ga apa-apa kok, gak banyak ini”. jawabku dengan nada pelan.


“Ga apa-apa gimana nanti iritasi, biarin aku obatin, kamu duduk aja disini. Aku mau ambil P3K dulu di UKS. Kamu disini jangan kemana-mana!”. perintah Dewi dengan raut wajah khawatir.


Akupun mengangguk menerima penawarannya dan duduk dikursi yang ditunjuk olehnya. Tak lama Dewi pun datang membawa kotak P3K. ia duduk disampingku, kemudian ia membuka kotak tersebut dan mengambil kapas untuk menghilangkan darah yang menetes. Ia seperti tahu caranya mengobati dan ia juga sangat perhatian. Aku pun berpikir.


“Salahkah sikapku yang bergitu dingin dan cuek kepadanya, padahal ia sangat baik kepadaku, dan tak pernah marah saat aku perlakukan seperti itu”. ujarku dalam hati.


Akupun mencoba agar bisa bersikap baik dan lembut kepadanya. Setelah ia menghilangkan darah, ia pun mengambil Handsaplas, untuk menutupi lukaku. Ia memasangkannya dimana letak lukaku berada. Aku melihat wajahnya, terasa jantungku berdetak kencang.

__ADS_1


“Dilihat-lihat Dewi kalo lagi khawatir gini cantik juga ya”. kataku sembari ternyemum.


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri”. ujar Dewi memperhatikanku.


“Kamu Cantik”. Jawabku.


Iapun tersipu malu mendengar perkataanku dan berusaha menundukan wajahnya sembari menyebunyikan senyumnya yang manis itu. setelah itu dosen datang didepan kami tanpa aku sadari.


“Ehem, ehem?”.


“Eh, pak Ahmad, mau ngajar ya pak?”. jawabku dengan senyum-senyum.


“Udah pacarannya”. ujar pak Ahmad.


“Kita ga pacaran pak, ini kami juga mau kekelas”. ujarku sambil mengeles.


Kemudian Pak Ahmad menasihati kami dengan panjang kali lebar kali tinggi. Akupun memberi kode pada Dewi untuk pergi kekelas. Aku dan Dewi pun langsung berdiri dan meninggalkan pak Ahmad sendiri yang sedang menasehati kami. Tanpa ia sadari kami berdua pergi dari tempat itu.


...****...


Setelah waktu pembelajaran usai kamipun menuju ke kantin. Seperti biasa kami selalu bersama, kapanpun dan dimanapun. Bagi kami persahabatan itu lebih penting dari pada pacar. Itu sebabnya sahabat - sahabtku pada jomlo. Sebutan untuk mereka yang aku berikan adalah KOJON yang artinya Kumpulan Jomlo Ngenes. Dan tidak termasuk aku.


Setelah dikantin seperti biasa kami memesan makanan yang sama yaitu bakso. Kami tidak perlu lagi memesannya kepada Bu Juni. Kami datang langsung disuguhkan makanan sebab menu yang kami pilih sama dan tak pernah berubah.


“Aku boleh duduk disini?” ujar Dewi sambil meminta.


“Boleh, silahkan aja”. ujar ku dengan pelan.


Ia duduk diantara aku dan Dion. Dion pun mulai perhatian pada Dewi sampai-sampai ia selalu menggombal dan mengeluarkan kata-kata bucinnya. Akupun menyadari bahwa Dion pasti menyukai Dewi, dari gelagatnya saja sudah terbaca olehku.


Akupun kembali menikmati makananku, dan membiarkan Dion untuk dekat dengan Dewi. Setelah aku selesai makan, aku mengambil hp ku yang berada di saku celanaku. Akupun mengaktifkan kembali ponselku yang telah aku matikan tadi dirumah. Setelah aku melihat ponselku banyak sekali miss call dari Cynthia yaitu sekitar 30 kali. Aku sengaja membiarkannya karena aku tak mau mendengar ia lagi dan aku tak mau mengingatnya lagi. Karenanya aku tak bisa fokus dalam melakukan sesuatu.


...****...


Michalle menyampaikan sesuatu kepada kami.


“Besok kan hari minggu, gimana kita ke gunung Gede, treveling?”


“Ayo, gue setuju”. ujar Rifki.


“Gimana kalian semua setuju ga, Dewi kalo mau ikut ga apa-apa gabung aja sama kita”. Ujar Dion.

__ADS_1


“Oyo gue juga setuju”. Ujar Santi.


“Gue juga setuju, sambil refreshing biar ga bosen”. ujarku.


“Yaudah nanti sore kita langsung berangkat, lalu kita kumpul dimana?”. Ujar Santi.


“Ditaman deket rumah gue gimana?”. Ujar Michalle.


“Yaudah deh disitu”. ujar Dion menyetujui.


“Jam 4 sore ya jangan ngaret!”. ujar Michalle.


“Oke siap”. Ujar Rifki.


“Gue ga tahu alamatnya?”. Ujar Dewi mencari teman.


“Lu berangkatnya sama gue”. Ujar Dion menawarkan.


“Iya bener tuh lu sama Dion?” Ujar Santi menyakinkan.


Dewi melirik kearah ku yang diam dan tak bergumam apapun. Lalu ia menghela nafas dan kembali lurus pandangannya, dan berkata.


“Yaudahdeh iya gue bareng lu?”. Ujar Dewi menyetujui.


...****...


Selesai makan aku dan sahabatku pergi dari kantin menuju kekelas. Datanglah suara yang memanggilku. Akupun terhenti dan menengok ke belakang. Sementara itu sahabat-sahabatku jalan terlebih dahulu meninggalkanku.


Ternyata Dewi yang memanggilku. Akupun berjalan dan menghampirinya. Menayakan mengapa ia memanggilku.


“Ada apa kamu panggil aku?” ujarku merasa heran.


“Kamu kok gak ngajak aku?” ujar Dewi menyindirku.


“Ngajak kemana”. ujarku dengan bingung.


“Dasar Gak Peka?”. ujar Dewi dengan kesal.


Kemudian Dewi pergi meninggalkanku.


“Aku merasa heran mengapa ia marah dan pergi begitu saja padahal ia yang memanggilku, tapi dia juga yang pergi duluan. emang dasar cewek aneh”.

__ADS_1


Kemudian akupun melangkah melanjutkan perjalananku yang tertunda sebelumnya. Sambil memikirkan mengapa Dewi marah padaku?.


__ADS_2