
Akhirnya tugasku semua selesai. Akupun pulang segera pulang ke rumah. Setibanya di rumah aku membuka kunci pintu rumah dan segera memasukan motorku ke dalam. Aku langsung mandi dan membersihkan badan karena lengket dan bau karena keringat yang begitu deras.
Setelah mandi aku pun langsung menuju kekamar. Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan, sebab banyak tugas yang aku kerjakan dari Pak Amir. Rasanya tangan ini begitu ditambah lagi seluruh badanku yang sakit semua. Akupun sepertinya harus terbiasa dengan pekerjaan ini agar nantinya tidak terasa lelah dan mengeluh dalam menjalaninya.
****
Aku pun terbangun dari tidurku dan langsung mengarah ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Sebelumnya aku telah mempersiapkan sarapan pagiku.
Setelah selesai mandi dan berpakaian kantor, akupun mengambil sarapan tersebut. Sambil membuka hp aku menbuka profil whatsapp Cynthia.
“Cynthia seandainya kamu tahu aku sangat sayang sama kamu dan aku tak bisa melupakanmu dari hati dan hidupku. Rasanya sangat sulit sekali. Aku sudah mencoba tapi sama saja aku tak bisa melupakanmu. Seandainya waktu bisa diulang. Aku tak mau putus dari kamu. Aku mau kamu tetap menjadi pacarku” gerutuku ketika menatap foto Cynthia.
****
Aku langsung berangkat ke kantor dengan menggunakan motor. Namun, entah kenapa motorku itu tak bisa nyala. Akhirnya aku memutuskan untuk naik bis. Akupun memasukan kembali motorku ke dalam rumah.
Akupun berjalan kaki menuju halte bis. Lalu, aku ketemu dengan Dewi.
“Ngapain kamu disini?” tanya Dewi kepadaku.
“Lagi nunggu bis!” jawabku singkat.
“Motor kamu kemana?” tanyanya kembali.
“Motor gue ga bisa nyala!” jawabku.
“Owh, yaudah lu mau ke tempat magang kan. Ayo bareng sama gue!” ujar Dewi kepadaku.
“Ngapain lu ke sana. Bukannya kuliah?” tanyaku keheranan dengan mengerutkan dahi.
“Aku magang disana juga. Ayo mau bareng ga. Daripada disini nungguin. Nanti telat loh?” tawaran Dewi padaku.
“Yaudah deh gue bareng sama lu. Tapi gue yang bawa!” jawabku atas tawaran Dewi.
“Yaialah masa aku yang bawa” ujar Dewi padaku.
Akupun berangkat dengan Dewi menuju ke kantor dengan alasan agar tidak telat, nanti bakal di marahin sama Pak Ilham.
****
Akhirnya setelah perjalanan jauh dari bogor ke jakarta. Kamipun sampai di kantor. Akupun membuka helm. Namun, sepertinya Dewi kesulitan membukanya.
“Sini gua bantu!” tawarku pada Dewi.
Akupun membantunya membuka helm. Disaat itu aku menatap matanya. Seperti ada rasa nyaman ketika melihat dua bola mata tersebut. Akupun langsung mengarahkan pandanganku ke samping agar tak lagi degdegan saat menatapnya.
Aku langsung masuk ke kantor bersama Dewi. Aku langsung ke tempat kerjaku sedangkan Dewi bertemu terlebih dahulu dengan HRD.
__ADS_1
“Nanti kalo lu ketemu HRD hati-hati. Bapaknya galak!” ucapku memperingatkan atau bisa jadi menakutinya.
****
Ketika aku sedang mengerjakan tugas aku terhenti sejenak melihat kedatangan Dewi.
“Lu ngapain disini. Jangan-jangan lu terus-terusan ikutin gue ya?” tuduhku dengan menyindir.
“apaan sih orang aku lagi nyari meja kerjaku!” jawab Dewi membantah tuduhanku.
“Nomor berapa?” tanyaku kepada Dewi.
“Nomor 76” jawab Dewi.
“Kok lu bareng terus sih sama gua. Mejalu disamping gue. Perasaan bumi ini sempit bangat ketemunya 3L?” ujarku.
“Apaan 3L?” tanya Dewi heran.
“Lo lagi, Lo lagi dan lo lagi” jawabku menjelaskan.
Dewipun duduk di meja dekat berada di sampingku. Akupun kembali fokus dengan mengerjakan tugas dari pak Ilham yang sebelumnya terhenti.
****
Waktu jam istirahat telah tiba. Akupun menuju ke kantin.
“Ke kantin!” jawabku singkat.
“tunggu aku bareng!” pinta Dewi dengan berjalan terburu-buru menuju kearahku.
Aku dan Dewi berjalan bersama ke kantin. Setelah dikantin akupun langsung berkumpul dengan teman-teman yang lain yang sama-sama sedang magang sepertiku. Dewi yang berjalan disampingku terus mengikutiku. Akupun duduk diantara mereka.
Aku memesan makanan untuk mengisi perutku.
“Mbak, saya pesan nasi goreng ayam rica-rica ya!” pintaku pada pelayan yang mengantarkan menu makanan kepadaku.
“Siap mas, ditunggu ya.!” balas mbak pelayan tersebut.
“Kalo mbaknya” tanya pelayan tersebut kepada Dewi.
“Wi. Ditanya juga, malah ngelamun. Lu mau makan apa?” tanyaku pada Dewi.
“Samain aja sama kamu!” jawab Dewi.
“Samain aja katanya mbak!” ujarku kepada pelayan.
Pelayanan tersebut kemudian pergi dari hadapan kami. Akupun merasa kepo, kenapa Dewi melamun.
__ADS_1
“Wi, lu kenapa ngelamun?” tanyaku dengan rasa ingin tahu.
“Gapapa” jawab Dewi singkat.
“Udah cerita aja. Biar tenang juga hatilu!” perintahku padanya.
Kemudian depun setuju dengan perintahku. Ia kemudian menceritakan semua keluh kesahnya. Sebagai pendengar yang baik aku menghargai dan menghormatinya. Aku hanya bisa mendengarkannya karena aku tak bisa bantu sebab ini urusan Dewi. Jadi, aku tak mau ikut campur.
Sebagai seorang teman. Akupun memberikan saran kepadanya agar tidak kepikiran terhadap masalah yang dihadapinya. Setelah itu pelayan tadi kembali datang dengan menghantarkan pesanan kami. Akupun mengambil sendok. Lalu Dewi pun mengambil sendok. Sehingga tanganku dan tangan Dewi bertumpuk untuk mengambil sendok yang sama. Akupun manarik tanganku.
“Lu duluan aja!” ujarku pada Dewi.
“Gue duluan ya?” jawab Dewi.
“Iya, silahkan!” ujarku mempersilahkan dengan rasa grogi ketika dekat dengannya.
Kamipun menikmati makanan yang kami pesan. Setelah makan kamipun berbincang-bincang dengan orang yang lainnya.
Waktu jam istirahat pun berakhir. Aku dan Dewi kembali ke tempat kerja masing-masing. Aku mendapat telefon dari pak amir untuk datang ke ruangannya. Mungkin saja aku suruh mengerjakan tugas lagi, yang ini pun belum selesai sudah nambah lagi.
Akupun tak ambil pusing. Aku hanya menikmati semua yang kulakukan dan aku anggap ini adalah pembelajaran dan cobaan hidup.
Akupun berjalan menuju ke ruangan pak Ilham. Benar saja ia memberiku pekerjaan yang begitu banyak. Aku pun pasrah menerimanya. Aku selalu memotivasi pad diriku sendiri agar menikmati semua perjalanan yang dilalui dan melewati semua rintangan yang menghadang.
Akupun kembali ke tempat kerjaku dengan mengandeng semua berkas dari Pak Ilham.
Ketika sampai dimeja kerjaku.
“Ditambah lagi kerjanya?” tanya Dewi yang melihatku membawa banyak berkas.
“Iya” jawabku singkat.
“Semangat!” ujar Dewi memberikanku semangat.
Akupun mengerjakan semua tugas dengan baik dan benar dengan penuh kehati-hatian.
****
Setelah jam kerja selesai. Akupun langsung turun keluar kantor untuk pulang. Aku berencana menaiki bis. Tapi, datang Dewi dengan motornya.
“Ayo, bareng aku?” tawar Dewi padaku.
“Gue naik bis!” tolak ku padanya.
“Oyo sama aku aja. Kan kamu yang selalu ngajak aku bareng. Jadi, sekarang aku mau balas kebaikan kamu!” papar Dewi.
Akupun menurutinya. Seperti sebelumnya aku yang mengendari motor Dewi. Aku berhenti di halte bis yang tak jauh dari rumahku. dewipun pergi dengan mengendari motornya.
__ADS_1
Aku berjalan kerumahku dengan jalan kaki. Aku merasa lelah sekali tapi aku harus tetap semangat dan tetap harus menikmati semua perjalanan yang sedang dilewati.