SURVIVE

SURVIVE
Last day in LA


__ADS_3

-Jangan pernah lari dari masalahmu, jika kamu tidak ingin hidupmu dihantui oleh masalahmu-


Los Angeles, September


"Lusa kita akan pindah ke Indonesia. Daddy akan mengurus surat kepindahanmu besok." Ucap Kenan santai lalu pergi menuju kamar namun membuat seorang gadis dihadapannya menangis tertahan.


Gadis itu menundukan kepalanya dan meremas ujung celana selutut miliknya untuk menahan tangisnya agar tidak pecah.


Wanita paruh baya menghampiri gadis itu dan duduk disampingnya.


"Caitlin? Daddy dan Mommy memutuskan untuk pindah ke Indonesia karena kami akan mengurus perusahaan keluarga kita yang ada di Indonesia." jelas Diana sambil mengelus bahu sang anak, Caitlin


"Okay, Mom"


"Mommy knows what you're thinking right now. Don't always avoid your problems. You must try to solve it, dear. I trust you, you can do it." ucap Diana diakhiri kecupan lembut di pucuk kepala Caitlin lalu pergi ke kamar menyusul Kenan.


"I'll try, Mom. Thank You" gumamnya pada dirinya sendiri karena Diana, Mommynya sudah meninggalkannya ke kamar.


🌿🌿🌿


Seorang gadis masih terlelap dalam tidurnya, tak menghiraukan bunyi jam beker yang sudah berdenting terus - menerus sedari tadi. Gadis itu merasa terganggu oleh suara itu, mengambil jam beker miliknya di nakas dan melemparnya ke sofa yang ada di dekat pintu kamar. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


"Caitlin? Ini sudah siang memang kamu tidak ingin sekolah ? Ayo cepat bangun nanti kamu terlambat." suara lembut yang sangat ia kenali meneriakinya dari balik pintu.


"Iya, Mom." jawabnya malas lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Hari ini adalah hari terakhirnya di Los Angeles High School, salah satu sekolah favorit di kota itu. Sebelum Caitlin pindah ke Indonesia dan melanjutkan study nya di Jakarta.


"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Diana yang baru menyelesaikan sarapannya.


Diana menggelengkan kepalanya "Tidak, Mom. Nanti Aku telat"


"Tapi, minum susunya dulu!" pinta Anna sebelum mengizinkannya berangkat. Dan Caitlin hanya menggangguk setuju.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Caitlin segera berangkat ke sekolah diantar oleh supir pribadinya. Di perjalanan, Ia hanya menatap jalanan yang dilaluinya setiap hari.


I'm gonna miss this city. Los Angeles.


🌿🌿🌿


-Sangat sakit rasanya jika orang yang kita sayangi tak lagi percaya pada kita dan tak dianggap, hanya karena kesalahan yang bukan kita perbuat-


Caitlin Emma Gibson


°°°°°


Los Angeles, September


Seorang gadis sedang duduk di bangku panjang yang ada di taman sambil menatap kosong dedaunan yang mulai menguning dan berjatuhan. Membiarkan segemelintir udara dingin membelai seluruh tubuhnya. Dibalik pohon seseorang memperhatikannya seperti tidak ingin berpaling walau hanya sedetik. Dari tatapannya tersirat rasa rindu yang mendalam.


Gadis itu tetap pada posisinya, tak bergerak sedikit pun. Gadis itu masih bergelut dengan pikirannya. Mengingat semua kejadian yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Kesalahpahaman telah membuatnya dijauhi orang yang paling ia sayangi. Tanpa disadari, cairan panas mulai membasahi pipi chubby nya yang mulus. Dengan cepat tangan seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan kepada gadis itu. Gadis itu mendongakan kepalanya untuk melihat orang itu. Namun, wajahnya tak terlihat karena tertutup masker.


"Thank's" ucap gadis itu dengan suara yang mulai serak. Tetapi, laki - laki itu pergi begitu saja tanpa berbicara sepatah kata pun pada gadis itu.


Aneh? Siapa laki - laki itu? Tanyanya dalam hati.


Drrt... Drrt... Drrt...

__ADS_1


Iphone miliknya bergetar dan menampilkan panggilan dari ibunya.


"Hallo, mom"


"Caitlin? Where are you now?"


"My friend's house, mom"


"Go home now. Mommy waiting you "


"Ok, mom"


Caitlin menghapus air matanya dengan sapu tangan yang diberikan laki - laki misterius tadi. Dia ingin mencari tahu tentang laki - laki itu, namun ia tahu waktunya di kota ini tinggal beberapa jam lagi. Lalu, pergi meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di rumah, Caitlin segera masuk ke kamarnya dan segera merapikan barang - barangnya lalu dimasukkan ke dalam koper biru langit miliknya. Tatapannya terpaku pada sebuah kotak berwarna hitam dengan pita biru diatasnya. Caitlin mengambil kotak itu, dan memegangnya erat lalu membukanya secara perlahan. Kelopak matanya terasa penuh dan cairan panas di matanya memaksa untuk meluncur ke pipi chubby nya yang mulus. Ia menggenggam barang yang ada di kotak itu satu persatu. Pertama, sebuah kaset CD yang diluarnya tertulis "To : Joshua". Dan dua buah gelang yang sama dengan sang pemberi kotak itu disertai sebuah surat yang diikat pada masing - masing gelang.


Terlintas di benaknya tentang permintaan seseorang yang belum ia wujudkan sampai saat ini itu membuatnya tahan kuasa menahan air matanya. Cairan panas itu mulai membasahi wajahnya lagi. Dadanya terasa sesak saat menyadari ia telah gagal memenuhi permintaan seseorang. Karena kenyataan yang tak berpihak padanya dan tak memberinya kesempatan sedikitpun.


"Maaf, ka" ucapnya yang terdengar seperti bisikan. Tangisannya semakin tak terkendali sehingga terdengar isakan yang cukup kencang memenuhi kamarnya.


"Maaf hiks ka hiks. Caitlin hiks kangen sama hiks kaka"


Tiba - tiba terdengar suara wanita paruh baya memanggil namanya dari balik pintu.


"Cait?"


"Cait?"


"Kamu ada di dalam bedroom kan?"


Karena tak mendengar jawaban dari anaknya, wanita itu segera menekan kenop pintu dan masuk ke kamar Caitlin. Ceklek.


"Hmm"


"Oh, oke. Kamu pasti lelah. Kalau begitu istirahatlah nanti akan Mommy bangunkan" tambahnya lalu pergi dari kamar Caitlin.


Ia bangun dari posisinya lalu mengambil kotak itu dan menaruhnya didalam koper.


Jakarta I'm coming


Lalu, ia memejamkan matanya dan tertidur.


⚫⚪⚫


Jakarta, September, WIB


"Josh, tadi gue liat artikel tentang keluarga lo. Tentang Kenan Gibson bokap lo itu." ucap laki - laki yang duduk di samping Joshua. hanya diam dan tidak ingin menggubris perkataan sahabatnya itu.


"Kata bokap lo nih yah pas jumpa pers itu, dia, nyokap lo dan adik perempuan lo yang kece badai itu pengen balik ke Jakarta. Dan bokap lo akan ngurusin perusahaan GCG Company yang ada di Indo. Emang bener?" tanyanya lagi membuat Joshua mengernyitkan dahinya tak percaya dengan yang dikatakan sahabat sekaligus teman sebangkunya yang juga dijuluki raja gosip. Joshua meninggalkan kelas tanpa mengatakan sepatah kata punya.


"IDIH KUTU KUPRET DASAR. GUE NANYA BUKANNYA JAWAB MAEN NYELONONG AJE LO." ketusnya. "Awas aja lo balik gue tanyain lagi sampai lo jawab."lanjutnya dan disambut lemparan kertas dari teman sekelasnya.


"Adawh.. Auwh. Woi santai dong!" ringisnya saat beberapa bola kertas mengenai kepala dan bagian tubuh lainnya.


"Habisnya lo tuh berisik EVAN SANJAYA. Sekali lagi lo teriak gue tonjok congor lo" ancam seorang siswi yang duduk di depan dua kursi darinya.


"Ya elah, Cin. Jangan galak galak kenapa sama cogan." ujarnya yang disambut tatapan tajam dari Cindy. "Eh, Iya.. Iya.. Mingkem nih gue,, nih.. Nih" lanjut Evan sambil menutupi mulut dengan tangannya.


"Hahahaha... Mampus lo" ledek seorang siswa yang duduk di belakang Evan.

__ADS_1


"Kok lo ngeselin sih?" ketus Evan.


"Bodo" cibir siswa itu sambil menjulurkan lidahnya.


Baru saja Evan ingin membalas, tiba - tiba ucapan seseorang membuatnya harus mengurungkan niatnya.


"Kevin, Evan, bisa diem enggak sih kalian?" pintah laki - laki yang duduk di samping Kevin.


"Oke, Davin yang tampan, kita diem." jawab mereka serentak membuat Davin menggeleng heran dengan tingkah mereka.


Joshua duduk di pinggir lapangan basket indoor lalu merogoh saku celananya untuk mengambil iphone miliknya. Ia berniat untuk menanyakan kebenaran tentang kepindahan keluarganya ke Jakarta kepada kakaknya, Alan. Namun, ia tak ingin terlihat peduli pada keluarganya. Lalu ia membuka dan membaca artikel yang memuat berita terbaru tentang keluarganya seperti yang dikatakan oleh Evan sih raja gosip sekaligus sahabatnya.


Ternyata benar, mereka akan kembali secepatnya


"Seharusnya kau senang mereka kembali dan kalian bisa tinggal bersama. Tapi, kenapa kau malah terlihat kesal? Setidaknya kan kau bisa memberikan dia kesempatan untuk mengungkapkan kejadian sebenarnya saat dia kembali. Supaya hubungan diantara kau dan dia agak membaik." katanya sambil menempatkan diri disamping Joshua.


"Enggak semudah itu, Liv" Joshua menoleh kearah Olivia.


"Yah, gue tau. Tapi apa salahnya lo mencoba." Tambah Olivia menyakinkan laki - laki yang ada disampingnya.


🌿🌿🌿


Jam di dinding telah menunjukan pukul 23.00, menandakan seorang laki - laki berjas putih yang sedang membereskan alat - alat kesehatan di ruangannya untuk pulang.


Sesampainya di rumah, laki - laki itu segera berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan suara teriakan yang memanggil namanya dari ruang keluarga.


"Kak Alan?"


"Oi, kak? Baru pulang?"


Siapa lagi kalau bukan teman - temannya Joshua yang selalu bikin ulah dimanapun mereka berada.


"Josh, gue enggak sabar deh pengen liat adik lo yang kece badai itu. Pasti cantik banget aslinya" ujar Evan membuat seluruh mata tertuju padanya.


"Apa banget sih Lo, Van, Van? Mending kalo dia nya mau liat muka lo, kalo enggak?" ledek Kevin. Davin dan Joshua hanya tersenyum miring melihat tingkah kedua temannya itu.


"Eh jangan salah gini gini gue kembaran LEONARDO DICAPRIO. Banyak tau yang bilang gue mirip dia." tandas Evan yang berhasil membuat tawa ketiganya pecah.


"Bhaakkk.. Mirip dari mana nya? Yang ada lo tuh mirip babu nya sih Leo. Hahah" ledek Kevin lagi.


"Sakit... hati ade, bang. Cukup. Abang telah mencampakkan ku seperti ini, ade tak sanggup lagi, bang. Cukup sudah." kata Evan mendramatisir membuat orang yang disekitar geli mendengarnya.


"Idih. Mit amit, ogah gue jadi abang lo, yang ada gue sawan tiap hari. Jauh jauh sono" Kevin mengibas - ibaskan tangannya seolah mengusir Evan yang kini menatapnya genit.


"Udah malam, jangan berisik!" terdengar suara bariton dari arah tangga. Membuat mereka terdiam dan melihat ke sumber suara itu.


"Udah malam? Emang jam berapa sekarang?" Tanya Kevin. Davin dan Evan mengedikkan bahunya ta peduli.


"Jam setengah satu" jawab Joshua singkat.


"APAAA?" teriak Kevin dengan mata terbelalak. "Ssstttt" tegur ketiga temannya bersamaan sambil menempelkan jari telunjuk mereka ke bibir Kevin.


"Udah malam, gue harus balik. Supaya enggak terlambat besok. Nanti gue kena hukum nyokap lagi." ucapnya membuat ketiga temannya menahan tawa agar tak pecah dan menimbulkan suara yang berisik.


"Besok hari Sabtu, Vin" Davin membuka suara dengan santai walaupun ia sedang berusaha menahan tawanya.


"Oh, astaga. I'm forget. Hiii" ujar Kevin sambil menggaruk tenguknya yang tak gatal sama sekali.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2