
"Veron?" Samuel segera berjalan menuju sepupunya yang tengah membalut lukanya.
"Hai Sam, aku kira kau sudah lari meninggalkan ku disini dengan orang orang ini." Veron tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari perban yang tengah dia ganti.
"Paman Brant yang membawamu kesini?" Samuel mendudukan diri disisi Veron, dia melihat kearah perban putih yang ada ditangan Veron.
"Ya, Daddy yang membawaku kesini. Padahal sebenarnya aku ingin pergi mencarimu, tapi makhluk makhluk itu malah menyebabkan aku menabrak separator jalan dan seperti inilah akibatnya."
Veron terkekeh melihat tangannya yang tertutup perban, dan kini dia mengalihkan pandangannya kearah lain. Pria itu tiba tiba saja bangkit, berjalan mendekat pada gadis berwajah oriental yang tengah meneguk satu botol air menirel.
"Hai Ex?" Veron menampilkan senyumannya pada gadis yang tengah menatapnya malas, bahkan gadis itu terlihat menghindar tanpa memperdulikannya. Veron merasa semakin tertantang saat gadis yang dulu selalu menempel padanya itu kini terlihat tak acuh dan masa bodoh padanya.
__ADS_1
"Kau tidak merindukanmu hm?" Veron terus saja mengikuti langkah sang gadis.
"Apa mau mu?" Gadis itu sudah jengah dengan kelakuan pria yang sedari tadi terus saja mengikutinya. Ditempat yang sama gadis itu juga melihat Ina temannya tengah berbicara dengan Samuel, entah apa yang sedang mereka bicarakan dia pun tidak tahu.
"Kau masih marah padaku?" oke pertanyaan bodoh apa ini Veron, pria ini bertanya apakah gadis itu masih marah padanya setelah kejadian dimana sang gadis memergokinya tengah berciuman panas bersama dosen sexy dikantor sang dosen, dia masih bertanya seperti itu.
"Menurut mu?" gadis itu menaikan sebelah alisnya, sudut bibirnya mengukir senyuman sinis pada Veron. Melihat nada ketus serta senyuman sinis itu membuat Veron menipiskan senyumannya.
"Masih menyukaimu? hanya gadis bodoh yang masih menyukai pria tidak setia sepertimu Veron!" gadis itu melangkah pergi meninggalkan Veron yang terkekeh setelah dia melempar botol air mineral kearah wajah pria itu.
"Kau tetap galak Aiko, aku suka itu."
__ADS_1
Veron menatap punggung kecil Aiko dengan tatapan yang tidak terbaca, pria itu menyeka hidungnya yang berdarah karena hantaman botol air mineral yang dilemparkan oleh Aiko tadi.
Sedangkan disudut ruangan ini, Samuel terlihat tengah menjelaskan sesuatu pada Inayna. Namun sepertinya gadis itu masih belum mau mendengarkan ucapannya saat ini.
" Aku tidak tahu kalau Papa mu bekerja diperusahaan ini Nay, kalau aku tahu Profesor Lukman itu Papa mu, mungkin aku sudah menyuruhnya untuk pulang saat dia dan doktor Aiko memutuskan untuk membuat penawar." Samuel terlihat frustasi karena Ina tidak kunjung memberi respon padanya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada kedua orang tuaku, kau orang pertama yang akan aku benci Sam." Ina menghindar, gadis itu berjalan mendekati Zean yang tengah terduduk diatas tempat tidurnya. Zean terlihat khawatir sama seperti Ina saat ini, kedua orang tua mereka tengah berjuang mati matian agar penawar itu bisa secepatnya selesai dan tidak akan ada lagi manusia yang berubah menjadi makhluk makhkuk mengerikan itu diluar sana.
"Zen?" Ina memeluk tubuh adiknya, kedua saudara itu kini hanya mengandalkan satu sama lain untuk saling melindungi. Ina dituntut untuk bisa melindungi saudaranya, begitu pula Zen. Remaja itu harus bisa melindungi sang Kakak dari apa pun, karena tugasnya sebagai pelindung saudaranya dimulai sejak saat ini.
SEMOGA KALIAN SUKA, THANKS
__ADS_1