
-Orang yang dingin sekalipun bisa berbuat baik pada seseorang, jika dia peduli pada orang itu-
Caitlin Emma Gibson
°°°°°
Jasmin dkk atau yang sering disebut 'The Red Velvet' itu menghampiri Caitlin yang tengah duduk di mejanya dengan wajah yang ia sembunyikan di lipatan tangannya. Grace dengan angkuhnya memukul keras meja Caitlin dan membuat gadis itu tersentak. Caitlin bangkit berdiri dengan tangan mengepal karena ia tidak terima dengan perlakuan The Red Velvet kepadanya. Caitlin memejamkan matanya sejenak lalu menghirup napas panjang untuk meredakan amarahnya yang kini mulai memuncak. Gadis itu duduk kembali dan mencoba tidak mempedulikan keberadaan The Red Velved di hadapannya. Caitlin mengalihkan perhatian dari mereka bertiga dengan memasangkan earphone di kedua telinganya. Jasmin tak terima dengan sikap acuh Caitlin, menarik paksa earphone dari telinga gadis itu. Tetapi Caitlin mencoba tidak mempedulikan mereka dengan menempelkan pipinya ke meja lalu memejamkan mata. Jasmin dkk semakin geram dengan sikap acuh Caitlin pun menarik paksa rambut gadis itu yang dikuncir kuda. Itu membuat Caitlin tidak bisa menahan dirinya lagi dari mereka dan mencoba menghadapi Jasmin dkk. Namun, Jasmin tetap menarik rambut Caitlin dengan kasar sampai mereka berhenti di lapangan basket. Caitlin masih berusaha menahan amarahnya yang bisa meledak kapan saja, dan sebenarnya ia bisa saja ia memberikan satu tonjokan ke wajah perempuan yang berani menarik rambutnya dengan kasar. Siswa yang melihatnya hanya terdiam karena siswa di SMA Tunas Harapan sudah tahu betapa kejamnya The Red Velved jika sedang membully orang yang mereka benci atau bahkan siswa baru yang berani membangkang mereka.
Saat tiba di lapangan basket, Jasmin menarik rambut dengan sangat kasar hingga embuat Caitlin terjatuh ke tanah.
"Auwwhh." Ringisnya pelan.
Jasmin maju selangkah kemudian menarik rambut Caitlin lagi dan memaksa gadis itu mendongakkan kepalanya.
"Auwwhh" Ringis Caitlin sedikit keras.
"Uuhh kasihan. Sakit yah?" Ucap Jasmin licik.
"Asal lo tahu aja yah, kita bisa ngelakuin hal yang lebih dari ini ke lo." Tambah Grace yang kini menginjak tangan kiri Caitlin dengan sengaja.
"Auuwhh" ringisnya pelan.
"Ini pelajaran buat lo karena lo udah berani semena - mena sama kita." Ketus Jasmin yang semakin kencang menarik rambut Caitlin.
"Jasmin, Grace udah dong kasihan tau." Ujar Fanny yang di sapa tatapan tajam dari Jasmin dan Grace.
Gue enggak bisa diem aja kayak gini. Gue enggak akan ngebiarin mereka mempermaluin gue kayak gini. Enggak akan! Decak Caitlin dalam hatinya.
Salah seorang siswa kelas XII IPA 1 yang melihat kejadian itu segera memberitahu kepada Joshua, karena ia tahu jika Caitlin adalah adik dari teman sekelasnya.
"Jo" ucapnya terputus karena napasnya yang tidak teratur.
Joshua yang merasa ada yang menyebut namanya menolehkan wajahnya ke sumber suara.
"Jo, adek lo.... Adek lo... Adek lo lagi di bully sama The Red Velved di lapangan basket sekarang." Ujarnya yang membuat Joshua dkk serta Olivia dan Cindy terkejut.
"Apa?" Kejut Joshua dengan mata membelalak. Lalu ia berlari menuju lapangan basket diikuti oleh kelima temannya dan melihat adiknya sudah tersungkur di tanah dengan rambut panjang yang ditarik oleh Jasmin. Namun, lagi - lagi Joshua mengurungkan niatnya untuk membantu Caitlin karena gengsinya yang terlalu besar.
Caitlin mencoba melepaskan dirinya dari Jasmin dan Gracd namun gagal. Ia menarik napas panjang lalu membuangnya kasar dan mendorong Jasmin dengan sikut tangannya dan menarik paksa tangannya dari injakan Grace. Caitlin bangkit berdiri dan mendekat kearah Jasmin lalu menarik kerah bajunya yang sudah terbaring di tanah dengan tangan mengepal yang sudah melambung di udara hendak memberikan sebuah tonjokan tepat di wajah Jasmin.
__ADS_1
Maaf, Maaf gue enggak bisa jagain lo. Sesal Joshua dalam hatinya.
"Arrgh" Teriak Caitlin kesal yang melepaskan tonjokannya kearah wajah Jasmin namun ia melesetkan tonjokan itu ke tanah tepat di samping telinga Jasmin. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya erat - erat saat Caitlin hendak memukulnya. Lalu Caitlin melepaskan kerah baju Jasmin dan pergi meninggalkan Jasmin dkk tak lupa ia membisikkan kalimat di telinga Grace.
"Bilangin sama ketua lo kalo mau cari masalah sama orang liat - liat dulu!! Sebenarnya gue bisa aja ngabisin kalian semua atau laporin kelakuan kalian ke Kepsek atau bahkan ke pemilik Yayasan sekolah ini. Tapi, gue masih punya hati dan bisa memaafkan perbuatan kalian." Bisik Caitlin di telinga Grace dan diakhiri dengan tepukan pelan di bahunya. Grace hanya terdiam mendengar perkataan Caitlin yang terkesan mengancam dan penuh penekanan.
Caitlin pergi ke toilet untuk merapikan penampilannya yang sempat berantakan akibat ulah The Red Velved. Caitlin memegangi tangan kirinya yang mulai membengkak dengan perubahan warna kulit yang memerah dan mengeluarkan sedikit darah.
Rachel, dan Stella segera menghampiri Caitlin yang kini tengah terduduk di tempatnya. Mereka berdua baru tiba lima menit sebelum bel masuk berbunyi sehingga mereka tidak melihat kejadian itu.
"Cait? Lo baik - baik aja kan?" Tanya Rachel panik.
"Iya, tadi kita denger lo di bully sama tiga curut itu." Tambah Stellaa dengan menunjukan dagunya kearah pintu yang menampilkan The Red Velved.
"I'm okay. Don't worry." Ucap Caitlin santai.
"Gimana kita enggak khawatir? kalo lo juga jadi korban bully an mereka."
Tukas Stella cemas.
"Stel, gue bener baik - baik aja kok." Jawab Caitlin dengan menunjukan senyum palsu.
"Kayaknya bentar lagi guru dateng." Saran Caitlin.
Bel istirahat telah berbunyi, saatnya siswa memberi makan cacing - cacing di perut yang mulai berdemo. Tanpa aba - aba David menarik tangan Caitlin dan membawanya ke UKS. Saat David hendak mengompres tangan kirinya, Caitlin bertanya kepada David.
"Mau ngapain?" tanya Caitlin
"Menurut lo?" jawab David singkat.
"Kenapa tiba - tiba lo baik sama gue?" Tanya Caitlin yang membuatnya mendapat tatapan tajam dari David. Laki - laki itu tidak menjawab dan serius pada luka di tangan kiri gadis itu.
Caitlin kembali membuka suara dengan ragu - ragu.
"Ehm, Thanks, vid" Ujar Caitlin canggung.
"Sama - sama"
Caitlin tersenyum lebar, ia tak menyangka David akan menjawabnya. Yah, walaupun nadanya masih terdengar dingin, tapi Caitlin merasa senang.
__ADS_1
David meletakkan alat kompres ke tempat semula lalu menggenggam tangan kanan Caitlin dan membawanya ke kantin. Caitlin merasa bingung dengan sikap David yang tiba - tiba berubah baik padanya, yah walaupun sikapnya masih dingin sih.
"Vid, sekali lagi makasih." Ujar Caitlin yang hanya mendapatkan gumaman dari David.
Susah banget sih ngajak dia ngomong. Hufft... Batin Caitlin.
David menunjuk tempat dengan dagunya kepada Caitlin untuk duduk bersamanya dan Roy. Caitlin hanya mengikuti perintah David karena ia tak kuat jika harus melihat tatapan tajam dari David. Tanpa menunggu lama Roy menanyakan makanan apa yang mau Caitlin pesan?
"Cait, lo mau pesan apa?"Tanya Roy.
"Siomay sama es jeruk" Jawab Caitlin canggung.
Setelah mendengar jawaban Caitlin, Roy pun pergi untuk memesan tanpa bertanya pada David.
"Vid, lo enggak mesen?" Tanya Caitlin sedikit gugup. Lagi - lagi David memberikan tatapan tajam itu kepada Caitlin untuk menghindarinya gadis itu mengalihkan pandangannya ke segala arah selain kearah David.
Roy datang membawa pesanannya dan Caitlin ke meja. Kehadiran Roy bisa mencairkan suasana yang sempat membuat Caitlin menegang dan canggung. Caitlin melahap siomay dan tak lupa sesekali menyeruput es jeruk yang ia pesan tadi. Caitlin melirik David yang sibuk dengan game di ponselnya.
Dasar cowok nyebelin! Caitlin berdecak kesal dalam hati.
"Woi!... Bengong baee" Ujar Roy dengan memukul meja di hadapan Caitlin.
"Siapa yang bengong?." Tukas Caitlin tak terima. Kemudian, Caitlin melanjutkan menyantap siomaynya. Dan mereka terdiam dan hanya terdengar suara siswa lain yang tertawa, berbicara, berjalan atau yang lainnya.
"Kelas yuk!" Ajak Caitlin yang mulai membuka suara. Saat mendengarnya, David menghentikan kegiatannya dan segera bangkit dari tempatnya lalu pergi menuju kelas lebih dulu.
"Maklumin aja yah, Cait. David emang kayak gitu orangnya." Jelas Roy dan Caitlin hanya menunjukan senyuman terbaiknya lalu menatap punggung David sampai tak terlihat lagi.
"Ya udah ke kelas yuk." Ajak Roy.
Di kelas, kedua temannya sudah menunggu Caitlin yang sejak bel istirahat berbunyi belum kembali ke kelas saat David membawa Caitlin pergi. Tetapi, mereka melihat David tengah asik memainkan game di bangkunya. Stella mendekat dan berniat menanyakan keberadaan temannya pada David.
"Vid, Caitlin dimana?" Tanya Stella yang disambut tatapan dingin dari David. "Caitlin mana? Tadi kan dia pergi sama lo?" Tanya Stella lagi. David mengangkat bahunya acuh dan kembali asik pada game di ponselnya. Stella hanya mendengus kesal.
Iisshh! Dasar es batu! Dengus Stella dalam hatinya.
🌹🌹🌹
Tbc
__ADS_1