
-Gunakan kesempatan yang masih ada, sebelum kamu benar - benar kehilangan kesempatan itu-
Olivia Putri
°°°°°
Caitlin melajukan motor ninja putihnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Caitlin berhenti di pinggir jalan yang sepi dan duduk terjongkok disamping motornya. Terdengar gemuruh yang menggelegar dari langit. Tiba - tiba sekumpulan air jatuh dari langit yang kini membasahi bumi. Caitlin membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air hujan yang turun kian deras.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam tetapi Caitlin tak kunjung pulang. Alan duduk di sofa tak tenang dan terus mencoba menghubungi Caitlin. Sesekali Alan bertanya pada Bibi Ira tentang kemana adik perempuannya pergi. Karena tak biasanya Caitlin pergi tanpa pamit seperti ini membuat Alan dan orang tuanya khawatir. Alan menanyakan soal Caitlin kepada Joshua yang sedang asik bermain playstation bersama ketiga temannya yaitu Davin, Kevin, dan Evan.
"Joh, lo tau Caitlin pergi kemana?" Tanya Alan yang berdiri di depan Joshua membelakangi TV.
"Enggak, gue enggak tau." Ucap Joshua santai.
"Caitlin kemana sih?" Bisik Alan yang masih bisa terdengar Joshua dan teman - temannya. Ketika mendengar itu, Joshua merasa tidak tenang dan ingin mencari keberadaan adik perempuannya itu tetapi mengingat hubungannya dengan Caitlin tidak begitu baik membuat Joshua mengurungkan niatnya, walaupun sebenarnya ia sangat khawatir.
Caitlin menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya yang bertumpu pada lutut, kini gadis itu terduduk di trotoar pinggir jalan. Ia terdiam dan memikirkan masalah yang tak pernah ada ujungnya itu, Caitlin menangis sejadi - jadinya di tempat itu tanpa peduli hujan deras yang mengguyur tubuhnya.
Tiba - tiba tubuh Caitlin tertarik ke belakang dan didapati seorang wanita berjaket hitam kulit tengah menarik kerah bajunya seperti ingin memberikan sebuah bogeman kearah wajahnya.
Bughh
Sebuah tonjokan yang mengenai sudut bibir Caitlin yang dilepaskan perempuan misterius itu. Wajah Caitlin terhempas dan keluar darah dari sudut bibirnya yang robek akibat tonjokan itu.
Bughh
Sekali lagi perempuan misterius itu memberikan tonjokan yang membuat Caitlin meringis dan bangkit dari duduknya berniat untuk membalas perempuan itu.
Bughh
Caitlin membalas tonjokan kepada perempuan itu. Caitlin terus memukul perut perempuan itu sampai perempuan itu tak berkutik lagi. Lalu Caitlin memakai helm dan pergi dari tempat itu meninggalkan perempuan misterius itu yang tengah tergeletak lemah di aspal. Caitlin menarik gas kencang tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia alami saat ini.
Setibanya di rumah, Caitlin langsung memarkirkan motornya dan masuk ke dalam rumah dengan menenteng helm putih miliknya. Caitlin hendak mengetuk pintu tetapi pintu terbuka begitu saja dan menampilkan Alan di ambang pintu menyambut kedatangannya. Tanpa mempedulikan Alan yang berdiri, Caitlin segera melangkah masuk dengan tatapan lurus ke depan. Alan yang melihat lebam pada wajah Caitlin pun merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada adik perempuannya itu. Alan menyusul Caitlin dan menanyakan keadaannya.
"Cait, kamu dari mana? Terus itu bibir kamu kenapa berdarah?" Tanya Ala yang membuat langkah Caitlin terhenti dan membalikkan tubuhnya. Joshua dan teman - temannya kini juga dapat melihat wajah Caitlin yang lebam.
"Eh, ade lo kenapa? Mukanya lebam gitu." Bisik Evan yang menyenggol lengan Joshua.
Caitlin meletakkan helm putihnya di meja tanpa menjawab pertanyaan dari Alan. Alan yang tidak puas pertanyaannya tidak dijawab menarik kasar lengan Caitlin dan menyisakan beberapa senti tubuhnya dengan Caitlin.
"Jawab pertanyaan kak Alan. Kamu darimana? Kenapa bibir kamu berdarah kayak gini?" Tanya Alan lagi.
Dengan berat hati, Caitlin menjawab pertanyaan Alan dengan suara yang serak karena habis menangis.
"Aku habis dari Cafe Trifix." Jawab Caitlin santai.
"Terus lebam di muka kamu kenapa? Kakak kan udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah berantem! Kamu itu cewek." Ujar Alan yang membuat Caitlin kesal mau tidak mau dia harus jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi orang itu yang mulai duluan ka. Perempuan itu datang tiba - tiba dan nonjok aku gitu aja tanpa aku tahu apa salah aku sama dia, enggak mungkin dong aku diem aja ditonjokin sama orang itu, aku punya kewajiban untuk melindungi diri aku sendiri." Jelas Caitlin sedikit teriak.
"Siapa perempuan itu?" Tanya Alan lagi.
"Enggak tau." jawab Caitlin membuang muka ke samping.
"Siapa perempuan itu? jawab kaka!" Tanya Alan memaksa.
"Yah masalahnya aku juga enggak tahu dia siapa, tiba - tiba datang dan nonjok aku gitu aja. Aku enggak kenal siapa perempuan itu." Ketus Caitlin kesal yang kemudian berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan Alan. Joshua mendengarnya mulai berpikir tentang perempuan yang Caitlin maksud tadi. Sebenarnya bisa saja Joshua menanyakan ciri - ciri perempuan itu pada Caitlin, namun untuk melakukannya ia harus pikir panjang. Tidak mungkin ia tiba - tiba baik kepada Caitlin hanya untuk menanyakan tentang perempuan misterius yang sudah menyakiti adik perempuannya.
"Perempuan misterius? Seram amat. ade lo ada yang dendam tuh, Joh." ceplos Kevin yang mendapat pukulan pelan dari Joshua.
"Peduli amat." Tukas Joshua yang Acuh kepada Caitlin, walaupun sebenarnya dia juga sedang memikirkan hal yang sama seperti apa yang dikatakan Kevin.
🌿🌿🌿
Diana mengetuk pintu kamar Caitlin berkali - kali, namun gadis itu tak kunjung bangun dan menjawabnya. Diana memaksa masuk dan melihat Caitlin terbaring lemah di ranjangnya. Diana meraba kening Caitlin, Diana terkejut saat merasakan suhu tubuh anaknya cukup tinggi.
"Cait? Kamu demam. Hari ini kamu tidak usah masuk, istirahat saja di rumah." Ujar Diana yang dibantah Caitlin.
"Enggak mom. Caitlin mau sekolah aja." Tandasnya.
"Tapi Cait--" Ujar Diana yang terpotong oleh Caitlin.
"Please mom! Cait mau sekolah, Cait enggak mau di rumah." Tambah Caitlin yang beranjak dari ranjangnya lalu bersiap - siap untuk berangkat ke sekolah. Mau tak mau Diana harus mengikuti permintaan anak perempuannya itu.
Di meja makan Kenan, Diana, Alan, dan Joshua sudah berkumpul untuk sarapan. Caitlin datang dan segera duduk di bangku yang biasa ia tempati. Caitlin mengambil sehelai roti lalu mengolesi roti itu dengan selai coklat. Tak lupa ia juga meminum segelas susu putih yang sudah Bibi Ira siapkan.
"Joshua, hari ini Cait berangkat bareng kamu!" Pinta Kenan.
"Tapi, dad. Joshua enggak bisa. Kan ada kak Alan, bareng kak Alan aja." Tolak Joshua.
"Untuk apa daddy sekolahin Caitlin bareng kamu kalo kamu aja enggak mau berangkat bareng sama adik kamu sendiri. Kan kamu tau dia juga lagi sakit." Bujuk Kenan sambil menyeruput secangkir teh.
"Tapi dad---" Ucap Joshua yang terpotong oleh ucapan Caitlin yang ketus.
__ADS_1
"Udah, enggak perlu. Kalo emang enggak bisa ya udah. Caitlin bisa bawa mobil sendiri kok." Seru Caitlin yang bangkit dari duduknya dengan tangan memegangi keningnya dan meraih kunci mobil miliknya.
Joshus hanya memperhatikan gerak - gerik Caitlin heran.
Gimana dia mau bawa mobil? kalo jalan aja dia sempoyongan kayak gitu. Batin Joshua.
Tanpa aba - aba Joshua pun bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Caitlin. Joshua merampas kunci mobil Caitlin dan memberikannya pada Bibi Ira lalu Joshua menarik tangan Caitlin menuju garasi tempat mobilnya terparkir.
Cait tau kok kak, sebenarnya kak Willy masih peduli sama Cait. Gumamnya dalam hati. Tanpa sadar ia tersenyum tipis melihat perlakuan Joshua yang peduli padanya.
Di perjalanan mereka sama - sama terdiam, Joshua fokus dengan jalanan yang mulai macet dan Caitlin memejamkan matanya selama perjalanan untuk beristirahat sejenak.
Setibanya di sekolah, Caitlin bergegas menuju kelasnya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Joshua.
Tumben? Tuh cewek enggak banyak ngomong, biasanya kalo liat gue dia selalu maksa buat ngomong sama gue. Gumam Joshua dalam hati.
Gue akan coba enggak ganggu lo lagi, dan menjauh dari lo selama di sekolah sesuai permintaan lo, kak. Gue akan coba demi lo. Batin Caitlin.
Caitlin duduk disamping David yang sedang asik memainkan game di ponselnya. Caitlin menyembunyikan wajah di lipatan tangannya diatas meja karena ia merasa kepalanya pusing, dan nyut - nyutan.
Bel masuk sudah berbunyi menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Setelah lima menit bel berbunyi, Bu Arin guru Biologi sudah berada di kelas XI IPA 1. Bu Arin memberikan tugas kelompok yang beranggotakan dua orang, yaitu kelompok dengan teman sebangku. Beliau tidak mengajar hari ini karena keperluan mendadak di luar sekolah. Tugas tersebut harus dikumpulkan sebelum istirahat, mau tidak mau Caitlin harus mengerjakannya sesegera mungkin. Caitlin mengambil peralatan tulis yang dibutuhkan lalu membawanya ke perpustakaan.
"David, kan kita sekelompok. Kalo lo mau ikut ngerjain nyusul gue aja di perpus. Tapi itu kalo lo mau, kalo lo enggak mau juga enggak apa - apa, gue enggak maksa." Ujar Caitlin tersenyum canggung kemudian beranjak dari duduknya menuju perpustakaan. Caitlin tidak menghiraukan rasa sakit yang ia rasakan di kepalanya dan terus melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
Gue pasti kuat, gue bisa !!!. Batin Caitlin.
Caitlin duduk di tempat yang berada paling pojok di ruangan itu. Sejenak ia memijat pelan pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.
Saat Caitlin hampir menyelesaikan tugas Biologi, tangannya tiba - tiba lemas, dan tak kuat untuk melanjutkan menulis. Caitlin menghentikan aktivitasnya sejenak dan menempelkan kepalanya diatas meja.
"Tangan gue kenapa lemas kayak gini sih? padahal kan tinggalbdikit lagi selesai." Ujar Caitlin pada dirinya sendiri.
Di sebrang sana ada seorang laki - laki yang sedang memperhatikan Caitlin dari kejauhan. Laki - laki itu hendak menghampiri Caitlin yang mulai lelah, namun langkahnya terhenti saat David lebih dulu menghampiri Caitlin dan duduk disampingnya.
"Udah selesai ?" Tanya David dengan nada dinginnya. Caitlin terkejut dan segera mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang sedang berbicara padanya.
David?
Caitlin hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Dikit lagi"
"Sini gue lanjutin?" Tawar David dengan wajah datarnya.
"Ini, sorry gue enggak bisa lanjutin. Tangan gue tiba - tiba lemas." Ujar Caitlin dengan menyodorkan kertas dan pulpen ke hadapan David. David tak menggubris perkataannya dan sibuk dengan tugas biologi yang hendak ia selesaikan. Caitlin menatap David yang saat ini sedang fokus pada tugas kelompok mereka, terkadang Caitlin tersenyum melihat wajah David yang sangat berbeda dari biasanya. Wajah yang dingin, datar, jutek, dan sinis tetapi hari ini untuk pertama kalinya gadis itu melihat wajah David yang kalem dan manis.
David dapat melihat Caitlin yang sedang menatapnya dari ekor matanya, lalu David menghentikan aktivitasnya dan menatap balik Caitlin. Gadis itu terkejut lalu ia mengalihkan tatapannya sesegera mungkin. David hanya tersenyum tipis melihat Caitlin yang salah tingkah lalu ia melanjutkan menulis tugasnya.
Dasar cewek aneh! Batin David yang sontak membuat David menggelengkan kepala heran.
Caitlin merasa sangat malu sampai - sampai ia salah tingkah. Caitlin terus mengigit bibir bawahnya.
"Selesai" Seru David dengan nada sedikit teriak.
"Thank's udah mau bantuin." Tandas Caitlin.
"Ini kan tugas kelompok, jadi lo enggak usah berterima kasih sama gue" ucap David lalu pergi meninggalkan Caitlin di perpustakaan.
Bel sudah berbunyi menandakan istirahat telah tiba. Rachel, dan Stella mengajak Caitlin untuk istirahat ke kantin.
"Cait, kantin yuk!" Ajak Stella yang menaikan kedua alisnya. Lagi - lagi Caitlin hanya menggangguk sebagai jawaban. Caitlin pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kantin bersama kedua teman barunya. Caitlin berkali - kali mengerjapkan matanya agar dapat menetralkan rasa sakit di kepalanya. Sampai di koridor Caitlin benar - benar tak kuat berjalan dan pandangannya juga berkunang - kunang.
Brughh
David yang berada tak jauh segera menghampiri Caitlin yang sudah tergeletak di lantai koridor. Namun, David mengurungkan niatnya saat sang kakak, Davin sudah ada disamping Caitlin. Davin segera menggendong Caitlin menuju UKS dan diikuti oleh kedua teman Caitlin.
Dari kejauhan Joshua juga melihat kejadian itu, ia hanya bisa meremas celananya kesal. Tetapi, di lubuk hatinya yang paling dalam Joshua terlalu berat untuk bisa memaafkan Caitlin. Olivia yang berada disamping menepuk pelan bahu Joshua, ia tahu apa yang sedang sahabatnya pikirkan saat ini. Olivia sudah mengenal Joshua sejak mereka TK, maka dari itu ia tahu tentang masalah yang pernah Joshua dan Caitlin alami.
"Udah, Jo!" Seru Olivia yang menempatkan diri disamping Joshua.
"Coba untuk maafin dia, yah walaupun gue tahu itu masih berat buat lo. Tapi, mau sampai kapan lo kayak gini? Caitlin itu adik lo, dan lo sebagai kakak harus ngejagain dia sekalipun lo benci sama dia. Kalo lo enggak mau suatu saat terjadi hal buruk sama Caitlin coba untuk bisa maafin dia mulai sekarang. Lo enggak mau kan kehilangan orang yang lo sayang untuk kedua kalinya? Gunakan kesempatan yang masih ada, karena kita enggak pernah tahu kapan kita akan kehilangan orang yang kita sayang, dan kita enggak pernah tahu, Jo" Jelas Olivia dengan menepuk pelan bahu Joshua lalu pergi meninggalkannya.
Setelah mendengar itu, Joshua merenung sejenak memikirkan perkataan Olivia. Joshua menarik kasar rambutnya dan terduduk di lantai dengan wajah yang kian memerah karena ia menahan tangis.
Lo benar Liv. Tapi, gue bingung harus gimana? Gerutu Joshua dalam hati.
Olivia melihat sahabatnya dari kejauhan hanya bisa meneteskan air mata karena ia tak tega melihat Joshua terpuruk seperti itu terus.
Gue akan bantu lo, gue janji Jo. Batin Olivia.
Di UKS, Rachel, dan Stella menjaga Caitlin yang belum sadar dari pingsannya. Sedangkan Davin membuatkan teh hangat dan mengambil obat untuk Caitlin.
"Makasih yah, ka Davin." Ucap Rachel.
"Caitlin bangun dong!" Ujar Stella dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Iya, sama - sama. Ya udah, kalo gitu gue ke kelas duluan. Kalo Cait udah bangun jangan lupa suruh dia minum teh dan obatnya." Jawab Davin yang meletakkan segelas teh hangat dan obat diatas meja yang ada disamping brankar tempat Caitlin terbaring.
"Iya ka, pasti." Ucap Rachel dan Stella bersamaan.
Setelah Davin keluar dari UKS, Olivia dan Cindy datang untuk melihat keadaan Caitlin yang belum sadarkan diri.
"Saya minta tolong sama kalian. Tolong jagain Caitlin sampai dia sadar." Pinta Olivia dengan mata yang berkaca - kaca. Kedua teman Caitlin heran dengan kedatangan Olivia dan Cindy yang tiba - tiba karena tak biasanya mereka menghampiri adik kelas. Rachel, dan Stella hanya menggangguk menandakan mereka setuju dengan permintaan Olivia walaupun sebenarnya mereka sedikit heran. Setelah mendapat jawaban, Olivia dan Cindy pun segera pergi dari UKS.
Aneh? Enggak biasanya ka Olivia peduli sama orang lain yang baru ia kenal. Batin Stella heran.
Tak lama kemudian, Caitlin tersadar dari pingsannya dengan memegangi keningnya yang terasa sakit. Caitlin mengubah posisi tidurnya menjadi setengah duduk.
"Cait ini minum tehnya dulu. Biar lo ada tenaga. Habis itu baru lo minum obat" Ujar Rachel sembari membantu Caitlin menyeruput teh hangat yang sudah dibuat oleh Davin.
"Thank's kalian enggak istirahat?" Tanya Caitlin dengan suaranya yang serak.
"Gimana kita mau istirahat kalo teman kita aja pingsan kayak tadi. Enggak mungkin kita ninggalin lo sendiri disini, Cait." Jawab Stella sambil menatap mata sayu milik Caitlin. Caitlin tersenyum mendengar jawaban dari temannya itu.
Teman?
"Makasih.... Makasih, Kalian udah peduli sama gue." Ujar Caitlin yang tak sengaja meneteskan air mata karena terharu.
"Jangan nangis dong!" Ujar Stella yang menghapus air mata di pipi Caitlin.
"Eh, Cait. Itu muka lo kenapa lebam gitu?" tanya Rachel.
"Oh, ini gara - gara dicium sarung tinju" ujarnya santai dan Stella hanya manggut - manggut seolah tahu jika Caitlin sangat suka bela diri.
"Lo bisa bela diri?" tanya Rachel polos.
"Hmm"
"Ohhhhh"
"Tadi ka Davin yang bawa lo kesini. Dan teh ini juga dia yang buat."Ujar Stella yang membuat Caitlin terkejut dan mengerutkan keningnya.
"Ka Davin?" Tanya Caitlin memastikan yang ia dengar.
"Iya. Ka Davin yang udah nolongin lo." Tambah Rachel meyakinkan.
Ka Davin? Tanya Caitlin dalam hati.
"Ke kelas yuk!" Ajak Caitlin yang beranjak dari brankar.
"Tapi lo harus istirahat, Cait. Lo masih lemas lagian juga lo baru sadar." Pinta Stella cemas.
"Kalian tenang aja. Gue udah sehat kok." Tandas Caitlin yang keukeu dengan keinginannya. Mau tidak mau kedua temannya harus mengikuti permintaannya itu.
"Ya udah, ayo! Tapi kalo lo ngerasa enggak enak badan, bilang aja sama kita." Ujar Rachel yang mendapat anggukan dari Caitlin.
Setibanya di kelas, Caitlin duduk di tempatnya lalu menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya diatas meja. David menyadari kedatangan Caitlin, ia melirik gadis disampingnya melalui ekor matanya.
"Tugas biologi udah lo kumpulin?" Tanya David dengan nada dingin dan hanya mendapat anggukan dari Caitlin.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang dan membuat siswa berhamburan keluar kelas karena bel pulang sudah berbunyi. Caitlin bingung harus pulang dengan siapa karena ia tahu Joshua tidak suka berangkat atau pulang bersama dirinya jika tidak karena terpaksa.
Caitlin berjalan menyusuri parkiran dan tatapannya bertemu dengan tatapan Joshua. Caitlin melihat Joshua sudah menunggu ditemani oleh Olivia, namun Caitlin tetap berjalan tanpa menghiraukan Joshua dan menundukkan kepalanya. Langkahnya terhenti saat tangannya tertarik ke belakang seperti ada yang menahan. Gadis itu pun melihat orang yang menahan tangannya saat ini, ternyata orang itu adalah Olivia.
"Mau kemana? Joshua udah nunggu lo." Seru Olivia yang membuat Caitlin menyatukan alisnya.
"Maaf kak, aku pulang naik taksi aja." Ketus Caitlin dan melepaskan genggaman Olivia dari tangannya. Lalu menunggu taksi di depan gerbang sekolah.
Olivia yang mendengar itu, menatap Joshua kecewa. Joshua melihat raut wajah Olivia yang sedih bertanya kepada sahabatnya itu.
"Kenapa? Dia enggak mau?" Tanya Joshua. Olivia hanya menggangguk perlahan.
"Ya udah, gue anter lo pulang aja." Tawar Joshua lalu menarik tangan Olivia.
"Jo, sampai kapan? Sampai kapan lo terus kayak gini? Lo ngerasa enggak sih kalo Caitlin tuh mulai menjauh dari lo." Ketus Olivia yang mulai bosan dengan sikap acuh sahabatnya kepada Caitlin.
"Liv, please berhenti untuk ngebahas tentang dia. Gue capek!." Jawab Joshua sedikit menahan amarahnya.
"Yah tapi sampai kapan Jo? Sampai lo kehilangan dia? Hah?" Tanya Olivia yang membuat amarah Joshua memuncak.
"Liv, stop! Mending sekarang lo keluar dari mobil gue!" usir Joshua sedikit teriak dengan nada dingin.
Olivia keluar dari mobil Joshua dan menatap mobil itu sampai tak terlihat.
Semoga dengan gue ngomong kayak gitu, bisa bikin lo sadar Jo. Kalo lo enggak boleh larut dalam masalah ini terus - menerus. Gumamnya dalam hati.
🌹🌹🌹
Tbc
__ADS_1