SURATAN TAKDIR ( Menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku meninggal )

SURATAN TAKDIR ( Menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku meninggal )
Awal dari kisahku


__ADS_3

Sepanjang jalan Beberapa Mobil masih beriringan , keluarga Adi dan istrinya naik di Mobil Adi sendiri , keluarga Santi beserta suami dan anaknya bawa mobil sendiri juga . beserta kerabat2 pak Hendra juga membawa mobil sendiri2, di simpang jalan hampir sampai ke rumah mereka , mobil mereka berpencar melaju pulang ke rumah mereka masing–masing. mereka tidak mampir ke kediaman pak Hendra karena di rumah pak Hendra tidak mengadakan resepsi sesuai permintaan Hendra .


Mobil yang di tumpangi keluarga pak Herman sampai di pintu gerbang yang menjulang tinggi di depan rumahnya , Satpam yang berjaga di situ langsung membuka pintu gerbang , mobil melaju pelan ke halaman depan melewati taman di sekeliling rumah . mobil berhenti sempurna, Hendra yang duduk di kursi depan bersama pak joko langsung bergegas turun tanpa menghiraukan yang lainnya. pak Herman dan bu Lidya yang kesal melihat tingkah Hendra hanya geleng kepala sambil turun dari mobil.


" Nak.. ayo turun " ajak bu lidya ke Salma yang bengong melihat sekitar rumah mewah nya dengan melewati taman yang indah .


" i iya umi " senyum canggung salma.


Nadia dan Salma yang duduk di kursi belakang ahirnya turun dan menghampiri pak joko yang menurunkan kopernya dari bagasi.


" makasih ya pak.. " ucap nya dengan sopan dan ramah.


" Sama-sama nyonya " jawab pak joko.


" ayo bunda " Ajak Nadia berjalan ke dalam rumah sambil menggelayuti lengan Salma.


Salma dan Nadia berjalan beriringan sampai di dalam rumah, lagi-lagi Salma di buat takjub melihat interior rumah mewah keluarga pak Herman.


" Sayang ayo kenapa berhenti ?" Tanya bu Lidya yang melihat Salma berhenti melangkah, juga ikut berhenti begitu pula suaminya.


" Nak.. Umi dan Abi ke kamar dulu ya mau istirahat sebentar ,, Kamu di antar Nadia ke kamar gak apa - apa kan sayang " . Sambil mengusap bahu Salma.


" Tidak apa-apa umi... istirahat lah pasti umi dan Abi sangat lelah " jawab Salma sambil memegang tangan bu Lidya yang ada di bahu nya.


" jangan sungkan anggaplah ini rumahmu sendiri nak " Pak Herman menimpali. Salma hanya menjawab dengan anggukan.


" Baiklah Nak... Nadia Antar bundamu ke atas ke kamar papa ya ".


" Siap nenek... " mendengar jawaban Nadia Bu Lidya dan Suaminya berlalu ke kamarnya.


" Ayo Bunda " ajak Nadia dengan menarik tangan Salma dengan penuh semangat dan berjalan menaiki tangga.


Sampai di depan pintu kamar Hendra Nadia mengetuk pintunya .


Tok tok tok


" papa.. " tak ada jawaban.


" pa.. papa " . lagi-lagi tidak ada jawaban membuat Nadia sedikit kesal.


" Bunda mungkin papa lagi mandi makanya gak denger panggilan Nadia , kita buka saja pintunya nya " .

__ADS_1


" Jangan Nadia itu tidak sopan sayang " Salma menahan tangan Nadia yang memegang Handle pintu.


" Gak papa bun,, bunda kan istri papa " . tukas Nadia sambil membuka pintu kamar.


Mereka masuk kamar , benar yang di katakan Nadia setelah masuk kamar Hendra tidak ada di kamar hanya terdengar suara gemercik air di dalam kamar mandi.


" Emm... Bunda duduk di sofa dulu ya sambil nunggu papa keluar dari kamar mandi, Nadia mau ke kamar dulu mau mandi juga bun.. gerah dan lengket nich " . Sambil mengibas-ibaskan bajunya.


" Bunda gak papa kan tak tinggal sendiri? ". tanya Nadia.


" iya tidak apa-apa... pergilah sayang ". Nadia mengangguk dan beranjak pergi ke kamarnya .


*****


Salma duduk sambil menyandarkan kepalanya di sofa menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


Ceklek


Salma yang mendengar suara pintu terbuka langsung menoleh ke asal suara, Dia terkejut campur malu melihat suaminya telanjang dada dengan balutan handuk yang melilit di pinggangnya. Hendra yang tidak menyadari kalo ada seseorang di dalam kamar dia terus saja berjalan ke ruang ganti sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, saat melewati cermin besar yang ada di depannya dia merasa aneh .


Hendra berhenti lalu melihat ke pantulan cermin dan menoleh ke arah pantulan tersebut di lihatlah seorang wanita sedang menatap dirinya, rasa keterkejutan itu ia tepiskan langsung memalingkan wajahnya dan terus berjalan keruang ganti.


Tak lama kemudian Hendra keluar dengan baju santainya dia memakai celana pendek dan kaos oblong yang melekat sempurna di tubuh sispex nya itu. Dia berjalan mendekati Salma dan berdiri di depannya tanpa menoleh ke arahnya.


" Siapa yang menyuruhmu kesini? " ucapnya dengan dingin.


" Umi mas dan di antar Nadia " jawab Salma dengan ragu. dia masih setia duduk di sofa.


" Kamu jangan mengharapkan lebih dari pernikahan ini, aku bersedia menikah denganmu hanya rasa tanggung jawabku karna menyebabkan suamimu meninggal dan semata-mata karna permintaan Nadia " Ucap Herman langsung dengan angkuhnya.


Deg


Salma menelan ludahnya dengan susah payah rasanya ada sesuatu yang menyangkut di lehernya. mendengarkan ucapan suaminya dadanya terasa sesak. padahal dari awal dia berusaha menerima apa yang menjadi takdirnya tapi apa yang di dapatkan. dia menunduk lesu .


" Aku tau kamu baru saja berkabuh dan aku sangat mengerti kalo kamu masih belum bisa melupakan almarhum suamimu begitu pula aku... aku masih sangat mencintai almarhumah istriku, aku minta maaf karna aku telah menyebabkan suamimu meninggal dan aku juga minta maaf karna masih belum bisa menerima mu dalam hatiku ". imbuhnya . Salma hanya menunduk dan diam saja.


" Kamu tidurlah di sini dan aku tidur di kamar tamu " Hendra berjalan hendak keluar kamar.


" Tunggu mas.. " ucapan Salma menghentikan langkah Hendra.


" Ada apa? "

__ADS_1


Tanpa menoleh ke arahnya.


Salma beranjak mendekati Hendra dan tanpa ada keraguan memegang tangannya . Hendra hanya melirik tangan itu tapi tidak menepisnya.


" Ini adalah kamarmu Kamu tidurlah di sini, biar aku tidur di kamar tamu, " Salma melepaskan tangannya yang tadi memegang tangan Hendra dia mengambil kopernya di dekat sofa.


" Kematian suamiku adalah sebuah takdir, semua yang hidup di dunia ini pasti akan mati cepat atau lambat dan dengan cara apa Allah mengambilnya . Begitu pula suamiku aku sudah ihlas dan rela Allah mengambilnya dari sisiku secepat itu , Walaupun aku masih mencintainya . kenyataan yang sekarang adalah kamulah suamiku aku harus menerima , menghormati dan menganggap mu sebagaimana suamiku sesungguhnya . aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan melakukan tanggung jawab ku sebagai pendamping hidupmu sebagaimana mestinya, walaupun kamu tidak menganggap keberadaan ku dan masih belum bisa menerimaku , aku akan menunggumu sampai kamu mau menerimaku sebagai istrimu ". imbuhnya panjang lebar sebelum keluar dari kamar, dia mencoba tegar padahal di dadanya terasa sesak dan ingin menangis. Hendra tidak bergeming dan masih diam mematung.


" Di mana kamarnya? " Sambil berjalan menyeret koper hendak keluar.


" Di lantai bawah di depan ruang keluarga " jawabnya acuh.


" Terima kasih " Salma berlalu pergi dari kamar Hendra. Air mata yang tadi di tahan keluar juga. Salma turun ke bawah menuju kamar di tunjuk oleh Hendra, sampai di kamar dia menutup pintu duduk di tepi ranjang menangis sejadi-jadinya.


*****


Setelah sholat isya sebagaimana istri dan menantu yang baik Salma membantu bu Lidya dan Bi Ani pembantu di rumah itu untuk menyiapkan makan malam dan menyajikannya.


" Panggil Suamimu nak , makan malam sudah siap " Perintah bu Lidya.


" Baik umi ". jawab Salma.


Salma berlalu dan Hendak menaiki tangga dia melihat Hendra turun ahirnya mengurungkan niatnya dan menunggu di bawah.


" Makanan sudah siap mas " Ucap Salma ketika Hendra Sampai di bawah.


" iya " jawabnya Dia hanya melirik sekilas dan berjalan mendahului Salma ke ruang makan dan duduk. salma mengekori dari belakang.


Di sana semua keluarga sudah berkumpul dan hendak makan, Salma mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya " Terimakasih " ucapnya. Salma mengangguk lalu dia mengambil untuk dirinya dan duduk di samping suaminya. mereka menikmati makan malam dengan hikmat tanpa ada yang berbicara.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2