SURVIVE

SURVIVE
Comeback


__ADS_3

-Aku tidak butuh sikap pura - pura baikmu padaku, tetapi yang aku inginkan hanya untuk mendapat maaf darimu-


Caitlin Emma Gibson


°°°°°


Los Angeles, September


Dalam perjalanan menuju airport, Caitlin hanya menatap datar ke arah kaca mobil sambil mengingat - ingat 3 tahun lalu ketika ia baru tiba di kota ini. Los Angeles.


Kota ini menjadi pelarian Caitlin, mungkin?. Atas semua kesalahpahaman yang tiada akhir. Membuat gadis itu menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk pindah ke kota ini. Namun, 3 tahun masih tidak cukup untuk menyembuhkan luka di hatinya dan orang yang ia sayangi.


Sesampainya di airport, mereka, Kenan, Diana dan Caitlin segera menarik koper mereka masing - masing dan masuk melalui pintu keberangkatan.


Di ruang tunggu, Kenan dan Diana sibuk pada iphone mereka masing - masing. Kenan bertelepon dengan teman kerjanya, mungkin?. Dan Diana menelpon Alan, anak sulungnya.


"Hallo"


"..."


"Alan, sebentar lagi kami akan berangkat, jangan lupa nanti jemput kami di airport."


"..."


"Kau sudah gila, ini bukan waktu yang tepat untuk membawanya pulang bersama kami."


Caitlin yang mendengar perkataan Mommy nya mengernyitkan dahinya bingung. Seperti ada sesuatu yang ditutupi oleh Mommy. Dia? Siapa?.


"..."


"Yah, Mommy know. Tetapi, ia akan menyusul nanti"


Caitlin masih menatap bingung Mommynya seperti sedang membicarakan seseorang yang Caitlin sendiri tidak tahu. Aneh? Entahlah aku tidak peduli? Mungkin hanya urusan bisnis.


"..."


"Hmm"


"..."


"Sudah dulu kami akan segera masuk ke pesawat. Bye. See you"


Tut... Tut... Tut...


⚫⚪⚫


Jakarta, September, WIB


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Alan membuka matanya dengan malas dan meraih iphone nya di nakas. Ia mengedipkan matanya mencoba menajamkan penglihatan untuk membaca nama panggilan yang tertera di layar ponselnya.


Mommy is calling...


Mommy?

__ADS_1


Alan segera mengangkat telepon dari ibunya dan bergegas bangkit dari tempat tidur lalu berjalan keluar menuju balkon yang ada di kamarnya.


"Yah, mom. Ada apa?"


"..."


"Of Course. Aku harap Mommy membawa Cait---"


"..."


"I miss her so badly mom"


"..."


"Really?"


"..."


"Aku dan Jo ingin sekali bertemu dengannya, andai saja tidak ada gadis itu pasti kami tidak akan berpisah seperti ini."


"..."


Tut... Tut... Tut...


Alan menghela napas dan mengusap wajahnya kasar untuk sekedar menghilangkan beban pikirannya.


"Gadis itu kembali, dan gue harus bersandiwara lagi di depannya. Gue enggak sanggup berpura - pura dengan perempuan yang udah misahin gue sama My baby angel. Tapi, gue juga enggak tega sama dia. Damn!" bisiknya pada diri sendiri dengan mata terpejam dan mengusap wajahnya kasar untuk kedua kalinya.


Setelah beberapa menit, Alan membiarkan angin malam menerpa tubuhnya, ia melirik jam di iphone miliknya sudah menunjukan pukul 02.30 pagi. Alan pun kembali ke kamarnya lalu melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong.


🌿🌿🌿


Joshua yang awalnya sempat menolak pun terpaksa harus ikut karena jika tidak ia tidak akan diperbolehkan menggunakan fasilitasnya yang akan disita Alan, kakaknya.


"Josh?" panggil Alan sambil  menghampiri Joshua yang sedang asik dengan playstation miliknya.


"Hm"


"Cepet siap - siap! Kita mau jemput Daddy dan Mommy di airport setengah jam lagi mereka sampai"


"Cannot" ketusnya dengan mata yang terfokus pada game yang ia mainkan.


"Harus! Enggak terima penolakan"


"Enggak"


"Cepet! Atau mobil dan motor lo gue sita selama sebulan?"


"Shit!!!" Umpat Joshua sambil merapikan peralatan game playstation miliknya lalu bergegas membersihkan dirinya.


"Nah gitu dong. Gue tunggu lo dibawa"


"Hm"


Alan meninggalkan kamar Joshua dan menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


Males banget gue harus ketemu dia. Batin Joshua.


Joshua sangat tidak ingin bertemu adik perempuannya Caitlin. Karena kesalahan yang mungkin pernah Caitlin lakukan di masa lalu, tanpa ia tahu jika itu hanya salah paham. Bukan Caitlin yang menyebabkan kejadian kelam itu terjadi, tetapi memang takdir yang harus ia terima. Selama ini Joshua berusaha  menjauhi Caitlin bahkan membencinya, tanpa pernah memberi gadis itu kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Diseberang sana Caitlin sedang berpikir keras tentang apa yang terjadi jika ia bertemu Joshua. Caitlin sangat takut, takut jika Joshua tidak mau menerimanya. Caitlin menatap layar iphone nya yang sedang terpampang foto dirinya bersama Joshua. Tanpa disadari pipinya sudah basah oleh cairan bening yang keluar dari maniknya. Isakannya tertahan, karena Caitlin tidak ingin Kenan dan Diana mengetahui jika dia kembali menangis oleh sebab yang sama. Namun, Diana masih bisa menyadari anak perempuannya sedang menangis sambil menatap fotonya bersama Joshua. Diana mengusap pelan bahu Caitlin dan mengatakan sesuatu.


"Cait? Sudah! Percaya sama Mommy, suatu saat nanti pasti kakak kamu bisa maafin kamu." Ujarnya.


Dengan cepat Caitlin membuang muka untuk menghapus air mata di pipinya agar Diana tidak melihat dirinya yang telah berlinang air mata.


Perlahan Kenan, mendorong troli yang terdapat barang - barang istri dan anaknya, sedangkan Diana dan Caitlin menarik satu koper mereka masing - masing. Awalnya, mereka bertiga berjalan berdampingan, tiba - tiba saja Caitlin memperlambat langkah kakinya yang mulai terasa berat. Caitlin menepuk pelan pipi dan mengerjapkan mata untuk menenangkan hatinya saat ini.


You can! Caitlin, you're a strong girl. So, don't you cry in front of him. Gumamnya dalam hati dan kembali menyamai langkahnya dengan kedua orang tuanya.


Tak perlu menunggu lama, Alan dan Joshua menghampiri Kenan, Diana, dan Caitlin yang baru saja muncul dari pintu kedatangan. Mereka semua terlihat sangat bahagia, Alan berlari menuju orang tua dan adik perempuannya serta diikuti Joshua dari belakang. Alan memeluk Kenan, Diana bergantian dan berpikir sejenak lalu memeluk Caitlin canggung, begitupun Joshua, tapi berbeda dengannya ia tidak memeluk Caitlin bahkan senyum pun tidak. Joshua mengalihkan perhatian semuanya dengan mendorong troli yang dibawa Kenan tanpa mempedulikan Caitlin sedikitpun. Alan berdehem untuk mencairkan suasana sebelum ia menawarkan diri kepada Caitlin untuk membawa koper milik adiknya.


"Sini! Koper kamu kak Alan yang bawa!" Seru Alan seraya merampas paksa koper biru awan milik Caitlin.


Kenan dan Diana hanya bertukar pandangan satu sama lain saat melihat sikap ketiga anaknya.


🌿🌿🌿


Caitlin menghempaskan tubuhnya keatas kasur king size kesayangannya. Sudah lama, ia tidak tidur di kasur itu. Saat Caitlin baru memejamkan matanya, pintu kamarnya terbuka dan tanpa aba - aba ia segera melihat ke ambang pintu. Gadis itu terkejut dan ia segera merubah posisi tertidur menjadi duduk bersila, ia tidak menyangka jika Joshua masih mau membawakan koper miliknya.


Kak Jo?


Caitlin menghampiri Joshua dan membantu kakaknya itu.


"Sini biar aku bantu?" Tawar Caitlin yang tidak mendapat jawaban dari Joshua.


Joshua meletakkan koper itu, dan bergegas meninggalkan kamar Caitlin. Namun, gadis itu mencekal tangan Joshua untuk menahannya agar tidak pergi.


"Kak? Tunggu!" Ucap Caitlin gemetar. Caitlin tidak mendengar apapun dari bibir Joshua.


"Aku tahu kaka masih marah sama aku, bahkan benci sama aku. Tapi, aku cuma minta satu dari kaka." Perkataan Caitlin terhenti.


"Apa aku boleh peluk kaka sekali ini aja? Aku kangen banget sama kak Jo." Ujar Caitlin yang kini tidak bisa menahan rasa panas di matanya. Dengan berat hati, Joshua membalikkan tubuhnya dan Caitlin pun langsung melingkarkan kedua tangannya erat di pinggang Joshua.


*Satu


Dua


Tiga*


Joshua melepas paksa pelukan Caitlin dan berlari keluar dari kamar Caitlin, tanpa membalas pelukan gadis itu. Kini Caitlin terdiam di tempatnya dan memeluk dirinya sendiri yang perlahan meringkuk di lantai.


"Sampai kapan kak? Sampai kapan ?" Bisik Caitlin yang terdengar seperti teriakan tertahan. Caitlin menangis sejadi - jadinya, ia sangat merindukan kasih sayang dari Joshua.


Di kamarnya, Joshua bersandar pada pintu dan memukul - mukul tubuhnya. Joshua ingin sekali membalas pelukan Caitlin, namun ia tidak bisa. Joshua meringis pelan.


"Kenapa harus lo, Cait? Kenapa?"


"Gue sayang sama lo. Tapi, kenapa lo tega  ngerenggut kebahagiaan gue? Kenapa?" Teriak Joshua yang sedikit tertahan dengan tangan mengacak rambutnya frustasi.


🌹🌹🌹

__ADS_1


**Tbc


200115**


__ADS_2