
-Kita mungkin pernah sangat dekat. Tetapi itu dulu sekarang tidak. Hanya karena sebuah kesalahpahaman.-
Caitlin Emma Gibson
°°°°°
Diana membuka kenop pintu kamar Caitlin, lalu membangunkan putrinya. Namun, Caitlin tak kunjung membuka matanya. Diana menggoyang - goyangkan tubuh Caitlin sehingga anak itu merasa terganggu. Caitlin pun duduk sejenak sembari mengerjapkan matanya berulang kali.
Caitlin berlari menuruni tangga dan menuju meja makan untuk sarapan sebelum ia brangkat ke sekolah. Langkahnya melambat saat Joshua duduk di samping kursi tempat yang biasa ia duduki saat makan.
"Cait! Come on" Ajak Kenan yang menyadari kehadiran Caitlin. Gadis itu hanya menggangguk setuju lalu duduk di kursinya yang ada di samping Joshua.
Caitlin hendak mengoleskan selai coklat pada roti tawarnya terhenti oleh ucapan Diana yang membuatnya terkejut.
"Cait? What happen with your hand?" Tanya Diana khawatir.
"Yeah, my hand... Eee.. Jatuh pas main basket." jawab Caitlin terbatah - batah.
"But, are you okay?" sambung Kenan yang juga khawatir.
"Yeah, i'm okay. Don't worry" Jawab Caitlin mantap.
Selesai sarapan mereka semua beranjak menuju garasi dan menaiki mobil masing - masing. Kenan dan Diana ke kantor, Alan ke rumah sakit, serta Joshua dan Caitlin ke sekolah. Walaupun, Joshua dan Caitlin bersekolah di tempat yang sama mereka tidak ingin berangkat bersama.
Caitlin sangat bersemangat karena hari ini ia bisa bermain basket lagi setelah sekian lama tak memainkannya. Dan Pak Ardi selaku guru Penjas akan melakukan pengambilan nilai dari permainan basket.
Sesampainya di sekolah, Caitlin segera memarkirkan BMW i8 putihnya di pekarangan sekolahnya dan bergegas menuju kelas. Selang beberapa menit, Joshua pun tiba dengan mobil BMW i8 berwarna merah dan memarkirkannya tepat di samping mobil Caitlin. Caitlin baru saja membuka pintu pengemudi cepat - cepat melangkah meninggalkan parkiran agar tidak melihat wajah kakaknya yang tidak berekspresi saat melihat dirinya. Dari dalam mobil, Joshua dapat melihat sikap adiknya yang mencoba menghindari dirinya dengan jelas dan hanya mendengus kesal. Sikap Caitlin yang berubah padanya juga merupakan kesalahan dirinya yang tidak bisa mencoba untuk menerima adiknya sendiri.
Why so difficult for forgive you? Why?.
Caitlin berjalan secepat mungkin menuju kelas agar ia tidak melihat wajah kakaknya. Semakin cepat berjalan sampai ia tak melihat seseorang yang kini ia tabrak dari belakang. Wajahnya bertemu dengan punggung tegap milik seseorang. Dengan wajah memerah dan malu, Caitlin melangkah mundur lalu menundukan kepala sebelum ia meminta maaf pada orang itu. Kini beberapa pasang mata tertuju pada mereka berdua.
"Ma..maaf." Ujarnya gugup. Orang itu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Caitlin, lalu menepuk bahu gadis itu dan mengatakan sesuatu.
"Enggak apa - apa kok" Jawab orang itu santai. Caitlin terkejut saat melihat wajah orang itu, ternyata dia adalah Davin. Caitlin menarik ujung bibirnya keatas dengan terpaksa karena malu. Davin pun ikut tersenyum melihat tingkah Caitlin yang kelewat malu sekaligus gugup. Selama beberapa detik, mereka membiarkan keheningan terjadi diantara mereka sampai terdengar suara bariton dari belakang Caitlin.
"Hai, Dav!" Sapa laki - laki itu. Caitlin membelalakan matanya saat mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya, yah suara itu milik Joshua. Caitlin berniat meninggalkan Davin dan Joshua, namun langkahnya terhenti saat kedua sahabat Joshua yang lain bersama dua perempuan teman sekelas Joshua menghampiri mereka, seketika pula jalan Caitlin terhalang oleh mereka berempat. Caitlin tak tahu harus berbuat apa, lalu ia mencari cela untuk pergi dari mereka tapi usahanya lagi - lagi gagal oleh Evan dan Kevin yang mulai mengganggunya.
"Hai, bidadari cantik! Mau kemana? Buru - buru amat." Ujar Evan genit membuat Caitlin bergedik geli dalam hatinya.
"Iya, mending nongkrong bareng sama kita -kita dulu, gimana? Pada setuju kan?" Sambung Kevin dan Caitlin hanya mendengus kesal.
"Jo, adek lo kalo lagi gugup lucu juga mukanya. Polos.. Polos gimana gitu." Ujar Cindy dengan tertawa hambar. Joshua tak menggubrisnya dan hanya tersenyum tipis.
Olivia mendekat kearah Caitlin dan melingkarkan tangan di leher gadis itu.
__ADS_1
"Ikut kita yuk!" Ajak Olivia, namun Caitlin tetap diam. Joshua tahu bahwa adik perempuannya merasa risih dengan mereka semua terutama dirinya. Joshua mencoba membantunya dan mengatakan sesuatu kepada sahabatnya.
"Udahlah, guys! Enggak Usah ngajak orang asing kayak dia! Gue risih." Ujar Joshua yang terdengar sederhana tapi sangat menusuk ke hati Caitlin. Kini hati Caitlin terasa perih dan panas sama seperti matanya. Tak menunggu lama, Caitlin berlari meninggalkan mereka dan mendorong Kevin dan Davin yang ada di hadapannya untuk memberikannya jalan.
"Jo? Enggak seharusnya lo ngomong kayak gitu ke Caitlin. Sampai kapan lo mau kayak gini terus hah?" Kata Olivia yang menatap Joshua kecewa.
"Kalo emang lo risih sama dia, lo kan bisa ngomong baik - baik, Jo." Sambung Davin yang kemudian berjalan mendahului mereka.
Caitlin berlari menyusuri setiap koridor yang harus dilewatinya menuju kelas. Caitlin tak dapat menahannya lagi, kini matanya memanas dan cairan bening meluncur keluar membasahi pipi mulusnya. Beberapa pasang mata menatap Caitlin penuh tanya. Entah apa yang sedang terjadi pada gadis itu saat ini? Ia berlari dengan cairan bening yang terus membasahi pipinya tanpa henti.
Sebelum masuk ke kelas XI IPA 1, Caitlin menghentikan langkahnya di depan toilet lalu masuk ke sana. Caitlin berdiri menatap bayangan dirinya di cermin namun, itu tak membuat gadis itu berhenti menangis. Caitlin kembali terisak sampai ia merasakan pasokan udara kian menipis.
"Cait? Are you okay?" Tanya Stella cemas. Caitlin tak menjawab, ia memilih untuk diam, jangankan berbicara bernafas saja ia susah. Stella merasa terenyuh melihat temannya, lalu ia menarik Caitlin kedalam pelukannya untuk menyalurkan kehangatan pada Caitlin dengan tangan kanan mengelus punggung gadis itu yang gemetar.
"Nangis sepuas lo, karena dengan menangis itu bisa membuat lo lega."
Setelah beberapa menit kemudian mereka berdiam, Caitlin pun melepas pelukan Stella dan berdiri menatap bayangan dirinya pada cermin.
"Thank's, Stel."
"Ya udah, sekarang lo hapus air mata lo dan cuci muka. Bentar lagi kan bel masuk." Saran Stella dan Caitlin hanya menggangguk mengerti lalu Caitlin melakukan apa yang dikatakan Stella.
Caitlin membuka lokernya untuk mengambil seragam olahraga miliknya. Karena lima belas menit lagi pelajaran olahraga akan dimulai. Para siswa hanya diberi waktu lima belas menit untuk mengganti seragam.
"Adrian, Fanny, dan Stella" teriak Pak Ardi. Sembari menunggu namanya dipanggil Caitlin duduk menyendiri. Tiba - tiba kejadian tadi pagi memenuhi pikirannya, Caitlin tak percaya jika Joshua akan tega memperlakukan dirinya seperti itu di hadapan sahabatnya.
"Berikutnya, Caitlin, David, Jasmin" Teriak Pak Ardi untuk sesi kedua. David menghampiri Caitlin dengan bola basket di kedua tangannya. Caitlin masih terdiam dan menatap lurus ke depan, David melihat Caitlin yang melamun menepuk pelan bahu gadis itu untuk menyadarkannya.
"Giliran kita" Ajaknya dengan nada dingin namun sedikit di pelankan. Caitlin terkejut dan segera bangun dari duduknya lalu mengambil alih salah satu basket yang David bawa.
Prrittt...
Suara peluit sudah terdengar menandakan permainan dimulai. Caitlin men - dribble basket dengan lihai sampai ia hampir mengalahkan David dan Jasmin yang awalnya berada di depannya. Caitlin berlari dan siap melompat untuk men - shoot basketnya ke ring. Dan yupp bola basket yang Caitlin bawa meluncur dengan mantap ke ring basket. Kemudian disusul David dan juga Jasmin. Rachel, dan Stella sedikit terpukau karena sahabat barunya ternyata mempunyai bakat yang belum mereka ketahui.
"Wow! Excellent" Roy berdecak kagum sembari menepukkan kedua tangannya. Mendengarnya Caitlin hanya tersenyum tipis pada Roy.
"Cait, lo keren banget main basketnya" Ujar Rachel yang melingkarkan tangan kanannya di leher Caitlin.
"Iya, Cait. Lo keren padahal kan tangan kiri lo lagi diperban."puji Stella.
"Tangan kiri gue udah enggak sakit kok jadinya gue bisa main basket deh" ujarnya dengan menunjukan senyuman terbaiknya.
"Lo emang suka basket yah?" Tanya Stella yang membuat raut wajah Caitlin mendadak muram.
"Eh, sorry Cait. Gue enggak maksud, sorry" Sambung Stella saat melihat raut wajah Caitlin yang tiba - tiba berubah.
__ADS_1
"Tapi, jujur aja nih lo jago banget main basketnya. Jasmin aja kalah sama lo" Puji Rachel dengan kedua tangan yang bersedekap di dadanya. Caitlin menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan temannya yang satu ini. Rachel yang seolah mengerti dengan respon Caitlin melanjutkan pembicaraannya. "Iya. Soalnya Jasmin itu kapten tim basket SMA Tunas Harapan." Sambungnya yang membuat Caitlin membulatkan bibir membentuk 'O' dan menggangguk paham.
Bel istirahat pun berbunyi membuat seluruh siswa berhamburan menuju kantin untuk melepas rasa lapar. Tak menunggu lama, Caitlin, Rachel, dan Stella bergegas menuju kantin untuk menghilangkan rasa lelah yang mereka dapatkan dari pelajaran olahraga yang menguras tenaga itu. Tapi, berbeda dengan Caitlin yang tidak merasa lelah bahkan menurutnya olahraga tadi sama sekali tidak melelahkan. Yah karena Caitlin sangat suka olahraga ataupun latihan fisik seperti gym dan gulat yang melelahkan dan menguras tenaga bagi sebagian besar wanita seusianya.
"Aduh, sumpah yah, olahraga itu melelahkan tau enggak? Kaki gue berasa pengen patah tau?" Rengek Rachel dengan suara nyaringnya.
"Iya, sama. Badan gue sakit semua, gila" Sambung Stella dengan wajah melas nya, tapi Caitlin hanya diam mendengar kedua temannya yang mengeluh.
"Itu wajar kali" Jawab Caitlin singkat dan disambut tatapan tajam sekaligus heran kedua temannya.
"Wajar kata lo?" Ketus Stella dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Wajar apanya?" Kata Rachel, yang ikut meninggi kan nada suaranya.
"Iya, wajar." Caitlin menghela napas sejenak lalu menjelaskan pada teman - temannya kenapa badan atau kaki mereka terasa sakit setiap kali selesai olahraga. "Menurut gue sih wajar, soalnya kalian kan jarang olahraga jadi pas kalian olahraga badan kalian akan terasa sakit. Rasa sakit itu muncul karena otot kalian tegang atau kaget" lanjutnya mantap.
"Tapi kan sama aja. Melelahkan!" Tandas Stella. Caitlin hanya menggeleng heran dan tersenyum tipis melihat tingkah manja temannya.
"Bener tuh, kata Stella bikin badan remuk tau enggak?" Sahut Rachel yang tak terima.
"Iya, iya, iya, terserah kalian. Enggak usah berdebat deh! Katanya laper?" Ucap Caitlin yang berusaha menengahi perdebatan diantara mereka.
Caitlin dan Rachel kini duduk di tempat biasa sedangkan Stella sedang membeli makanan. Mata keduanya teralihkan oleh dua orang yang kini berdiri di hadapan mereka.
"Caitlin?" Caitlin mendongakkan kepalanya untuk melihat perempuan itu. Mereka adalah Olivia dan Cindy, teman sekelas Joshua. Caitlin tak menjawab dan menatap bingung ke arah mereka.
"Soal yang tadi pagi, jangan lo anggap serius yah! Joshua cuman butuh waktu, dan gue janji gue akan bantu lo." Jelas Olivia.
Bantu? Yah, semoga aja.
Caitlin hanya menunjukan senyuman terbaiknya saat mendengar perkataan Olivia. "Thank's kak".
Olivia menggangguk kecil lalu meninggalkan Caitlin yang diikuti Cindy.
"Liv, lo yakin mau ngebantuin Caitlin?" Tanya Cindy sedikit khawatir.
"Yakin lah. Gue enggak tega ngeliat mereka kayak gitu terus." Jawab Olivia santai.
"Lo enggak takut kalo Joshua marah sama lo? Karena udah ikut campur urusan dia sama Caitlin."
"Gue enggak pernah takut selama apa yang gue ngelakuin itu bener."
🌹🌹🌹
Tbc
__ADS_1