SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 14 | Liburan Bersama Sahabat


__ADS_3

Sore ini waktu yang telah direncanakan oleh sahabat-sahabatku. Bahwa aku ada janji untuk ikut pergi ke gunung Gede bersama-sama. Sesuai dengan janji yang telah disepakati bersama bahwa titik kumpul ditaman dekat rumah Michalle.


Aku mempersiapkan segala perlengkapanku untuk pergi ke gunung. Dengan membawa ransel yang biasa aku bawa setiap melakukan pendakian. Mengenang kembali pendakian, aku kembali teringat kepada Cynthia. Dulu kita semua sering bersama-sama untuk melakukan pendakian, mulai dari gunung bromo, gunung papandayan, gunung pangrango, Gunung Kelimutu, gunung patuha, dan lain-lain.


Dari semua itu yang paling berarti dan paling kukenang selalu adalah gunung Papandayan. Dimana tempat itu aku menyatakan perasaanku kepadanya. Dengan memetik bunga Edelweis. Dengan 3 tangkai bunga tersebut aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan yang tersimpan. Pada saat itu suasana sedang senja.


Aku kembali merapikan segala perlengkapan. Setelah semuanya siap aku mengambil handphoneku dan membuka layar ponsel tersebut. Tanpa aku sadari jemariku mencari nama Cynthia. Namun dengan cepat aku menyadarinya. Aku merasa gengsi jika aku meneleponnya, toh aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dia juga udah bahagia dengan pilihannya yang selalu ada bersamanya.


Akupun langsung bergegas menuju ke taman dekat rumah Michalle. Dengan mengendari motor.


...****...


Setelah aku sampai ditaman dekat rumah Michalle ternyata sudah ada Rifki dan Michalle yang sudah menunggu. Akupun datang menghampiri mereka berdua yang tengah asyik mengobrol. Aku merasa seperti nyamuk yang mengganggu mereka, dengan sadar aku kembali kemotor.


Tak lama datanglah Dion dengan Dewi, ia kemudian datang menghampiriku.


“lu ngapain disini sendirian?”. tanya Dion menyapaku.


“Daripada disana gue jadi nyamuk”. jawabku dengan sinis.


“Yaelah Rifki masih aja usaha, padahal udah ditolak!”. Ujar Dion.


“Yah mendinglah masih terus berusaha dari pada lu cuman diem nunggu cewe dateng, pas deket ditikung sama orang lain, pasti sakit rasanya”. Ujarku sambil menyindir.


“Apaansi bahas itu mulu, mending kita langsung kerumah Michalle buat naruh motor ini!” ujar Dion memberi saran.


Akupun menyetujui saran Dion, dan kamipun meminta izin pada Michalle yang sedang mengobrol dengan Rifki. Tak lama kemudian datanglah Santi yang membawa mobil.


Setelah semuanya telah lengkap kamipun langsung bergegas dengan menggunakan mobil santi. Yang menyetir mobil adalah Dion yang didampingi santi didepan. Aku, Dewi, Rifki dan Michalle duduk dibelakang. Aku merasa canggung duduk disamping Dewi, rasanya seperti kemarin, jantungku berdetak sangat kencang apalagi jika aku menatap wajahnya, jantungku semakin tak karuan.


Kamipun menikmati perjalanan ini. Diperjalanan kami menyayikan beberapa lagu agar tidak bosan dijalan. Dengan lagu yang sedang hits saat ini. Akupun mengikuti beberapa bait lagu.


"S’gala yang kau ucap bohong


Kau lakukan omong kosong


Tak perlu lagi percaya


Kau hanya pura-pura


Kita diujung perpisahan

__ADS_1


Namun selalu kurindukan


Kau luka yang kurindu".


Mendengar lagu tersebut kembali mengingatkanku pada Cynthia. Ia memang telah menyakiti hatiku namun aku selalu merindukannya, bahkan luka ini tak terasa saat aku mengingatnya. Bisa dikatakan aku belum bisa move on darinya. Ia yang selalu menemani diriku walau akhirnya harus menjauh dan menjadi pasangan LDR, aku tak masalah dengan itu, tetapi kesetiaan lah yang telah merusak hubungan ini. Janji suci telah dihianati. Penantian yang ditunggu sudah tak ada lagi. Semuanya telah berakhir.


...****...


Senja telah menyambut kami di gunung Gede. Akupun mengambil ranselku yang ku simpan dibagasi mobil. Kamipun berjalan menuju tempan yang memang benar-benar strategis. Aku berada pada barisan paling akhir. Didepanku ada Dewi. Akupun mengikuti jalan dengan sangat berhati-hati karena jalannya berbatu, jika aku tak berhati-hati maka aku akan terjatuh. Baru aku berpikir seperti itu Dewi terjatuh dan akupun menangkap badannya. Akupun menatap tajam matanya, aku tak tahu apa yang terjadi denganku. Disaat menatapnya seakan sedihku hilang. Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Aku bertanya pada diriku sendiri.


“Apakah cuman aku yang merasakan seperti ini, apa Dewi mempunyai rasa yang serupa denganku”. Gumamku dalam hati.


Terdengar suara batuk dari Dion.


“ehem, ehem?”. Ujar Dion.


akupun memalingkan wajahku dari Dewi, dan melepaskan tubuhnya dari rangkulanku.


“Maaf, nanti kalo jalan hati-hati!”. Ujarku menasihati.


“Iya nanti aku lebih hati-hati lagi, BTW makasih ya udah ditolongin”. jawab Dewi.


“Sama-sama”. jawabku membalas jawaban Dewi.


...****...


Setelah berhasil melewati perjalanan yang berbatu. Kamipun akhirnya sampai dipuncak gunung Gede. Aku menyaksikan senja yang begitu indah. Awan-awan dihiasi warna orange. Dan akupun duduk disebuah batu besar yang mengarah langsung ke terbenamnya matahari.


Disaat yang lain merapikan tendanya, aku malah menyaksikan senja. Sebab bagiku waktu datangnya senja sangat berarti bagiku. Karenanya aku berhasil menembak Cynthia. Dari kejauhan aku menyaksikan terbenamnya matahari, aku merekam momen tersebut. Walau sering melihatnya namun aku tidak ada bosan-bosannya untuk menyaksikannya.


Matahari telah terbenam. Akupun segera membuat tendaku yang belum aku buat karena ingin menyaksikan senja. Aku mencari tempat yang strategis. ketika aku membangun ternyata aku dekat dengan tendanya Dewi. Kemudian Dewi menghampiriku.


“Aku boleh bantu?”. Ujar Dewi menawarkan.


“Silahkan kalo ga ngerepotin”. jawabku.


Akupun memperbolehkan Dewi membantuku. Dan disaat itulah aku mulai mencair dengannya. Aku tidak lagi bersikap Cuek, Jutek lagi kepadanya. Saat itu kami mulai akrab sampai-sampai kami saling bertukar cerita. Pada saat itu aku mulai merasa nyaman saat bersamanya. Tak lama akupun selesai mendirikan tendaku yang dibantu oleh Dewi.


...****...


Malam haripun telah tiba. Banyak tenda-tenda yang berada disini. Kamipun menyalakan lampu digital yang dibawa oleh Michalle. Kamipun duduk melingkar mengelilingi lampu. Kamipun mencoba mencairkan suasana dengan bermain Truth or Dare dengan bernyanyi. Peraturan pun dijelaskan oleh Santi. Alat yang akan digunakan adalah sebuah kertas yang dibuat menyerupai bola, kemudian Santi akan bernyanyi. Dan disaat itupula bola harus berputar dan jika lagu berhenti, dan bola pun berhenti di salah satu orang maka orang tersebut harus memilih Truth or Dare.

__ADS_1


Santi pun memainkan gitar dan mulai bernyanyi.


I’am going under and this time I fear there’s no one to save me


This all or nothing really got a way of driving me crazy


I need somebody to heal


Somebody to now


Somebody to have


Somebody to hold


It’s easy to say, but it’s never the same


I guess I kinda liked the way you numed all the pain


Now the day bleeds into ninghfull


And you’re not here


To get me trought it all…


Lagupun terhenti, dan bola berada ditangan Michalle. Kemudian Santipun menawarkan pada Michalle untuk memilih Truth atau Dare. Ia pun memilih Truth. Maka Santi memberikan pertanyaan.


“Apakah kamu sedang jatuh cinta kepada seseorang?”.


Ia pun menjawab bahwa ia saat ini sedang jatuh cinta kepada seseorang, ia memberikan satu klu bahwa orang tersebut tetap bekerja keras menaklukan hatinya walaupun sudah ditolak berkali-kali. Iapun salut kepadanya dan memberikan sebuah kata yang membuat kami kaget. Bahwa ia membuka hati untuknya namun harus dengan perjuangan.


Akupun berpikir. Ternyata Michalle merupakan orang yang ingin diperjuangkan. Ia tidak mudah menitipkan cintanya kepada seseorang. Ia tidak ingin seperti cewek yang lain salah jatuh cinta dan akhirnya merasakan sakitnya patah hati. Akupun memaklumi apa yang diinginkan Michalle.


...“Wanita itu sifatnya seperti cermin...


...Jika ia dilempar kemudian pecah...


...Maka cermin tersebut masih bisa disatukan...


...Namun tidak dapat dihilangkan bekas goresannya...


...Begitu juga dengan wanita mudah memaafkan...

__ADS_1


...Namun sulit untuk meupakannya”....


__ADS_2