
Ya, Xie Lin dan Aku memiliki hubungan yang cukup baik juga akhir-akhir ini, walaupun masih ada beberapa perasaan yang mulai tumbuh di hatiku namun aku masih belum benar-benar berani, terutama karena statusku dan gangguan dari Meilin.
Hanya bisa menahan perasaanku dan berteman baik dengannya untuk saat ini. Namun aku tidak tahu tentang perasaan yang Gadis itu miliki padaku.
"Yuwen? Ini benar-benar Kebetulan kita bertemu di sini,"
"Ya, aku juga tidak mengira. Kamu ke sini dengan siapa?"
"Aku kebetulan ke sini sendiri bagaimana denganmu?"
"Aku juga kebetulan ke sini sendiri. Namun tumben kamu datang ke mall sendiri Kamu ingin membeli apa?"
"Hanya beberapa baju yang nantinya akan Aku sumbangkan,"
Aku terkejut mendengar kata-kata itu, aku tahu gadis yang ada di depanku ini sangat baik, dan alasan kedekatan Kami adalah karena kebetulan gadis yang ada di depanku ini merupakan salah satu Donatur Panti Asuhan itu. Yah, sebenarnya tidak hanya Panti Asuhan itu namun gadis di depanku ini merupakan sukarelawan yang menjadi donatur di beberapa Panti Asuhan.
Ya, gadis yang sangat baik dan memiliki kelembutan seperti malaikat. Belakangan aku tahu Panti Asuhan tempat Aku tinggal dulu, masih memiliki kehidupan yang cukup baik selama ini karena donasi dari gadis yang ada di depanku ini.
"Kamu akan ke Panti Asuhan?"
Kami berdua sebelumnya pernah bertemu di tempat panti asuhan aku dibesarkan secara kebetulan di salah satu kunjungan saat dia berdonasi.
"Ya, Hari ini aku memiliki kunjungan ke Panti Asuhan Y, jika aku memikirkannya Bukankah ini Kebetulan, tempat kamu dulu tinggal,"
"Ini memang benar-benar kebetulan karena aku juga memiliki rencana untuk ke sana, aku juga datang ke sini untuk memberi beberapa mainan untuk anak-anak,"
__ADS_1
Xie Lin, yang mendengar itu segera tersenyum terlihat cukup senang juga dengan kebetulan ini.
"Astaga, Bagaimana jika kita berkeliling dan mencarinya bersama? Aku akan membeli beberapa baju anak-anak dan kamu akan membeli beberapa mainan, Pasti anak-anak akan sangat senang,"
"Itu terdengar seperti Ide yang bagus,"
Berikutnya kami berdua mulai asik dan berkeliling Mall, untuk mencari baju dan beberapa mainan bagus.
Mana tahu, saat kami ada di toko baju, aku bertemu wajah yang familiar yang tidak ingin aku lihat. Itu adalah Meilin yang saat ini tengah memilih beberapa gaun mahal tidak jauh dari tempat kami berbelanja.
Ya, Aku memberikan dia sebuah kartu kredit untuk bisa membeli apapun yang dia mau sebagai salah satu bentuk tanggung jawabku, Limitnya sangat besar, namun tetap saja jika itu Meilin, berapapun uangnya akan selalu habis melihat seberapa borosnya dia.
Hah...
Sial, hanya memikirkan uang hasil kerja kerasku dia gunakan untuk foya-foya dan hura-hura semacam itu membuat aku kesal. Bagaimana jika Aku menikah dengannya lagi nanti?
Bukannya aku seseorang yang pelit, namun semakin Aku memikirkan tentang bagaimana Meilin memiliki kehidupan yang boros aku merasa tidak senang.
Ya, bukanlah Xie Lin lebih baik?
Xie Lin merupakan Nona dari keluarga kaya namun sebagian besar uang jajan yang dia miliki dia berikan dan sumbangkan untuk donasi anak-anak atau beberapa yayasan sosial. Aku tau, semua pakaian tas dan barang-barang yang di pakai Xie Lin juga mahal, namun jika melihatnya lagi hal-hal yang dia pakai tidak terlalu berganti-ganti.
Xie Lin memiliki jenis penampilan dan pakaian yang khas khusus untuk dirinya sendiri. Bisa dibilang cukup rendah hati jika di bandingkan Meilin.
Aku tahu tidak ada gunanya membandingkan antara tanah dan langit, namun tetap saja ketika melihat dua orang itu yang berbelanja dengan tujuan yang sama sekali berbeda membuat aku mau tidak mau membandingkan dua orang itu.
__ADS_1
Segera Aku ingin mencoba melarikan diri agar Meilin tidak melihatku.
"Yuwen?"
Sayangnya itu terlambat karena tatapan itu bertemu, dan sialnya saat ini Xie Lin tepat ada disampingku.
Aku melihat ekpersi marah Meilin, Dia segera mendorong Xie Lin menjauh dariku.
"Yuwen! Apa-apaan kamu malah berbelanja dengan wanita lain seperti itu!"
Aku bisa melihat akan ada masalah di sini.
Namun sebelum masalah-masalah ini benar-benar dimulai, tiba-tiba aku menerima sebuah telepon.
"Tunggu, dulu, aku akan mengangkat teleponku, ini sepertinya benar-benar mendesak,"
Aku jelas mencoba mengulur waktu agar Meilin tidak mengamuk, dan memberikan kode kepada Xie Lin, agar mencari cara untuk pergi dari sini.
Ini bukan pertama kalinya dua orang itu bertemu, dan selalu ada masalah setiap kali Meilin melihat Xie Lin.
Namun hal-hal tak terduga segera datang dari ujung telepon,
'Pak Presdir, baru saja ada masalah dengan salah satu project yang kami kerjakan,'
Seolah jantungku tiba-tiba hampir copot ketika mendengar kabar tidak terduga itu.
__ADS_1