
-Masa lalu biarlah berlalu, dan lupakanlah masa lalumu jika itu menyakitimu-
Caitlin Emma Gibson
°°°°°
Waktu istirahat sudah selesai dan semua siswa kembali ke kelas mereka masing - masing dan melanjutkan pelajaran.
Caitlin kembali ke kelas bersama Rachel dan Stella. Saat di koridor, Caitlin melihat Joshua yang sedang tertawa lepas bersama teman - temannya. Tanpa sadar Caitlin ikut tersenyum melihat tawa Joshua yang penuh bahagia.
Akhirnya aku bisa melihat tawa itu lagi. Tawa yang sudah hampir 3 tahun ini tak pernah aku lihat.Terima kasih Tuhan.
"Caitlin, lo kenapa?" Tanya Stella yang menepuk pelan bahu Caitlin.
"Eh, enggak apa - apa kok. Udah yuk." Tukas Caitlin yang kembali melangkah menuju kelas.
Saat Caitlin sudah duduk di tempatnya, Jasmin dkk kembali menghampiri dirinya. Caitlin merasa risih dengan kehadiran mereka bertiga berniat untuk pergi namun Grace mencekal tangannya agar tidak pergi dari tempatnya.
"Ada apa lagi sih?" Tanya Caitlin yang mulai kesal dengan tingkah The Red Velvet yang semena - mena pada dirinya.
"Kan gue udah bilang lo mau enggak gabung sama kita? Lo bakal rugi kalo enggak gabung sama kita. Kita bisa bikin lo hits di sekolah ini." Ujar Jasmin santai dan duduk diatas meja Caitlin.
"Gue enggak mau. And stop to disturb me! Tukas Caitlin dengan menunjuk jari telunjuknya kearah Jasmin.
"Lo kalo ngomong yang sopan dikit dong, anak baru kok songong." Tambah Grace mencengkram dagu Caitlin kasar.
"LEPAS!" Tukas Caitlin yang melepas cengkraman Grace dari dagunya.
Jasmin menarik rambut Caitlin yang terikat rapih.
"Berani banget lo? Anak baru." ujar Jasmin yang menekankan kata 'Anak Baru'. Caitlin yang sudah tidak tahan diperlakukan seperti itu menarik balik kerah baju Jasmin.
"Lo bisa enggak sih? Enggak ganggu gue." Seru Caitlin lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Jasmin.
"Eh kalian tuh kenapa sih selalu gangguin Caitlin? Kalo dia enggak mau gabung sama kalian yah jangan di paksa dong!" timpal Stella yang mulai kesal melihat tingkah semena - mena Jasmin ddk pada Caitlin.
"Enggak usah ikut campur!" bentak Fanny yang membuat Stella bungkam.
"Tapi, kalian selalu ngusik dia tau gak?" tambah Rachel sedikit teriak.
"Jasmin cukup! Kalo mau jadi jagoan jangan di sekolah." Teriak seseorang dari belakang Caitlin dan menarik tangan gadis itu lalu menyuruhnya duduk. Laki - laki itu juga duduk di tempatnya yang ada disamping Caitlin. Yah, yang menghentikan perkelahian Caitlin dan The Red Velvet adalah David. David sih laki - laki yang cuek, jutek, dingin, dan aneh menurut Caitlin.
"Thank's" Ujar Caitlin yang membuat David menatapnya tajam.
__ADS_1
Aneh orang ngucapin terima kasih malah ditatap tajam. Sombong!
Caitlin merapikan rambut yang sempat berantakan akibat ulah Jasmin dkk sambil menggerutu. Tanpa disadari David memperhatikan gerak - gerik Caitlin melalui ekor matanya.
Waktu sudah menunjukan pukul dua siang dan menandakan pelajaran hari ini sudah selesai. Seluruh siswa berhamburan keluar sekolah dan Caitlin menuju parkiran melihat mobil Andra sudah terparkir. Caitlin mencari Joshua dan ingin mengajaknya pulang. Caitlin mendapati Joshua bersama dengan tiga temannya, kemudian gadis itu mengampiri mereka dan mengajak Joshua pulang.
"Kak Willy, kak Alan udah nunggu di parkiran." Ujarnya membuat teman - teman Joshua mengalihkan pandangan mereka kepadanya.
"Lo apa - apaan sih. Gue kan bilang jangan panggil gue dengan nama itu di sekolah dan jangan ganggu gue!!. Lo tuli?" ketus Joshua "Dav gue balik sama lo." lanjut Joshua mengajak Davin pulang.
Mendengar itu, Caitlin pergi meninggalkan mereka semua dan pergi ke parkiran. Gadis itu naik ke mobil Alan dan mengatakan apa yang Joshua katakan.
"Kak Willy pulang bareng temannya." Ujar Caitlin yang melihat kearah jendela.
Perkataan Joshua tadi masih tergiang di pendengarannya kata - kata itu memang sederhana namun itu membuat dada gadis itu terasa sesak saat mendengarnya. Caitlin menatap kosong bangunan yang ia lewati di jalanan.
"Caitlin? What's wrong? " Tanya Alan yang menolehkan wajahnya ke sebelah kiri. Caitlin melihat kearah Alan dan menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Setibanya di rumah Caitlin segera berlari menuju kamarnya. Gadis itu bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan celana jeans hitam dan jaket kulit hitam. Tak lupa ia mengambil helm berwarna putih, sarung tangan dan kunci motor di rak tempat biasa Alan, Joshua, dan dirinya meletakkan perlengkapan bermotor mereka.
Caitlin menyalakan mesin motornya dan memanaskan motornya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan rumah menggunakan motor ninja putih kesayangannya. Caitlin berniat untuk pergi ke sebuah cafe tempat yang biasa ia datangi saat masih SMP dulu.
Caitlin memarkirkan ninja putih tepat di depan cafe yang ia maksud tadi. Lalu ia masuk mencari tempat yang kosong. Cafe itu bernama Cafe Trifix. Dulu cafe ini menjadi langganannya bersama sahabat lamanya, Gino.
"Cappuccino Chocolate nya satu, sama waffle pancake with vanilla ice cream nya satu, yah mba" ucap Caitlin tersenyum pada waiters itu.
"Oke, tunggu sebentar yah." Ujar waiters itu dan diberi anggukan antusias dari Caitlin.
Caitlin mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan ia mencari kontak seseorang untuk dihubungi. Namun, ia bimbang untuk melakukannya karena ia takut orang yang ia hubungi itu tidak mau menerimanya. Saat Caitlin masih menatap ponselnya seorang waiters membawa pesanan dan menaruhnya di meja.
"Terima kasih, mba." Seru Caitlin yang melanjutkan kegiatannya.
Caitlin tak tahu harus bagaimana sekarang. Dia ingin menghubungi Gino, tetapi ia takut Gino masih marah padanya dan tidak mau menerimanya.
Flasback On
Di kelas hanya tersisa Caitlin yang sedang merapikan bukunya ke dalam tas. Gino datang menghampiri Caitlin yang tak kunjung keluar dari kelas karena laki - laki itu sudah menunggu cukup lama.
"Cait, udah belum?" Tanya Gino.
"Udah kok. Ayo!" Ajak Caitlin sambil menarik tangan Gino.
"Jadi kan ke cafe Trifix nya." Ceplos Caitlin saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah dan diberi anggukan dari Gino.
__ADS_1
Setibanya di cafe Trifix mereka menempati tempat yang ada di sudut cafe itu. Dan mereka saling bertukar cerita satu sama lain.
"Cait, gue janji gue akan selalu ada buat lo gimana pun keadaan lo. Gue akan selalu disamping lo di saat sedih atau senang, gue janji sama lo akan selalu jagain lo dan selalu ngebuat lo bahagia." Ucap Gino yang membuat Caitlin terharu.
"Janji?" Tukas Caitlin yang mengacungkan kelingkingnya ke hadapan Gino. Gino pun dengan senang hati mengaitkan kelingkingnya ke jari kelingking Caitlin dan berkata.
"Janji. Kita kan sahabat. Dan gue sama lo enggak akan terpisahkan." katanya.
Di saat itu, Caitlin senang mendengar pernyataan Gino padanya. Ia merasa beruntung bisa mendapat seorang sahabat yang tulus seperti Gino. Yang menyayanginya sepenuh hati tanpa takut kehilangan.
Flashbalck Off
Tanpa sadar Caitlin meneteskan cairan bening ke pipinya. Saat ini ia merasa semuanya kandas ditelan sang waktu dan hanya bisa menjadi kenangan indah. Tanpa tahu sahabatnya kapan kembali. Caitlin pernah menjadi orang paling bahagia saat ia bersama Gino. Gino selalu bisa membuat Caitlin tertawa lepas melupakan semua beban di pikirannya. Namun, saat ini Caitlin tidak bisa mencari sosok penghibur seperti Gino disaat dirinya dilanda masalah yang cukup rumit di hidupnya. Masalah yang membuatnya jauh dari orang - orang terdekatnya bahkan orang yang ia sayangi. Karena sebuah kesalahan yang bukan ia lakukan, ia harus menanggungnya selama bertahun - tahun, tanpa tahu harus berbuat apa.
Caitlin mengusap air mata yang membasahi pipinya. Tanpa gadis itu ketahui, ada seorang laki - laki sedang memperhatikannya dari salah satu meja yang ada di kafe itu. Sudah 2 jam berlalu, tetapi Caitlin tetap pada posisinya dan berkutat dengan pikirannya tanpa menyentuh makanan dan minuman yang dipesannya sedikit pun. Gadis itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, dengan tangan kiri menyanggah kepala yang terasa berat. Tiba - tiba terngiang di benaknya tentang perkataan Joshua saat disekolah.
*Jangan pernah panggil gue dengan nama itu di sekolah!
Jangan pernah ganggu gue selama di sekolah*!
Mungkin bagi orang lain itu hanya perkataan biasa, tetapi bagi Caitlin perkataan itu sangat menusuk ke hatinya. Dan membuat dadanya sesak saat mendengar itu. Sakit? Memang, tapi ia harus terbiasa dengan sikap dan perkataan kasar yang Joshua lakukan padanya. Caitlin menghela napasnya berat lalu meraih iphone miliknya diatas meja dan meng-unlock. Caitlin menatap layar iphone malas saat melihat banyak notif yang masuk yang Alan kirim untuknya. Tak hanya itu, ada hampir 50 kali Alan menelponnya, tapi tak satupun direspon olehnya. Setelah itu, dengan cepat Caitlin mematikan iphone nya saat Alan menelponnya kembali, ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Tidak mau!. Dan tidak ingin!.
Lalu ia bangkit dari kursi, dan berjalan menuju kasir untuk membayar pesanannya. Namun, saat ia hendak membayar sang kasir mengatakan kalau pesanannya sudah dibayar oleh seseorang.
"Permisi, saya ingin membayar billing table 17."
"Billing table 17 sudah dibayar, nona."
"Sudah dibayar? Oleh siapa?"
"Saya tidak tahu, nona. Orang itu tidak memberi tahu namanya."
"Laki - laki atau perempuan?"
"Laki - laki, nona"
"Oh, kalo begitu terima kasih. Permisi!"
Siapapun orang yang bayar billing gw. Thank You.
🌹🌹🌹
TbcMama0117
__ADS_1