
Malam berganti pagi , Keluarga pak Herman sedang sarapan dengan keheningan cuma ada suara sendok dan garpu yang bersautan . mereka masih Diam tidak membahas masalah semalam sampai selesai sarapan.
" Abi... aku bersedia menikahi wanita itu ". kata Hendra tiba2 membuat kedua orang tuanya terkejut . masih duduk di ruang makan .
" Benarkah nak apa yang kau katakan... ? " Tanya pak Herman dengan penuh haru bangga pada anaknya.
" Ya Abi.. " Dengan penuh keyakinan. Walaupun dalam hati kecilnya masih tidak menerima, " ini demi Nadia " dalam hatinya berkata. Sambil melihat ke arah Nadia yang tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya tanpa berkata.
" Alhamdulillah " Pak Herman Dan Bu Lidya bersamaan.
" Nanti sore kita kesana, kalo malam perjalanannya kan mencapai 3 sampai 4 jam takut pulangnya larut malam " . kata uminya menimpali.
" Terserah Umi saja , Aku ke kantor sebentar karna ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan " . Menyalami orang tuanya Sambil beranjak berdiri kemudian beralih mencium kening Nadia .
" Makasih papa " Senangnya.
" Iya sayang " Mengacak acak rambut Nadia.
" Papa berangkat dulu jangan kecapekan " .
" Siaaap bos " tangannya di taruh ke kepala memberi hormat. kemudian Hendra berlalu pergi .
******
Bu Romlah sibuk masak di bantu salma menyiapkan hidangan untuk tamunya nanti.
Salma tidak fokus membantu ibunya dia masih merenungi nasibnya .
" haruskah secepat ini ada yang menggantikan posisimu mas, bisakah aku menerima dan mengabdi padanya sedangkan hatiku masih ada kamu mas " gumamnya dalam hati.
" Nduk.. " membuyarkan lamunan salma yang tidak fokus dengan adonan kue nya.
" Sudah selesai nak " Tanya ibu nya sambil melihat adonan kue tersebut.
" Ehmm... su sudah bu " Gelagapan.
" Kalo begitu cepat masukkan ke loyang terus kukus " imbuhnya .
" ya bu " Salma dan ibunya membuat roti kukus. Dan beberapa kue udah ada yang matang. mereka sangat sibuk hari itu maklumlah orang desa, mending masak sendiri dari pada pesen chatring pikirnya.
******
Sore harinya keluarga pak Herman Melaju pergi menuju ke kediaman salma yang ada di desa untuk melamar dan menentukan hari pernikahan Salma dan Hendra.
Karna macet 4 jam baru menuju ke pedesaan . mobil yang mereka tumpangi ahirnya sampai di depan rumah keluarga salma yang lumayan besar dari rumah sebelumnya karna habis di bangun oleh keluarga Hendra.
Keluarga Salma menyambut kedatangan keluarga pak Herman dan mempersilakan mereka duduk . mengobrol2 sambil perkenalan mengenalkan anak dan adiknya Hendra . kali ini Adi tidak ikut , menemani istrinya yang rewel karna hamil muda . Santi Adiknya Hendra bersama suami dan anaknya ikut juga.
Nadia yang dari tadi duduk di samping bu Lidya beranjak berdiri " Nenek bolehkah aku duduk di samping calon ibuku? " Bu lidya melihat ke arah salma yang mengangguk.
__ADS_1
" Boleh sayang " jawab neneknya membuat Nadia kegirangan dan langsung duduk di samping salma yang di sambut dengan senyum kehangatan oleh salma. mereka langsung akrab seperti ada kimestri seorang ibu dengan anak.
Lain halnya dengan Salma dan Herman tidak bertegur sapa setelah duduk tadi mereka hanya diam . Setelah cukup lama berbincang2 ahirnya pak Herman membahas soal pernikahan.
" Karna mereka sudah pernah sama2 menikah , kita tidak perlu menunggu terlalu lama apalagi Nadia sudah lengket dengan calon ibunya.... gimana kalo pernikahannya di adakan 2 minggu lagi ? " Tanya pak Herman yang di angguki oleh istrinya.
Herman dan Salma sontak kaget atas penuturan pak Herman dan saling pandang sekilas, tapi tidak menolak toh mereka sudah sama2 punya anak dan sudah menjadi orang tua bukan remaja lagi . menolak pun percma pernikahan akan tetap berlanjut walau pun mereka tidak menginginkan pernikahan ini.
" Yeaayyy... asik aku punya ibu baru " Reflek Nadia memeluk Salma yang dari tadi langsung menempel duduk di sampingnya. Salma hanya tersenyum kecut menatap calon suaminya yang menatap tingkah Nadia ke Salma berlebihan seperti itu.
Nadia sangat antusias dan kegirangan mendengar penuturan pak Herman. Awalnya dia tidak di ajak dia terus merengek ingin ikut tidak sabar dengan calon ibunya. Nadia pertama kali melihat Salma langsung cocok dan sangat berharap papanya cepat menikahinya.
" Kalo itu memang yang terbaik tunggu apalagi " ucap pak sabar.
Hendra diam terpaku di sisi lain dia sangat ingin menolak pernikahan ini tapi di sisi lain dia memang harus bertanggung jawab apalagi Nadia sangat ingin sekali punya seorang ibu lagi dan dia sangat menyukai Salma.
*****
Dua minggu kemudin .
Keluaga pak Herman udah berangkat pagi2 buta . karna jam 9. 30 ijab qobul akan di laksanakan Di desa , tepatnya di rumah Salma sesuai permintaan kedua mempelai, Hendra masih belum siap teman2nya tau atas pernikahan yang tidak di inginkan itu. Cuma di hadiri keluarga dan kerabatnya saja .
" Saya terima nikah dan kawinnya Salma Salsabila binti bapak Sabaruddin dengan mas kawin berupa emas seberat 20 gram dan perangkat alat sholat di bayar tunai " dengan lancar dan tegas Hendra mengucapkannya.
" Gimana saksi? "
" Alhamdulillah "
Salma menyalami punggung tangan Hendra dengan ragu dan gugup dia juga mengecup keningnya.
" Di depanku saat ini adalah suamiku , walau bagaimana pun hatiku menolak dia adalah suamiku menurut agama dan negara . Aku akan berusaha menerimanya walau hatiku belum bisa mencintainya " batin salma sambil memandangi suaminya yang sangat tampan memakai setelan jas tuxedo berwarna putih senada dengan setelan kebayanya yang di pakai saat ini.
Hendra yang merasa Salma menatap dirinya dia hanya menunjukkan ekspresi wajah datar dan dinginnya .
Pernikahan cuma akad nikah saja tidak menyelenggarakan resepsi . Acara pernikahan selesai kedua keluarga sangat bahagia . Sesuai kesepakatan setelah pernikahan selesai keluarga pak Herman akan memboyong Salma dan Anaknya ikut ke kota ke rumah mereka . Naura menolak ikut mereka dengan alasan masih ingin tetap menuntut ilmu di pesantren dan tidak ingin jauh2 dari kakek dan neneknya . mereka pun tidak menolak.
*****
Di dalam kamar Salma ganti baju gamis berwarna pink dengan balutan jilbab yang senada dengan bajunya membuat dirinya sangat cantik walau pun riasannya tadi sudah di bersihkan. dia juga menaruh baju2 nya kedalam koper .
Di ruang tamu keluarga pak Herman menunggu Salma sedang Siap2 sambil mengobrol. Nadia dan Naura mereka cepat akrab walaupun pertama kali bertemu. membuat ke dua kakek dan Neneknya gemas melihat tingkah mereka dan kadang ikut tertawa mendengar
Candaan dan obrolan mereka.
" Ingat ya kalo liburan kau harus ikut ke rumah papaku kita akan tinggal bersama, dan panggil aku kakak karna aku satu tahun lebih tua darimu " . Celoteh Nadia.
" iya kakakku yang bawel " Jawab Naura . Nadiah terkekeh sambil memeluk Naura. mereka langsung saling menyukai dan sama2 cocok.
Hendra bergabung dengan Adi dan istrinya.
__ADS_1
" Hen... jangan lupa nanti malam minum jamu biar kuat semalaman " Ucap Adi menggoda Hendra.
" Kau Bicara omong kosong " Sambil memainkan ponselnya malas menanggapi godaan sahabatnya itu.
" Kamu tau hen, entah kenapa di malam pertamaku dulu nafsuku sangat menggebu , Aneh dan heran sih badanku terasa panas kita melakukannya sampek kuwalahan... tapi enak sih benar gak sayang " katanya lagi yang membuat Ratna istrinya mencubit lengan suaminya karna malu setengah mati pada Hendra tapi adi malah terkekeh.
" Ah kau ini... wajarlah itu malam pertamamu " jawabnya ketus masih sibuk dengan ponselnya.
Tak lama kemudian Salma keluar kamar dan udah siap berangkat sambil membawa koper.
" Lihat lah kakak iparku sangat cantik sekali " Ucap Adi. membuat Hendra menoleh ke Salma " Cantik yang Alami " kalimat yang terlintas di benaknya tapi di tepisnya langsung memalingkan wajahnya.
Salma tidak menyadari tatapan itu. karna dia sedang memeluk kedua orang tuanya dia minta restu dan pamitan . memeluk Naura dan berpesan.
" Kamu jaga diri baik2 ya sayang., Bunda akan sangat merindukanmu ,,". Pesan salma sambil mengecup keningnya dan menangis.
" Bunda jangan menangis, ini hari bahagia bunda, aku tidak apa2 sore nanti aku juga akan berangkat ke pesantren. " ucap Naura sambil mengusap air mata di pipi salma.
" Makasih sayang, kamu anak yang baik " berpelukan lagi.
Naura menuntun Salma menghampiri Hendra yang berdiri Bersama keluarganya menunggu Salma yang sedang pamitan.
" Pak aku mohon jaga bundaku, buatlah bunda bahagia dan jangan buat bunda menangis " Pesannya pada Hendra.
" Tentu sayang,, aku janji akan menjaga dan membuat bundamu bahagia , dan panggil aku papa seperti Nadia dan jangan panggil pak " jawabnya sambil mengusap rambut Naura lalu menatap salma dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Baiklah papa.. " Memeluk Naura dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Naura juga tidak membenci Hendra karna kematian ayahnya sudah takdir yang harus di ihlaskan tidak boleh dendam dan menerima dengan tulus orang yang menyebabkan ayahnya meninggal sekarang malah menjadi ayahnya.
Hendra berniat akan menyayangi dan menganggap Naura seperti anaknya sendiri. Entah itu karna merasa bersalah harus bertanggung jawab karna mengakibatkan ayahnya tiada atau memang naluri kasih sayang seorang ayah muncul. entahlah pikir Hendra.
" Kau yakin tidak ikut kami? " Tanya Nadia dengan penuh harap.
" aku yakin, kalo liburan saja aku ikut kesana " jawab Naura dengan senyuman manisnya.
" Baiklah aku akan menunggumu adikku " Berpelukan.
Ahirnya acara perpisahan penuh haru itu selesai. keluarga pak Herman berangkat ke kota .
.
.
.
.
.
__ADS_1