SURATAN TAKDIR ( Menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku meninggal )

SURATAN TAKDIR ( Menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku meninggal )
Pagi yang pilu


__ADS_3

Pagi harinya setelah sholat subuh Salma membantu bi Ani memasak meskipun bi Ami melarang tapi Salma bersikukuh membantunya ahirnya bi Ami mengizinkan. Tak lama kemudian masakan sudah siap dan tertata di atas meja.


Waktu menunjukkan pukul 6. 30 waktunya sarapan pagi para penghuni rumah satu persatu memasuki ruang makan.


" Pagi bunda " Ucap Nadia dengan Suara centilnya .


" Pagi sayang... cepat duduk dan sarapan " ucap salma.


" Baik Bunda " jawab Nadia sambil duduk dan mengambil sarapannya.


Setelah itu pak Herman dan bu Lidya juga datang dan duduk di ruang makan.


" Siapa yang masak ini enak banget kayaknya.. Hemmm... semur jengkol kesukaanku mantap " . Tanya bu Lidya sambil mencicipinya .


" Mbak Salma Umi.. aku lihat Dia sangat jago memasak " puji bi Ani dengan tulus dan senyum ke arah Salma


" Wah.. menantu idaman " imbuhnya sambil menatap Salma dan mulai mengambilkan sarapan untuk suami dan dirinya sendiri.


" Sayang apakah papamu belum turun... ?" tanya bu Lidya pada Nadia.


" Tadi kayaknya udah rapi umi, itu papa " jawab Nadia dan melihat Hendra melihat orang yang ada di sana melihat kearahnya, tak luput Salma yang tidak lepas dari pandangannya.


Hendra turun dengan setelan jas hitamnya dia sungguh sangat Tampan .


" Pagi Abi, Umi, Sayang " Mencium kening Nadia. Salma hanya menunduk tidak di tegur sapa, ia bangkit dari duduknya dan segera mengambilkan makanan untuk suaminya itu.

__ADS_1


" Terimakasih " Dengan ucapan itu saja Salma merasa di hargai dia mengangguk dan mulai sarapan.


Sarapan pagi penuh keheningan setelah selesai mereka akan beraktifitas seperti biasanya.


" Papa.. aku ikut mobil papa ya ke sekolah " ucap Nadia.


" Kan ada pak joko yang biasa ngantar kamu sayang " jawab Hendra sambil menyeka mulutnya dengan tisu.


" Pak joko nganter Abi dan Umi ke rumah tantemu yang ada di luar kota... mungkin besok baru pulang " Tukas bu Lidya.


" apakah Abi dan umi menginap ? " Tanya Hendra.


" iya nak... Abi dan umi akan membicarakan masalah cabang resort kita dan melihat lokasinya yang akan di bangun di sana " Ujar pak Herman yang di angguki Hendra.


" Salma kamu tidak papa kan umi tinggal nak? di sini kan masih ada Nadia dan suamimu" kata bu Lidya melirik Hendra yang tidak metespon sama sekali.


pak Herman dan Bu Lidya ke kamar sebentar.


" Baiklah ayo berangkat sayang " Ajak Hendra pada Nadia.


" Bunda Nadia berangkat ya " Sambil menyalami Salma. Hendra cuma melihat itu dengan ekspresi datar. Ia melihat salma ingin mengulurkan tangannya hendak menyalaminya dengan cepat langsung berpaling dan bergegas keluar.


" Papa tunggu di mobil " ucap Hendra cepat.


Melihat kelakuan papanya pada Salma membuat Dinda bisa merasakan kesedihannya.

__ADS_1


" Sabar ya bunda... kasih papa waktu, papaku orang baik kok.. pasti suatu saat papa akan mencintai bunda " Nadia menenangkan Bundanya.


" iya... jangan menghawatirkan bunda, cepat berangkat papa sudah nungguin loh "


" Iya.. Assalamualaikum bunda "


" Wa'akaikum salam ".


" kita juga mau berangkat.. hati-hati di rumah ya nak " ucap bu lidya pada Salma sambil cipika cipiki setelah keluar dari kamar sambil membawa koper kecil.


" iya umi " tersenyum.


Mereka semua keluar setelah pamitan . pak joko sudah menunggu Pak Herman dan Bu Lidya di samping pintu mobilnya setelah melihat mereka keluar ia langsung membukakan pintu mobil buat majikannya kemudian melajukan mobilnya.


Salma ikut keluar melihat keluarga yang mau berangkat beraktifitas. Hendra yang melirik Salma di ambang pintu langsung tancap gas setelah Nadia masuk ke mobilnya.


Salma menutup pintu Rumah dan kembali ke kamar ia menangis meratapi nasibnya . sangat memilukan .


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2