SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 4 | Kejadian Dikantin


__ADS_3

Pagi hari ini saya ada jadwal kekampus. Aku segera mandi dan menyiapkan baju yang aku ingin gunakan kekampus. Setelah selesai mandi dan memakai baju saya terlebih dahulu sarapan pagi untuk menguatkan tenagaku untuk berpikir mata pelajaran hari ini. Setelah selesai makan sayapun langsung bergegas kekampus menggunakan motor kesayanganku simerah.


****


Akupun sampai dikampus dan aku langsung bergegas menuju keruang kelas. Setelah sampainya didalam kelas sudah terbayang dipikiranku sebelumnya bahwa semua sahabat-sahabatku pasti sedang ngerumpi. Akupun merasa heran dengan tingkah laku mereka.


“Kenapa gue bisa punya sahabat aneh kayak mereka” gumamku dalam hati.


Aku langsung menuju kekursiku. Tiba-tiba datanglah Dion menghampiriku dan disusul dengan yang lainnya.


“Ri, Ri, Cintya kemarin kesini?” ujar Dion.


“Iya” jawabku.


“Terus sekarang dia masih disini?”


“Dia udah balik lagi ke jogja kemarin”


“Owh, berarti lu ditinggal lagi?”


“Ya gapapa lah kan yang penting dia bahagia”

__ADS_1


“Cie bucin nih!” ujar Santi.


“Udahlah bicarain Cintya, kita ngomongin yang lain aja”


“Gue ada ide gimana kita ngomongin menu bakso yang baru dikantin” ujar Rifki.


“Yaelah makan mulu diotaklu ga ada yang lain apa?”


“Ga ada” jawabnya ketus


Ia pun menyambung kembali ucapannya.


“makan itu hidup gue kalo ga makan gue akan mati” papar Rifki.


Rifki ini orangnya pinter tapi kadang-kadang suka errorr aja otaknya gue juga ga tahu kenapa penyebabnya, mungkin dia waktu kecil sering makan belalang.


Tak lama setelahnya datanglah dosen pembimbing kami, dan kami pun kembali ke tempat asalnya masing-masing.


****


Waktu istirahat tiba, aku bersama-sama sahabatku menuju kekantin. Aku bergegas dengan jalan perlahan karena waktu istirahat kami adalah 1 jam.

__ADS_1


Aku duduk didekat Santi. Kami memesan bakso yang sering kami pesan hingga pelayannya pun sudah tahu kita datang langsung dikasih 1 porsi bakso. Ternyata embak yang jualnya sudah menyiapkannya untuk kami. Bakso Bu Juni merupakan bakso langganan kami dikampus dan bahkan tempat makan kami pun menjadi tempat tongkrongan sehari-hari disini. Kami pun menikmati bakso tersebut.


Setelah selesai makan aku lebih dulu berdiri untuk kembali kekelas. Namun disaat aku berdiri aku tidak sengaja menyenggol bakso seseorang dan ternyata bakso itu milik Dewi. Dengan refleks akupun memegang tangan dewi agar tidak terjatuh. Dewi pun merangkul tubuhku, dan membiarkan mangkuk bakso itu tumpah dan pecah.


Semua orang yang ada dikantin tersebut memperhatikan diriku terlebih lagi Dion, dia sepertinya cemburu melihat aku merangkul dewi. Aku pun dengan segera melepas tangan Dewi. Dan meminta maaf kepadanya.


“Maaf gue ga sengaja, gue ga lihat kalo ada orang?”


“Ga apa - apa kok”


“Biarin nanti gue yang ganti ke Bu Juni”


“Makasihya udah mau gantiin”


Akupun menjawab pertanyaan dari Dewi yang biasanya tidak pernah aku jawab. Mungkin rasa bersalah yang memaksaku untuk menjawab pertanyaannya.


“Sama-Sama”. jawabku pelan.


Akupun bertanya kembali kepadanya. Aku takut terjadi apa-apa dengan dia. Karena kuah dari bakso itu sangat panas karena baru dituangkan dari wajannya.


“Kamu ga ada yang luka kan atau ada yang sakit?”

__ADS_1


“Ga ada yang sakit kok, ga papa. Kamu jangan kwatir” ujar Dewi.


Setelah aku merasa lega dari jawaban Dewi bahwa dia tidak kenapa-kenapa. Maka aku berpamitan dengannya. Aku pun langsung pergi dari situ dan melangkah bergegas menuju ke ruang kelasku.


__ADS_2