
Malam harinya semua keluarga sudah bersiap-siap untuk makan malam di luar. Di ruang keluarga nampak pak Herman, Bu Lidya serta Nadia sedang menunggu Hendra dan Salma yang lagi menyiapkan diri. tak lama mereka menunggu Hendra pun turun dengan memakai baju casual celana jeans dan kaos hitam panjang yang menampakkan tubuh kekarnya .
"Apa sudah siap semua? " Tanya Hendra setelah sampai di ruang keluarga.
" Belum pa.. Bunda belum selesai dandan " Nadia menyauti.
Tak lama mereka menunggu Salma datang berjalan menghampiri mereka dengan begitu anggun. Hendra terkesiap menyaksikan ciptaan tuhan yang begitu sempurna di depan matanya. Dia melihat istrinya begitu cantik malam ini.
"Apa kita sudah mau berangkat? " Pertanyaan Salma membuyarkan lamunan Hendra.
" I-iya " Jawab Hendra gugup.
Mereka melangkah keluar ke halaman rumah, Bu Lidya, Salma dan Nadia menunggu mobil mereka.
" Nadia kamu ikut mobil nenek saja ya... biarkan papa dan bundamu berdua " Bisik Bu Lidya ke Nadia setelah mobilnya sudah di depan mereka.
" Hemm... Siap oma " Ucap Nadia sambil mengacungkan jempolnya.
" Pa.. Nadia ikut mobil kakek ya " Ucap Nadia. Hendra menganggukkan kepalanya samar.
" Tapi sayang.. " ucap Salma ,dia begitu hawatir kalo hanya berdua dengan Hendra mengingat beberapa hari yang lalu Hendra meninggalkan sendirian di taman. Takut kejadian itu terulang kembali.
" Tidak apa-apa biar Nadia sama umi , jangan hawatir Hendra tidak akan menyakitimu.. " ucap bu Lidya sambil mengusap bahu Salma yang melihat kehawatiran di wajah menantunya.
" Masuklah.. " Perintah Hendra.
Salma masuk ke mobil Hendra di samping kemudi setelah Hendra membukakan pintu mobil untuk istrinya itu .
Kedua mobil yang di tumpangi mereka melaju beriringan menuju restoran bintang lima yang terkenal di kota itu.
Di Dalam mobil Hendra hanya ada keheningan. Hendra fokus mengemudi begitu pula Salma dia hanya menatap ke samping jendela melihat menyusuri jalanan kota. Setengah perjalanan tiba-tiba mobil yang di kemudikan pak Herman berhenti di depan pom bensin . Otamatis mobil Hendra juga ikut berhenti membuat Salma mengarah ke depan .
" Kenapa mobil Abi tiba-tiba berhenti? " tanya Salma.
" Entahlah.. " Jawab Hendra berkerut heran
__ADS_1
Flashback
" Nek.. gimana kalo kita membiarkan papa sama bunda makan malam berdua saja agar mereka bisa dekat " Saran Nadia membuat pak Herman dan Bu Lidya menyetujuinya.
" kamu pinter sayang " ucap Bu Lidya penuh semangat.
" Tapi gimana alasan kita agar mereka bisa makan berdua saja " Tanya pak Herman sambil fokus mengemudi.
" Tenang bi... umi punya rencana " ucap bu Lidya sambil senyum-senyum ke arah suaminya .
" apa yang akan di rencanakan nenek? " Tanya Nadia.
" Di depan ada pom Bensin kamu pura-pura kebelet, kita akan berhenti di sana, biasanya toilet pom bensin kadang antri kan.. ? kita nyuruh papa sama bunda mu berangkat duluan, setelah itu kita atur rencana selanjutnya... gimana? " Rencana bu Lidya membuat pak Herman geleng-geleng kepala senyum-senyum sambil fokus menyetir rencana nenek dan cucunya itu sangat konyol pikirnya
" Apa rencana itu akan berhasil nek? " tanya Nadia ragu.
" kita coba saja sayang... kamu nanti pura-pura sakit perut ya " ucap bu lidya yang di angguki Nadia.
" Gimana bi...? kita berhenti di pom bensin depan ya... ? " Bu lidya bertanya ke suaminya tentang ide konyolnya itu.
Setelah ada pom bensin mobil pak Herman berhenti.
flashback
Hendra dan Salma turun dan menghampiri mobil pak Herman.
" Ada apa bi... kenapa berhenti di depan pom bensin?.. apa mobil Abi kehabisan bahan bakar? " Tanya Hendra.
" Tidak Hen... Nadia ingin ke Toilet " Jawab pak Herman.
" Pa... Nadia kebelet buang air besar, jadi Nadia menyuruh kakek untuk berhenti di sini " Jawabnya bohong.
" Tapi kan bentar lagi sampek sayang, dari pada di sini.. lihat tuu. antri.. " Ucap Hendra sambil melihat toiletnya antri kebetulan banyak wisatawan yang berhenti cuma sekedar numpang ke toilet.
" Situasi toilet sangat mendukung " Bisik bu Lidya ke Nadia yang saat ini pura-pura kebelet.
__ADS_1
" Tidak apa-apa pa ... nadia suka di sini rame, kalo di toliet hotel sendirian aku jadi takut.." rengek Nadia yang membuat alasan.
" Biar bunda yang nemenin kamu " Salma menawari diri.
" Jangan " Nadia dan Bu Lidya bersamaan. mereka saling pandang.
Salma dan Hendra saling heran .
" Emmm... maksut Nadia, biar umi yang nemenin " Nadia mengangguk dengan cepat.
" iya betul kata nenek, Nadia di temenin nenek saja... lebih baik papa sama bunda nungunya di restoran saja dulu.. iya kan nek " Imbuhnya lagi.
Hendra dan Salma saling pandang
" Iya Hen... biar umimu yang nemenin Nadia, lebih baik kamu kesana dulu dan menunggu di sana dari pada menunggu di sini " ucap pak Herman meyakinkan.
" Baiklah... papa tunggu di Restoran ya.. " Kata Hendra sambil menciun kening Nadia.
" Iya papa... " Nadia senang bukan main.
Hendra dan Salma ahirnya melanjutkan perjalanan menuju restoran.
" Yess... kita berhasil nek " Ucap Nadia sambil Tos lagi setelah melihat mobil papanya berlalu pergi.
" Ya sayang... kita lanjutkan rencana selanjutnya " Pak Herman masuk mobil lebih baik menunggu di mobil sambil menunggu rencana istrinya agar anak dan menantunya lebih dekat, biar istrinya yang merencanakan pak Herman tinggal mendukungnya saja.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya guys 😍