
Ina mengerjakan matanya, kedua tangannya meregang saat merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Ekor matanya melirik ke arah Sang adik yang masih terlelap, kemudian bola matanya bergulir ke arah lain. Tidak jauh darinya ada Aiko yang juga masih tertidur di sofa, hanya ada mereka bertiga rupanya.
Ina bangkit, dia berjalan menjauh dari adiknya dan mendekat ke arah pintu yang memiliki kaca kecil di tengahnya. Ina melihat ke arah luar melalui kaca tembus pandang itu, suasana di luar terlihat sepi tidak ada satu orang pun manusia.
Kemana Samuel dan Veron pergi?
Ina menggigit bibirnya, ada rasa bersalah timbul di dalam hatinya. Apa mungkin Samuel meninggalkannya karena sakit hati atas ucapannya beberapa jam yang lalu, pria itu meninggalkannya disini?
Jantung Ina berdegup kencang, dia menatap nanar ke arah luar, kedua matanya terlihat berembun siap mengajak keluar dari kedua matanya. Ingin rasanya dia keluar dari ruangan ini, tapi nyalinya belum cukup besar untuk menghadapi makhluk mengerikan di luar sana.
Akhirnya Ina hanya mampu menangis, dia berbalik membelakangi pintu. Tapi belum sempat dia melangkah menjauh, ekor matanya menangkap seseorang yang tengah berjalan ke arahnya dengan langkah tidak biasa.
Ina kembali berbalik, kedua matanya menyipit menatap orang yang terlihat aneh dimatanya. Ina mundur kebelakang saat menyadari kalau itu bukan manusia normal sepertinya, melainkan makhluk mengerikan yang saat ini tengah mengepung mereka dari luar.
"Zo-zombi?" gumamnya.
Di tempat lain, Samuel dan Veron tengah berlari sekencang mungkin untuk menghindari makhluk makhluk yang tengah mengejar mereka membabi buta.
"Kau sudah memastikan helikopternya aman dari makhluk-makhluk itu?" Samuel bertanya dengan napas terengah, dia memastikan kalau sepupunya ini mengerjakan perintahnya dengan baik.
"Ada di rooftop, aku yakin aman!"
Samuel mengangguk, dia kian mengencangkan larinya. Mereka berdua berusaha menghindar, mengecoh makhluk-makhluk itu agar kehilangan jejak mereka. Beratus-ratus anak tangga Samuel dan Veron lewati hingga akhirnya sampai dilantai bawah, soalnya saat mereka hendak berbelok dua makhluk mengerikan sudah berada tidak jauh dari keduanya.
Dan dua makhluk itu adalah seorang ajusan Ayahnya Samuel dan juga sekretaris nya.
"Sialan, kalau aku bertemu dengan Ayah mu nanti akan ku hajar dia!" tutuk Veron kesal.
__ADS_1
Dia sudah lelah berlari tunggang langgang dan kini harus berhadapan dengan para makhluk yang bisa menghancurkan hidup dan masa depannya.
"Aiko tidak akan menyukaiku kalau aku sampai menjadi seperti mereka," imbuhnya lagi.
Samuel hanya menatap malas pada Veron, dia memilih untuk bergerak pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara agar makhluk itu tidak menyadari kehadiran mereka.
"Lari di hitungan ke tiga." cetus Samuel.
Veron menoleh, dia melihat aba aba yang di berikan oleh Samuel. Bersiap memasang kuda kuda dan akan berlari sekencang mungkin saat makhluk itu berbalik membelakangi mereka berdua.
"Satu.... Tiga!"
Samuel berlari menuju pintu darurat, Veron yang merasa di tinggalkan mengumpat dalam hati. Sepupunya itu memang sialan, teganya dia meninggalkannya sendiri.
Keduanya berlari dan akhirnya sampai di luar, lebih tepatnya pintu darurat yang membawa mereka keluar gedung. Sangat terpaksa mereka berdua harus mengambil jalan memutar. Dan sekarang Samuel juga Veron tengah mengatur napas setelah memastikan tempat ini aman, tapi sepertinya mereka salah. Tidak jauh dari mereka beberapa makhluk seram itu mulai berdatangan membuat Veron terlebih dahulu meninggalkan Samuel.
"Kau tidak penasaran bagaimana penampilan teman kencan mu yang sexy itu sekarang, hm?" Samuel menyunggingkan senyum smirk nya pada Veron. Dia sangat ingin tahu bagaimana reaksi bajingan ini saat mengetahui dosen sexy yang sering dia kencang berubah menjadi makhluk mengerikan seperti mereka. Apakah Veron masih mau mengencani nya?
"Aku tidak berkencan dengan siapa pun. Jangan sampai Aiko mendengarnya, dia bisa makin membenciku!"
Samuel berdecih, dia berbelok setelah sukses mengatur larinya agar tidak over. Tenggorokannya terasa kering, napasnya terengah, namun dia bersyukur karena lorong yang menuju ruangan dimana Ina berada sudah tidak jauh lagi dari mereka berdua.
Sementara di lorong itu, Ina berusaha menahan pintu agar tetap tertutup. Aiko dan Zean pun ikut membantu setelah mereka terbangun karena mendengar keributan. Mereka berdua shock saat melihat satu mayat hidup tengah berusaha untuk mendobrak pintu yang tengah di halangi oleh Ina.
"Kemana Samuel dan bajingan itu?" geram Aiko.
Ina tidak menjawab dia hanya menggeleng, raut wajahnya semakin pucat, dia sudah amat ketakutan tapi tidak boleh sampai menyerah.
__ADS_1
"Pria bedebah! Sialan, awas saja kalau sampai aku bertemu dengan mereka ku pu-,"
"ITU MEREKA!"
Zean berseru kencang saat melihat dia orang pria berpenampilan lusuh tengah berlari ke arah mereka bertiga. Bahkan makhluk mayat hidup itu ikut berbalik saat mendengar derap sepatu yang kian mendekat ke arah pintu.
Tapi belum sempat mayat hidup itu mendekat, Samuel sudah terlebih dahulu menghantamnya menggunakan sepotong tongkat besi yang dia dapatkan dari lantai bawah saat berlari dari kejaran mayat hidup.
Aiko dan Ina bahkan memekik saat melihat kepala makhluk itu hancur dan seketika tidak sadarkan diri lagi tepat di depan mata mereka.
"Kau tidak apa apa?" Samuel terlihat begitu khawatir saat melihat wajah pucat Ina.
Tanpa bicara Ina segera memeluk tubuh pria itu, mendekapnya erat seakan tidak mau lagi di tinggalkan. Ina kembali menangis, rasa takut, khawatir, kecewa, tengah menghantam dirinya.
"It's okey, kita akan pergi dari sini!" Samuel membalas dekapannya dan membelai lembut rambut lepek milik Ina.
"Ayo kita pergi ke rooftop sebelum makhluk itu kembali!"
Veron segera menarik Aiko. Pria itu tidak peduli dengan rontaan gadis yang tengah di seretnya.
"Yang lainnya kemana?" tanya Ina, saat dirinya mulai berjalan sejajar dengan Samuel dan Zean adiknya.
"Aku tidak tahu!" sahut Samuel dengan mata terus saja waspada. Dia tidak bisa menjamin kalau di lorong yang mereka lewati ini aman tanpa ada mayat hidup yang siap mengigit mereka.
"Bagaimana dengan Ayah dan Ibuku, apakah mereka-,"
"Paman Brant akan mengurus mereka kau tenang saja. Sekarang lebih baik kita bergegas agar segera sampai ke rooftop dan segera meninggalkan kota ini! Mereka tidak akan bisa menyebrangi laut, jadi kita akan keluar dari New York!" ucap Samuel penuh dengan keseriusan.
__ADS_1
SEMOGA KALIAN SUKAAAAAAA😘😘😘😘😘😘