
Setelah menempuh perjalanan yang tak jauh. Akhirnya aku telah sampai dirumah Cynthia. Ia kemudian turun terlebih dahulu dari motor dan menyerahkan helm yang dipakainya kepadaku. Akupun membuka helm yang aku kenakan.
Tiba-tiba Cynthia terdiam dan tak berkata-kata lagi.
“Biasanya dia terus-terusan ngoceh sampai aku pergi baru dia diam”, gumamku dalam hati.
Merasa penasaran akupun ingin sekali bertanya kepadanya, namun aku takut ia marah karena terlalu ikut campur. Aku tak bisa menghilangkan rasa penasaranku terhadap Cynthia, akupun berusaha untuk berani bertanya kepadanya, untuk menghilangkan rasa yang penasaran yang ada dihatiku.
Akupun mencoba bertanya kepadanya dengan kata-kata yang baik agar tidak menyinggung perasaannya
“Kamu kenapa kok diam aja?, kamu sakit?, coba cerita sama aku, kali aja bisa membantu?”
“Kalo aku cerita kamu marah enggak sama kamu?” tanya Cynthia dan tak menjawab pertanyaanku.
“Kenapa harus marah!” kataku menyakinkan.
Kemudian Cynthia menghela nafas panjang dan kemudian berkata sesuatu yang tersimpan didalam hatinya
“Nanti malam aku harus kembali lagi ke Jogja, jadi aku enggak bisa lama-lama disini. Tapi aku janji jika aku sudah wisuda, aku akan selalu nemenin kamu terus”.
Kali ini akulah yang terdiam mendengar semua perkataan Cynthia bahwa ia akan pergi meninggalkanku kembali. Tiada yang bisa aku lakukan untuk menahannya, aku pun harus bisa sekuat hati untuk menjalin hubungan jarak jauh seperti kemarin.
Melihat aku yang terdiam, membuat Cynthia berkata kepadaku
“Kok malah kamu yang diam. Aku kan udah bilang jangan marah!”
“Aku enggak marah kok, aku cuman enggak mau aja kamu pergi lagi dari hidupku!” ujarku menjelaskan isi hatiku yang selama ini tersimpan.
“Kamu kan tahu cita-citaku ingin jadi Dokter, kan kamu sendiri yang mendukung apapun keinginan aku. Kok sekarang malah jadi ginih?” ujar Cynthia.
Aku kemudian meluruskan perkataanku agar Cynthia tak salah paham
“Bukannya gituh. Aku cuman ingin kamu selalu ada di sisiku. Tapi aku ga masalah kok kalo kamu memang mau pergi lagi, tapi kamu harus janji sama aku. Bahwa kamu akan selalu mengingatku dan setia padaku!”
“Aku janji”, ucap Cynthia dengan terlebih dahulu menghela nafas dan mengulurkan jari kelingkingnya.
Aku mencium tanganku yang diikat dengan jari Cynthia dan begitu pula Cynthia mencium tangannya yang terikat jariku.
Cynthia kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan membuka pintu. Setelah itu aku menyalakan motor serta mengenakan helm dan kemudian aku langsung pergi untuk pulang ke rumahku.
****
Setibanya durumah aku mengambil buku dairyku dan membukanya. Terlihat di awal terdapat foto ku dan Cynthia. Lalu dilembar kedua terdapat foto Cynthia seorang dan itu adalah foto yang aku simpan sebelum aku menyatakan perasaan padanya. Aku membuka lembar kosong dari buku tersebut dan menuliskannya.
Dear Dairy.
Nanti malam Cynthia kembali lagi ke jogja
Aku merasa berat untuk melepas kepergiannya
Aku ingin sekali menahan kepergiannya
__ADS_1
Namun apa daya diriku yang hanya bisa diam
Aku pernah berusaha mencoba
Namun, akhirnya Cynthia marah padaku
Bahkan sempat ada kata “PUTUS” dari mulutnya
Atas sebab itulah aku tak lagi berani untuk mengatakannya
Cynthia, jika memang kamu bahagia
Aku tak mengapa engkau pergi
Biarlah hatiku yang merana dalam kerinduan
Engkau baik-baik sajalah disana
Kan ku do’a kan selalu dirimu
Agar tercapai semua mimpi-mimpimu.
Kemudian aku menutup buku tersebut dan menaruhnya di dalam rak buku.
****
Aku sedang bersiap-siap mengenakan kemeja untuk mengantar kepergian Cynthia menuju jogja. Rasanya ku tak sanggup melihat kepergiannya. Namun, aku harus kuat. Sebagai pacarnya aku harus ada di dekatnya untuk menyaksikan kepergiannya.
****
Akhirnya akupun sampai di rumahnya Cynthia. Dan ternyata semua sudah berada di depan rumah.
“Udah lama nunggunya pak?” tanyaku yang merasa tak enak karena telah membuatnya menunggu.
“Enggak kok, emang sengaja biar lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan”, ujar Pak Bambang.
“Udah semua kan Cyn. Semua udah dibawa ga ada yang tertinggal?” tanya Pak Bambang kepada Cynthia.
“Udah kok Pak”, ujar Cynthia.
“Yaudah kita semua langsung berangkat. Fakhri kamu yang setir mobilnya!” perintah pak Bambang.
Akupun menuruti perintah yang diberikan pak Bambang
“Baik Pak!”
****
Akhirnya kamipun sampai di bandara Husein Sastranegara, aku membantu mengeluarkan barang-barang Cynthia yang berada didalam bagasi mobil. Setelah itu kami semua masuk ke terminal 2 untuk menuju ke pesawat Cynthia.
Waktu yang ditentukan telah tiba, dimana Cynthia harus pergi dari kami untuk mengejar cita-citanya.
__ADS_1
Ia kemudian berpamitan pada ibunya dan memeluknya, selanjutnya ia pamit pada ayahnya dan memeluknya. Ia kemudian menghampiri diriku.
“Are you okay?” tanya Cynthia.
“I am fine” jawabku.
“Aku pamitnya, kamu jangan sedih. Kan kita bisa berkomunikasi jarak jauh” ucap Cynthia menenangkanku.
“Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir aku akan setia padamu!” ujarku menyakinkan.
Ia kemudian memelukku dengan pelukan hangat. Aku memeluknya dengan erat. Sudah tiba waktunya tapi rasanya aku tak mau melepaskannya. Namun, aku tak mau egois. Karena aku harus mendukung mimpi-mimpi Cynthia, dan memikirkan kebahagiaannya.
Akupun melepaskan pelukanku dari Cynthia. Ia kemudian berjalan menjauh dariku sambil mengangkat tangannya dan mendadahkannya pada kami semua.
Telah nampak jauh sosok Cynthia dari penglihatanku sehingga membuat hatiku menjadi merana tanpanya.
Kemudian aku dan kedua orang tua Cynthia kembali ke mobil untuk menuju pulang kerumah.
****
Aku berjalan mengenakan motorku yang sebelumnya aku tinggal di rumah Cynthia. Selama diperjalanan aku mulai merindukan Cynthia. Padahal baru sejam yang lalu Ia pergi dariku.
“Sejam saja ia berhasil membuatku merindu dan menjauh darinya membuat diriku harus melawan gejolak rindu yang semakin hari tak akan bisa dikendalikan”.
Ditengah perjalanan aku terhenti. Aku melihat sosok perempuan yang tak asing bagiku. Ia berhenti di pinggir jalan raya, yang sepertinya sedang kesusahan. Akupun menghampirinya.
“Dewi!” panggilku setelah melihat siapa orang tersebut.
“Fakhri!” panggil Dewi. Sehingga kami saling sahut-sahutan menyebut nama.
“Kamu ngapain disini sendirian?” tanyaku yang heran melihat keberadaannya.
“Motor aku mogok, aku telponin tukang bengkel tapi ga dibales-bales”, ungkap Dewi.
“Boleh aku lihat?” tawarku padanya.
“Memangnya kamu bisa?” ucap Dewi meremehkanku seakan tak percaya aku tak bisa memperbaikinya.
“Makanya aku lihat dulu. Isyaallah lah aku bisa!” jawabku menyakinkan.
Setelah mengecek-ngecak dan aku menemukan permasalahannya, maka aku memperbaikinya dengan baik dan hati-hati. Tak butuh waktu lama, akhirnya akupun selesai memperbaiki motor Dewi.
“Motornya udah selesai kamu bisa pulang sekarang!” perintahku padanya.
“Owh, makasih ya kamu udah nolongin aku!” ucap Dewi.
“Sama-sama”, jawabku.
Dewi pun pergi dari tempat ku. Dan aku memasukan peralatan yang tadi aku keluarkan untuk menolong Dewi ke dalam jok motorku. Kemudian aku menaiki motorku dan pergi menuju ke rumah. Hari ini sangat melelahkan bukan fisik tapi hati yang tersakiti atas kepergian Cynthia.
****
__ADS_1