
Hari-hari terus berlalu. Hingga pada saatnya tiba waktunya aku untuk membantu sahabatku itu. Membantunya mendapatkan mimpi cintanya. Meski pernah tertolak tapi ia tetap terus berusaha untuk meluluhkan hatinya, hingga terucaplah sebuah kata dari mulutnya.
“Jika memang malam ini aku kembali ditolak, maka aku menyatakan menyerah dan pasrah. Aku lelah terus-terusan mengejarmu yang terus berlari tanpa pernah berhenti. Jika memang kau tak bisa menerimaku, baiklah aku akan berhenti mengejarmu. Jika kau memilih yang lain dan jika memang membuatmu merasa bahagia, maka aku juga merasa bahagia” ujar Rifki disela-sela waktu kami bersama.
Kami semua yang mendengarkan perkataan Rifki hanya bisa pasrah, kami tak bisa membantunya sebab hati tak akan pernah bisa dipaksakan. Jadi kami semua hanya bisa memberinya semangat dan motivasi agar segera bangkit dari keterpurukan patah hati ini.
****
Akupun langsung menuju ke taman yang telah ditentukan oleh Rifki sebelumnya. Dengan mengendari si merah ini.
Setelah berjalan yang kurang dari satu jam akhirnya akupun sampai di taman. Terlihat dari kejauhan semua orang sedang mendekorasi taman tersebut. Akupun turun dari motor dan menghampiri mereka semua. Terlihat ada Dewi di sini.
“Lu ngapain disini?” tanyaku keheranan sebab Dewi bukan geng kami.
“Bantuin Rifki, ada masalah. Gue diajak sama Dion!” jawab Dewi menjelaskan kehadirannya disini.
“Ga sih. Yaudah kerja yang bener sahabat gue nih!” perintahku pada Dewi.
“Iya-iya bawel” ujar Dewi menjawab pertanyaan ku.
Akupun langsung menuju ke Santi.
“San, ada yang bisa gue bantu?” tanyaku pada Santi.
“Lu bantu Dion rapihin menja dan pasang bunga!” perintah Santi kepadaku dengan nada yang kelelahan.
Akupun menuruti permintaannya dengan membantu dion merapikan meja dan bunga sebagai backroundnya.
kami semua terlihat sangat sibuk dengan tugas masing-masing, sehingga tidak ada yang becanda atau main-main. Terlihat dari kejauhan Rifki yang sedang duduk sendirian. Mungkin saja dia lagi tegang, sebab ia akan menembak kembali Michalle. Ia juga terlihat mengucurkan keringat yang begitu deras, sambil menghafalkan kata-kata yang sudah ia buat sebelumnya.
Setelah semuanya selesai, kamipun kembali kerumah masing-masing, sebelum nantinya datang kembali kesini pukul 8 malam.
****
Bulan purnama bersinar terang menyinari kegelapan bumi yang dihiasi bintang-bintang. Aku telah bersiap dengan pakain yang rapi dan menggunakan parfum. Sebab malam ini sangat berkesan bagi sahabatku. Jadi aku tak ingin mengecewakannya.
Akupun langsung bergegas menuju ke taman yang telah kami persiapkan tadi sore.
Untung saja malam ini suasananya sangat mendukung dan tidak hujan sehingga rencana yang kami buat mudah-mudahan akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan yang kami semua inginkan. Khusunya Michalle dapat menerima cinta dan ketulusannya Rifki.
****
Akupun sudah sampai ditaman. Kami berada di posisi masing-masing yang telah di tentukan. Sementara itu Rifki sedang menjemput michalle dirumahnya. Kamipun menunggu kedatangan mereka.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Michalle dan Rifki telah datang. Rifki pun meminta pada Michalle untuk menutup matanya dengan kain hitam, sebagai surprise untuknya.
__ADS_1
Setelah Michalle menutup matanya, Rifki pun menuntunya berjalan menuju tempat yang telah kami persiapkan. Hingga ia sampai di suatu tempat yang telah dihiasi bunga dan lampu yang telah mewarnai tempat ini. Perlahan-lahan Michalle membuka matanya. Ia pun terlihat kagum dan bahagia melihat semua yang dilihatnya. Kamipun berhasil membuat Michalle kagum dengan apa yang telah kami persiapkan.
Rifki pun mulai menjalankan misinya, ia kemudian berlutut dihadapannya sambil menggenggam setangkai bunga mawar putih. Kemudian ia menyampaikan maksud dan tujuannya.
“Sel, aku tahu kamu pernah menolak aku. Tapi, aku tak akan pernah menjauh darimu dan aku akan tetap setia menunggu kamu siap menerimaku. Sel hari ini aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku kembali. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, aku mau kamu menjadi bagian dalam hidupku. Maukah kamu menerima cintaku?” ujar Rifki memohon cintanya Michalle.
“Tapi kalo kamu ga bisa menerima cintaku gapapa kok, aku ikhlas. Tapi aku mohon tolong jawab pertanyaanku dulu!” pinta Rifki.
“Aku akan jawab perasaan kamu!” ujar Michalle membuat suasana menjadi tegang.
“apa jawaban kamu?” tanya Rifki.
“Setelah melihat perjuangan kamu yang tak pernah putus asa untuk meluluhkan hatiku. Jadi aku mau………” ucap Michalle masih membuat keadaan tegang.
“Mau?” ujar Rifki kebingungan.
“Mau jadi pacar kamu!” ujar Michalle memecahkan tegang suasana.
“Beneran” tanya Rifki merasa tak percaya.
“Iya benar, aku mau jadi pacar kamu!” jawab Michalle menyakinkan pertanyaan terebut.
Setelah Michalle menerima cintanya Rifki maka kami menjalankan tugas selanjutnya. Yaitu menembakan sebuah party popper kearah meraka berdua. Dan kami semua menghampiri mereka.
“Selamat ya!, udah ga jomblo lagi sekarang!” ucap Santi mengucapkan selamat pada kedua pasangan tersebut.
Dan diikuti oleh Dion dan Dewi.
Setelah itu kami semua menikmati makanan yang telah dipersiapkan. Rifki memberikan sebuah cake pada Michalle yang diatasnya terdapat sebuah lilin yang menandakan angka 0. Yang menandakan hari pertama pacarannya. Michalle pun meniup lilin tersebut. Aku dan yang lainnya kembali menikmati makanan yang sudah ada di meja makan.
****
Setelah acara ini selesai, Rifki meminta izin untuk menggantarkan Michalle pulang karena ia tak boleh pulang malam oleh orang tuanya. Kami semua mengizinkannya. Setelah itu kami harus merapikan taman ini yang telah kami pasang berbagai macam dekor. Kamipun harus pulang agak malam untuk merapikan ini semua. Untungnya Santi dan Dewi sudah mendapat izin dari orang tua. Kamipun dengan cepat memberesi tempat ini.
Setelah semua selesai dirapikan kamipun langsung mengarah keparkiran. Dion harus menghantarkan Santi pulang, namun ia menolak, sebab ia ingin mengantarkan Dewi pulang. Aku tak mengantarkan Santi pulang sebab lokasinya yang sangat jauh ditambah lagi aku tak tahu arah menuju rumahnya Santi. Sebab ia memiliki dua rumah, dan yang kutahu adalah rumah orang tuanya bukan rumah kakaknya. Kemudian Dewi pun berkata.
“Gapapa kok Dion, gue bisa pulang naik ojol. Lu anterin Santi pulang aja!” pinta Dewi pada Dion.
“Tapi kamu?” ujar Dion.
“Aku gak apa-apa!” papar Dewi menyakinkan.
“Owh, yaudah aku duluan ya!” ujar Dion.
“Iya, hati-hati!” perintah Dewi mengingatkan.
__ADS_1
Aku yang hanya diam saja kemudian berkata dan menawarkan pulang denganku.
“Lu pulang sama Gue!” perintahku pada Dewi.
“Aku pulang naik ojol!” tolak Dewi halus.
“Ini udah malem, bahaya buat cewek. Jadi gue anterin lu pulang. Jangan ngebantah lagi” ujarku dengan tegas dan peduli padanya.
“Tap…” ujar Dewi.
“Jangan ngebantah. Cepetan naik!” sela ku memberhentikan ucapan Dewi.
“Iya nih aku naik” ucap Dewi.
Akupun menggantarkan Dewi pulang untuk menjaganya agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
****
Akupun sampai dirumah Dewi. Dan aku turun dari motor memastikan bahwa Dewi telah masuk kerumah dengan selamat dan aman. Dewi pun menanyakan padaku
“Mau pamitan dulu sama mamah?” tanya Dewi dengan nada pelan.
“Belum tidur?” tanyaku pada Dewi.
“Biasanya sih masih belum tidur. Aku panggil dulu ya!” ujar Dewi memintaku menunggu.
Dewipun masuk kedalam dan memanggil mamanya. Tak perlu waktu lama, mamahnya pun datang menghampiriku.
“Mau pamit, ga mampir dulu gituh, ngobrol-ngobrol” tanya tante Iren. Mamahnya Dewi.
“Ga tante, kan udah tadi. Saya langsung pamit ya tante!” ujarku pada tante Iren.
“Yaudah, hati-hati dijalan. Terimakasih ya udah anterin Dewi!” ujar tante Iren.
“Iya, sama-sama tante!” ucapku padanya.
“Wi, gue pamit” ujarku kembali.
“Iya, hati-hati” ujar Dewi.
“Iya” jawabku pada Dewi.
Akupun langsung bergegas meninggalkan rumah Dewi. Dengan mengantar Dewi pulang aku teringat akan Cynthia.
“Biasanya saat ada acara seperti ini aku selalu mengantarkan dia pulang meski sudah larut malam” gumamku dalam hati.
__ADS_1
Akupun kembali fokus pada jalan yang memang masih agak ramai walaupun sudah malam. Dengan tetap hati - hati aku mengendari motor hingga nanti aku sampai dirumah.
****