SURATAN TAKDIR ( Menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku meninggal )

SURATAN TAKDIR ( Menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku meninggal )
Ikut berduka cita


__ADS_3

Keesokan paginya Nadia sudah di Rumah kata dokter ia sudah boleh pulang.


Keluarga sebastian sengaja ada di rumah untuk menjemput nadia begitu pula Adi masih setia menemani Hendra sahabat sekaligus bos nya tidak masuk ke kantor karna hanya untuk ikut menjemput nadia dari rumah sakit.


Hendra di bantu sinta menuntun Nadia kekamarnya untuk istirahat.


" Istirahatlah dulu sayang... papa akan mengambilkan makanan menyuapimu untuk minum obat.. " ucap Hendra. sambil menyelimuti Nadia yang duduk bersandar di ranjang tidurnya lalu membungkuk mencium keningnya dengan hangat.


" Biar aku aja kak... kakak temeni nadia disini.. " saut sinta.


" Baiklah.. " jawab hendra sambil mandaratkan bokongnya ikut duduk di samping ranjang nadia.


" Papa " Dengan suaranya yang parau.


" ya sayang... " Mengelus rambut nadia pelan.


" aku kangen mama.. hik hik.. " tiba2 nadia nangis, hendra langsung memeluk menenangkan nadia, biasanya klo nadia sakit seperti ini mamanya yang selalu merawat dengan penuh kasih sayang.


Hendra masih memeluk dan mengusap rambutnya menciumi pucuk kepalanya " Mama sudah tenang di sana sayang... jangan menangis lagi nanti mama akan ikut sedih melihat nya, kata nadia sekarang udah besar dan pintar kan,.. ? " Nadia mengangguk. " Makanya biarkan mama tenang di sana dan do'akan mama di setiap habis sholat... ya sayang " bujuk hendra.


" Iya pa.. " melepaskan pelukan papanya dan menatapnya dengan sendu. nadia mengambil tangan papanya dan berkata


" Gimana kalo papa menikah lagi.. jadi kalo nadia sakit ada yang merawat dan menemani nadia setiap hari.. " Dengan mata berbinar tersenyum indah melihat papanya karna nadia merindukan sosok mamanya yang penuh kehangatan.


Hendra terdiam mendengarkan ucapan nadia tidak menjawab, dadanya terasa sesak mengingatkan sesosok almarhumah istri trcintanya ia tringat lagi kebersamaan yang begitu indah kasih sayangnya perhatiannya cintanya yang begitu dalam rasanya enggan untuk membuka hati lagi , hatinya sudah terkunci tidak ada boleh yang masuk untuk siapapun hanya almarhumah istrinya yang masih bersemayam di sana.


" Papa.. " nadia mengguncang tangannya dengan pelan menyadarkan hendra dalam lamunannya. belum menjawab ucapan nadia sinta datang membawakan makanan.


Hendra menoleh beranjak berdiri " Suapi Nadia dulu, aku mau ke kamar untuk mandi "


langsung pergi.


melihat papanya langsung pergi dari kamar membuat nadia merasa bersalah atas ucapannya.


" Ayo makan dulu tante suapi.. lalu di minum obatnya.. " Nadia hanya diam pasrah dan menuruti tantenya.


*****


Di ruang keluarga pak herman, bu lidya juga adi berbincang2 sambil membahas kecelakaan kemaren.


" Aku benar2 minta maaf om atas kecelakaan kemaren karna aku pengecut dan lari dari tanggung jawabku... " Ucapnya dengan penuh penyesalan.


" Sudahlah masalah itu biar om yang atasi,, kita tinggal menunggu orang kepercayaan om datang baru kita membuat keputusan.. " tutur om herman sambil mengusap pundak adi.

__ADS_1


Tak lama berbincang orang suruhan herman datang membawa kabar korban kecelakaan yang di tabrak oleh mobil yang membawa hendra dan sahabatnya itu.


mendengar informasi dari suruhannya , pak herman, bu lidya dan juga adi membuat mereka langsung syok dan terkulai lemas


betapa tidak menurut keterangan korbannya meninggal, orang desa dari keluarga yang sederhana meninggalkan istri dan anaknya yang masih sekolah .


" Dimana keadaannya, dimana perasaan keluarganya saat ini " pikir bu lidya yang juga ikut terpukul mendengarnya.


" Kita harus cepat2 kesana abi " ucap bu lidya menangis tersedu2 di pelukan suaminya.


" Iya umi... " Jawab pak herman cepat.


Di kamar Hendra memandangi memeluk foto istrinya memori kebersamaannya berputar2 hingga tak terasa airmata nya mengalir merindukan kehangatan cintanya, senyuman manisnya cantik wajah dan perilakunya membuat hendra sulit melupakan dan berpaling ke wanita lain.


" Sayang aku merindukanmu... " Memeluk foto istrinya dengan erat. mengingat istrinya yang menahan rasa sakit sendirian menyembunyikan penyakitnya, demi kebahagiaan keluarga tercintanya agar tidak bersedih sampai ahirnya penyakit itu menggrogoti tubuhnya hingga ahirnya meninggal dengan tersenyum bahagia , membuat hendra merasa teramat menyesal atas keterlambatan mengetahui penyakit istrinya.


Di saat meratapi kepergian istri yang meninggalkan penyesalan, tiba2 ada yang mengetuk pintu kamarnya.


tok tok tok


Hendra tersentak kaget dan mengusap sudut matanya yang masih basah. bangkit dan membuka pintu.


" Ada apa.. ? melihat adi berdiri di depan pintu kamarnya bertanya dengan suara yang parau.


" APPA .. ! " Hendra kaget juga mendengarnya. Adi menceritakan semua informasi yang di berikan oleh suruhan om herman pada hendra, ia mendengarnya tercengang dan mengusap wajahnya kasar karna frustrasi .


Tak lama kemudian mereka semua berangkat menuju rumah salma meninggal kan sintia karna harus menemani nadia yang baru keluar dari rumah sakit.


**///****


Perjalanan menempuh sekitar 4 jam sampai ke pedesaan menuju rumah salma, di sepanjang jalan mereka sibuk dengan pemikirannya masing2 tentang bagaimana reaksi keluarga korban nantinya kalau tau siapa yang menabrak keluarganya terlebih lagi adi pikirannya sangat kacau dia masih belum berani menyetir mobil pak herman menyuruh supir pribadinya untuk membawa mobilnya kesana.


Mobil mereka sampai dan berhenti di sebuah rumah mungil sesuai dengan alamat yang di berikan oleh suruhan pak herman. mobil mereka parkir di pinggir jalan karna halaman rumah salma tidak cukup menampung mobil mewah sport milik pak herman itu karna membawa mobil yang cukup besar untuk membawa mereka pergi.


Mereka turun dengan hati yang cemas takut keluarga korban brontak tidak terima karna menabrak keluarganya.


Tapi mereka berjalan dengan penuh keyakinan tetap harus bertanggungg jawab.


Melangkah dengan pasti mereka sampai di depan pintu rumah salma.


Tok tok tok


" Assalamualaikum " bu lidya mengetuk pintu yang terbuka. Tak ada sahutan, bu lidya mencoba lagi mengucap salam dan mengetuk pintu.

__ADS_1


Mendengar orang mengetuk pintu dan mengucap salam ibu paru baya tak lain ibu kandung salma keluar dari dapur menyiapkan hidangan seadanya untuk tahlilan malam nanti.


" Wa'alaikum salam... siapa ya... ?" Heran karna ada tamu yang di lihat dari penampilannya seperti orang kaya.


Salma tidak mendengar orang mengetuk pintu dia tertidur kelelahan karna sepanjang malam tidak bisa tidur dia menangis larut dalam kesedihannya , Sementara ayahnya mengantar Naura Cepat kembali ke pesantren karna ada ujian, Naura tidak mau karna kesedihannya yang berlarut2 menghambat dirinya untuk tidak ikut ujian , ahirnya dengan berat hati Salma mengizinkan anaknya kembali.


" Boleh kami masuk... ? " ucap bu lidya, ibu nya salma dengan gugup, mengangguk pelan mempersilahkan Mereka masuk.


Pak Herman duduk di samping bu lidya di susul Hendra dan adi ikut duduk, mereka duduk di lantai beralaskan karpet karna mengeluarkan kursinya agar tidak sempit menampung sanak keluarga, dan para tetangganya untuk acara kematian dan tahlilan angga.


" Maaf ibu sebelumnya kami sekeluarga ikut berduka cita atas kematian pak angga " Pak Herman membuka suara setelah di persilahkan duduk tadi.


" Iya pak sama2 " Jawab ibu salma.


Hening.


" Kalo boleh tau kemana istri dan anak pak angga bu.. ? " tanya bu lidya.


" Kalo Salma istrinya istirahat di kamar kalo anaknya baru saja kembali ke pesantren karna ada ujian katanya ". katanya sambil tersenyum ramah.


" Boleh kami berbicara dengan istri pak angga bu.. ? " Pak Herman lagi, dengan melirik Hendra dan Adi yang diam saja sambil menunduk.


" Oh ya pak sebentar aku panggil kan " ibunya salma permisi untuk pergi ke kamar Salma dan membangunkannya.


" Nduk... ada yang ingin berbicara denganmu " kata ibu nya masih memegang pundak salma.


" Siapa bu? " tanya Salma dengan Suara seraknya karna bangun tidur dan kebanyakan nangis.


" Tidak tau nduk... coba kamu temui siapa mereka " Dengan malas dan mata sembabnya salma bangun dan keluar kamar mau menemui mereka.


Salma dengan langkah gontai di temani ibunya menghampiri mereka, bersamaan itu pak sabar ayah salma juga kembali dari pesantren.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2