SUARA RINDUKU

SUARA RINDUKU
Part 17 | Kado Spesial Dari Kampus


__ADS_3

Pagi hari ini aku sudah siap untuk berangkat kekampus. Sebelum itu saya terlebih dahulu sarapan pagi agar menguatkan otak dan hati.


Setelah sarapan pagi selesai. Akupun mengambil ransel dan kunci motor. Aku langsung mengunci pintu dan berjalan menuju ke parkiran motorku yang aku taruh didepan rumah.


Akupun menyalakan motorku dan setelah itu aku bergegas menuju kekampus. Selama perjalanan aku masih tetap saja memikirkan Cynthia. Bayang-bayang wajahnya, dua bola matanya yang tajam dan alisnya yang tipis selalu teringat dipikiranku. aku hanya membiarkan saja semua bayangan itu terlintas. Aku berpikir.


“Jika sudah waktunya pasti ilang sendiri” pikirku dalam hati.


****


Akupun sampai dikampus dan langsung bergegas menuju kekelas. Namun, mereka tidak ada dikelas.


“Masa pagi-pagi gini udah ngebakso aja?” gerutuku menebak-nebak.


Langkah ku langsung mengarah kekantin. Ternyata benar mereka semua sedang ada disana. Bukan makan bakso tapi mereka sedang minum teh anget. Akupun menghampiri mereka.


Akupun mengambil duduk disebelah Dion. Mereka sedang membicarakan mengenai masalah kapan dan dimana tempat magang. mereka memberikan usulan.


“Bagaimana kalo kita di PT. Citra Karya Persada” saran Michalle.


“Jangan disitu ada om gue. Kalo gue kerjanya males-malesan nanti diaduin ke bokap dan nyokap gue!” tolak Rifki tak setuju.


“ahh luh” desis Santi kesal.


“Gimana kalo di PT. Karya Sumardi disitu ada om gue. “ada orang dalem” gimana menurut kalian?” ujar Santi memberi saran.


“Jangan disitu bosnya galak” ucap Rifki.


“Terus dimana? Ada saran lain?” ujar Michalle.


“Buat saat ini ga ada!” ucap Dion.


“Kalo menurut lu gimana Ri?” tanya Santi.


“Ri!, Fakhri!” panggil Santi.


Akupun terkejut mendengar pertanyaan tersebut.


“Eh iya apa?” jawabku tanya kembali.


“Ada Cynthia noh?” ujar Santi.


Akupun menoleh kebelakang ternyata tidak ada Cynthia melainkan Dewi yang datang. Ia menghampiri ke arah ku.


“Fakhri, tadi kamu dipanggil sama Bu Rahma!” ujar Dewi


“Gue dipanggil ada apa?” tanya ku pada Dewi dengan keheranan.

__ADS_1


“Ga tahu, aku disuruh panggil kamu gak tahu buat urusan apa!” papar santi menjelaskan.


Akupun langsung beranjak dari tempat dudukku dan langsung menuju keruangannya.


****


“Assalamu ‘alaikum” ucapku sambil mengetuk pintu.


“Walaikum salam silahkan masuk” seru Bu Rahma mempersilahkan.


“Ada apa bu panggil saya?” tanyaku kebingungan.


“Silahkan duduk dulu!” suruh Bu Rahma memintaku duduk.


“Ada apa bu?” tanyaku kembali yang kebingungan.


“Kamu saya persilahkan untuk magang, dan perusahaan yang telah tersedia untuk kamu adalah PT. Citra Manggala Makmur. Kamu besok datang untuk menyerahkan izin dari kampus untuk magang disana!” papar Bu Rahma.


Akupun merasa senang dan bahagia. Akupun ingin berteriak karena saking bahagianya, tetapi aku tahan dan tetap sopan dihadapan bu Rahma.


****


Akupun berjalan keluar dari ruangan bu Rahma. Aku langsung menuju kekelas. Ternyata jam pembelajaran pun telah dimulai 20 menit yang lalu. Akupun berjalan dengan menemui dosen dan meminta maaf atas keterlambatan ini karena ada sesuatu hal yang penting.


Magang merupakan langkah ku menuju gerbang kelulusan. Sebentar lagi aku akan diwisuda, tak terasa perjalanan waktu begitu cepat sehingga aku tak menyangka berada pada saat ini.


Mengingat aku akan lulus. Aku kembali teringat dengan janjiku pada Cynthia, bahwa jika lulus nanti aku akan langsung melamarnya. Namun, apakah janji itu masih berarti untukku. Akupun tak mau ambil pusing dan aku haya fokus pada kuliahku dan menyelesaikan semua mata kuliah yang tertinggal.


****


Jam istirahat telah tiba. Aku dan sahabatku menuju kekantin. Seluruh kantin dipenuhi oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang kelaparan. Kamipun tidak dapat tempat untuk duduk, tak seperti biasanya kami datang terlambat, karena kami harus membicarakan sesuatu yang penting.


kamipun menuju ke perpustakaan. Aku mencari buku untuk aku baca sedangkan yang lain hanya duduk dan main hp. Setelah aku mendapatkan buku yang aku cari. Akupun langsung mengarah ke meja untuk membacanya. Tiba-tiba datanglah Dewi menghampiriku dengan membawa buku bacaannya.


Dewi duduk dihadapanku. Aku menatap ia sering mencuri-curi pandang ke arahku. Akupun mendiamkannya saja tanpa melarangnya. Aku kembali fokus dan hanya fokus terhadap bacaan dalam buku ku ini.


Dewipun membawa cemilan yang ia beli dari kantin. Ia menawarkannya kepadaku. Dan disaat aku mau mengambilnya aku malah memegang tangan Dewi.


“Maaf!” ujar ku pada Dewi.


“Gapapa kamu duluan!” ucap Dewi mempersilahkan.


“Ga lu duluan. Inikan punya lu!” tolak ku atas permintaan Dewi.


“Yaudah, aku dulu. Tapi kamu ambil juga ya!” pinta Dewi padaku.


“Iya” ucapku singkat.

__ADS_1


Aku tak mau berdebat lama-lama dengannya. Mengalah lebih baik untuk mengurangi emosi yang terpendam yang nantinya merusak suasana.


****


Setelah waktu istirahat berakhir kamipun langsung pergi dari perpustakaan menuju ke kelas. Aku berjalan paling belakang. Terlihat Dewi malah terhenti yang tadinya berjalan didepan. Aku pun berjalan menghampirinya.


“Lu ngapain diem disini, bukannya jalan?” tanyaku padanya.


“Nunggu kamu!” jawab Dewi dengan senyum.


“Ngapain nunggu gue?” tanyaku kembali yang tak paham.


“Lu mau ya anterin aku ke kelas!” pinta dewi memelas.


“Ngapain, lu bisa jalankan!” tolakku tak menyetujui.


“Pliss, kaki aku masih sakit. Jadi papah ya!” pinta Dewi kembali.


“Tadi lu baik-baik aja. Kenapa sekarang sakit, kan seharusnya sakitnya diawal?” ujarku padanya.


“Pokoknya kamu harus anterin aku! Titik gapake koma” ujar Dewi dengan nada tegas.


Akupun mau tak mau harus mengantarnya karena banyak orang yang memperhatikan kami. Apalagi tingkah Dewi yang duduk dilantai membuat banyak orang tertarik memperhatikannya. Dengan berat hati aku menyetujui permintaannya. Akupun memapahnya menuju ke kelasnya. Banyak orang yang memperhatikan kami selama di perjalanan menuju kelas Dewi. Tapi, aku cuekin saja sebab aku tak mau ambil pusing dengan ocengah orang lain. Sudah menjadi kewajiban yang melekat pada diri manusia layaknya HAM. Selain untuk makan ternyata mulut manusia untuk membicarakan orang lain.


****


Setelah mengantar Dewi. Akupun langsung bergegas menuju ke kelasku. Dengan langkah cepat, aku harus sampai ke kelasku sebelum dosen datang terlebih dahulu.


Akupun sampai dikelas untuk saja aku tepat waktu dan dosen yang mengajari kami pun belum datang. Aku langsung bergegas berjalan ke meja ku tanpa harus nimbrung dulu dengan teman - temanku.


Akupun mengambil handphoneku. Ada chat masuk dari Cynthia.


“Apa kabar?” tanya Cynthia.


Akupun menjawab pesan tersebut.


“Baik. Kamu apa kabar?” balasku.


“Baik juga. Aku harap kita bisa bertemu, kamu ada waktu?” tanya Cynthia.


“Untuk saat ini aku sedang sibuk. Mungkin nanti akhir tahun” jawabku.


“Owh, yaudah gapapa” ujar Cynthia.


Ia tak lagi chat ku dan aku melihat foto profilnya.


“Cantik” gerutuku memuji parasnya.

__ADS_1


Dengan menatapnya saja membuat hatiku merasa tenang dan nyaman. Jujur aku masih menyanyangi dan masih mencintainya tapi waktulah yang telah mengubah semua itu. Aku harapa semoga waktu menuntun jalanku menuju cinta sejatiku Cynthia.


__ADS_2