
Salma menghampiri tamunya dia menyalami bu Lidya dan mengatupkan kedua tangannya pada pak Herman, Hendra dan Adi.
Hendra melirik sekilas wajah pucat salma walaupun tanpa make up dan mata sembab, namun wajah cantiknya yang alami terpancar indah begitu mempesona.
Ucapan salam pak Sabar membuat semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arahnya dan menjawab salamnya.
" Oh ada tamu rupanya " kata pak sabar sambil menyalami mereka satu persatu kemudian ikut bergabung dan duduk di samping bu Romlah istrinya. Setelah mereka berkumpul dan duduk dengan posisinya masing2 Pak Herman Mulai berbicara.
" Hemm... Baiklah kedatangan kami sebenarnya mau meminta maaf atas kesalahan yang di lakukan anak saya dan temannya kepada kalian sekeluarga ". Ucap pak Herman dengan sedikit ada rasa kecemasan.
" Maksudnya pak? " salma bingung yang tadinya hanya menunduk langsung menatap pak Herman seoalah meminta penjelasan.
Pak sabar dan bu romlah hanya saling menatap tak mengerti.
" Kenapa bapak Minta maaf sama kami, Aku rasa bapak sekeluarga tidak punya masalah sama kami, ketemu aja baru hari ini " Ujar pak sabar . mereka hanya diam saling menoleh.
Hening.
" Kami meminta maaf dengan sedalam–dalamnya karna saya dan sahabat saya Adi telah... ". Hendra membuka suara sambil menoleh ke Adi yang menunduk gelisah.
Hendra nafas dalam2 dan memberanikan diri melihat dengan lekat wajah salma yang tidak pernah menatap bahkan melirik sekalipun kearahnya untuk melanjutkan ucapannya yang menggantung " Saya dan sahabat saya yang telah menabrak suami anda kemaren ".
Deg
" Apa.. " Suaranya lirih. Salma yang tadinya menunduk lagi langsung menoleh menatap Hendra dan Adi dengan tatapan tajam. Dadanya sangat sesak, Bibirnya gemetar Air matanya pun mengalir deras tanpa di suruh, ibunya yang tak banyak bicara langsung merengkuh mendekap anaknya dengan erat.
Bu lidya yang melihat itu tak tega mau mendekati mereka tp tangan pak Herman langsung menggenggam tangannya " Biarkan dulu , jangan mengganggu mereka " Sambil berbisik , takut mereka kesal kepada istrinya pikir pak Herman.
Sementara pak sabar mendengar ucapan Hendra naik pitam. yang tadinya duduk laki2 itu langsung berdiri mendekati Hendra menarik kera bajunya hingga ikut berdiri dan langsung melayangkan tinjunya berkali2 hingga tersungkur ke lantai darah segar keluar dari sudut bibir nya.
Sedangkan pak Herman dan Adi juga ikut berdiri melerai pak sabar yang di penuhi amarah, kemudian Adi membantu Herman untuk berdiri yang kala itu tersungkur pasrah di pukuli dan menerima segala apa pun yang akan terjadi.
Melihat Herman yang seperti itu Adi tidak tega.
__ADS_1
" Maafkan saya pak,, saya yang melajukan mobil itu, dan saya yang menyebabkan pak angga meninggal ". Akhirnya Adi angkat bicara.
Pak sabar yang tersulut emosi beralih menatap Adi dengan geram. ia juga mau memukul adi dengan cepat bu romlah berdiri dan menghentikan aksi suaminya.
" Sudah cukup pak,,, kita sudah sepakat untuk tidak membahas dan melupakan kejadian ini, ini sudah kehendak Allah pak , kalo kematian menantu kita lewat jalan seperti itu , kita ihlaskan saja tidak perlu balas dendam agar arwah menantu kita tenang di alam sana paaakk ". bu romlah menenangkan suaminya.
" Tapi mereka yang membunuh menantu kita bu... mereka yang membuat anak kita menjadi janda " ikut terisak.
" Sudahlah pak, ini semua udah takdir anak kita pak kita harus mengihlaskannya... " Huuuu... menangis tersedu2.
Bu lidya yang tadi hanya diam dan tidak bisa berbuat apa2 membuat Hatinya terasa Sesak mendengar perkataan pak sabar wanita itu langsung berdiri menghadapnya.
" Kami akan bertanggung jawab pak, kami akan menikahkan Salma dengan anak kami Hendra ". Dengan lantang dan penuh keyakinan Bu Lidya berkata. membuat mereka melongo kearah wanita paru baya itu. Orang tua salma masih diam terisak tidak menjawab bu lidya.
" Tapi Umi... " Ucap Hendra.
" Tenanglah nak, biarkan umimu yang berbicara " Tukas pak Herman sambil memegang pundak anaknya. Pak Herman memang menyerahkan semua keputusan ke istrinya asalkan keputusan itu yang terbaik menurutnya.
Hendra mengepalkan tangannya dengan geram yang tertahan, karna hanya bisa menuruti kedua orang tuanya tanpa mengerti perasaannya , dia kesal sama bu lidya karna memberikan keputusan tanpa di pikir dulu, memang dia mau bertanggung jawab tapi tidak harus menikahinya bukan pikirnya dalam hati.
" Ibu mohon.. maaf kan atas kesalahan anak kami , kami mau tanggung jawab , menikahlah dengan anak kami nak.. " Salma tidak berkutik sama sekali mau menolak perkataan bu lidya lidahnya terasa keluh. Air matanya semakin deras sampai sesegukan , dia merasa takdir mempermainkannya saat ini.
" Nak... " kata Bu Lidya lagi
Salma tidak juga mengeluarkan suaranya tiba2 dia berdiri dan berlalu pergi ke kamarnya meninggalkan bu lidya yang kecewa.
Pak Herman mengajak orang tua Salma duduk dan berbicara, Hendra dan Adi pun ikut duduk.
*****
Di dalam kamar Salma duduk di tepi ranjang dia mengambil foto suaminya yang ada di meja kecil di samping ranjang tempat tidurnya dia menangis sejadi2 nya dengan memeluk foto suami tercintanya.
" Bagaimana bisa... Bagaimana bisa aku menikahi orang yang membuat kamu meninggal mas, apalagi kematianmu masih kemaren, aku tidak bisa, sungguh tidak bisa aku masih sangat mencintaimu mas, aku tidak bisa menerimanya... hik hik hik " Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Salma masih dalam keterpurukannya dia merebahkan tubuhnya dan masih tetap memeluk foto suaminya, dia teringat ucapan suaminya untuk menjaga Naura anaknya ternyata itu adalah pesan terahirnya, dia mengingat kembali semua kenangan2 indah bersama suaminya kenangan itu menari2 di otaknya " Aku merindukanmu mas... aku mencintaimu " Gumamnya berkali2. Tanpa perduli mereka yang ada di ruang tamu, sampai ahirnya dia tertidur kelelahan kebanyakan nangis.
******
Di ruang tamu Pak Herman dan Bu Lidya masih berbicara dan meyakinkan kedua orang tua salma. Tak jarang Diskusi itu di selingi dengan perdebatan yang sangat sengit , Pak Sabar yang di tenang kan oleh istrinya itu ahirnya memaafkan mereka dan menerima desakan dari keluarga Herman untuk menikahkan Salma dengan Hendra anaknya.
" Baiklah pak , bu, Kita akan membicarakan pernikahan mereka setelah Salma selesai masa iddah nya " Kata Bu Lidya yang di angguki oleh pak Herman.
" Iya Bu.. dan kami akan membujuk Salma agar mau menikah dengan anak ibu setelah iddahnya Selesai ". jawab pak Sabar.
Hendra dan Adi memang sengaja tidak ikut bermusyawarah dengan kedua pasangan orang tua di ruang tamu tersebut, pak Herman menyuruh Adi untuk mengajak Hendra keluar dulu karna Hendra tidak mau bertanggung jawab dengan menikahi salma , takut membuat para orang tua berbicara akan bertambah rumit.
Hendra hanya bisa mengumpat di dalam hati tidak terima " Kenapa jadi seperti ini.. Ah sial. " Sambil mengusap wajahnya kasar.
Mereka menunggu di mobil , Adi tidak bisa membantu apapun dia hanya bisa meminta maaf saja atas kesalahan nya , Hendra mengerti akan hal itu.
*****
Kesepakatan sudah terjalin antara kedua keluarga tesebut tanpa di ketahui Hendra dan Salma. Pak Herman dan Bu lidya akan kembali satu minggu setelah masa iddah Salma selesai. Karna waktunya sudah sore ahirnya mereka pamit pulang.
" Pak bu, sekali lagi kami minta maaf " Ucap pak Herman sambil berdiri di iringi istrinya, kedua orang tua salma pun ikut berdiri.
" Iya sama2 pak Herman, Aku juga minta maaf atas kelakuanku tadi " jawab pak sabar.
" Kami pamit... Assalamualaikum " ucap bu lidya.
" Wa'alaikum salaam " jawab Pak Sabar dan Bu Romlah Sama2. mereka berempat keluar ke depan rumah. Hendra yang tau kalo orang tuanya mau pulang dia turun dari mobil menghampiri menyalami kedua orang tua salma dan Jug pamit yang di ikuti oleh Adi.
.
.
.
__ADS_1
.
.