
"Kenapa kalian ada disini?" Pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh pria yang baru saja masuk kedalam ruang laboratorium.
"Paman?" Samuel segera mendekat, dia memeluk tubuh pria yang wajahnya sangat mirip dengan sang Ayah. Pria ini adalah saudara kembar Ayahnya, dan merupakan satu satunya orang yang menentang sang Ayah.
"Kenapa kau kesini Sam, bukannya Paman sudah menyuruhmu untuk pergi dari kota atau bahkan negara ini!" Pria itu terlihat mengeluarkan sebuah botol dari balik blazer putihnya. Dia berjalan menuju pembatas kaca, lewat lubang kecil yang ada disana dia memasukan botol itu.
"Semoga bahan terakhir ini bisa membantu kalian dalam menyelesaikan pembuatan penawarnya."
Pria itu bergumam penuh harap, dia berharap wabah mematikan ini segera berakhir, orang orang masih bisa diselamatkan oleh penawar yang tengah mereka ciptakan.
"Paman?" Samuel mendekat
"Papamu tidak ada disini Sam, Paman sengaja menyamar sebagai Papamu agar bisa memberikan bahan terakhir itu pada Profesor Lukman."
__ADS_1
"Tapi Paman Brant, apa Paman tahu kenapa Papa sampai melakukan hal ini?" Samuel kembali memohon pada sang Paman agar pria berwajah serupa dengan Ayahnya itu mau menjelaskan semuanya.
"Nanti Paman jelaskan, sekarang sebaiknya kalian keluar dari ruangan ini. Disini tidak aman, banyak virus bertebaran, kalau kalian tidak kuat melawannya kalian akan berakhir sama seperti orang orang yang ada diluar gedung ini. Jadi sekarang, ayo ikut Paman, Paman akan mengantarkan kalian keruangan bawah tanah!"
Setelah mengatakan semuanya, pria itu berjalan mendahuli Samuel dan yang lainnya. Saat semuanya mengikuti langkah Profesor Brant, Ina, Anita,Zean dan Aiko masih tetap tidak mau menggerakan kedua kakinya. Kedua mata mereka teepaku pada kedua orang yang tengah berjuang membuatkan penawar untuk mereka didalam ruangan kaca itu.
"Mama akan tetap disini, Sam tolong bawa mereka bersamamu!' Anita meraih baju pengaman yang ternyata sudah tersedia disana. Dia akan ikut turun tangan membantu suami serta rekan suaminya itu. Anita tidak akan membiarkan Lukman berjuang sendirian.
"Ma?" Ina hendak memprotes, namun saat melihat tatapan Anita dan anggukan kepala sang Mama, mau tidak mau mereka harus merelakan sang Mama ikut berjuang dengan sang Papa.
Setelah mengatakan hal itu, Anita segera memakai penghalang wajah serta kepalanya dan mulai memasuki ruangan berkaca super tebal itu.
"Ayo Nay!" Samuel meraih lengan Inayna, namun ternyata Ina malah menyentaknya kasar. Gadis itu berjalan mendahuli Samuel diikuti oleh Zean dan Aiko.
__ADS_1
Samuel menghela nafasnya kasar, dia sudah menduga kalau akhirnya akan seperti ini. Orang orang yang ada didekatnya akan kecewa padanya karena ulah sang Papa serta aliansinya. Samuel keluar dari ruangan itu, dia akan memberikan waktu pada Ina dan yang lainnya agar mereka tenang terlebih dahulu.
🐝🐝🐝🐝
"Ini ruangan kalian, kalau ada apa apa tekan saja tombol yang ada didalam sana oke!" Brant mengantar mereka sampai pintu ruang bawah tanah atau bangker. Samuel dan yang lainnya menganggukan kepalanya paham kecuali Inayna. Gadis itu enggan berbicara setelah melihat sang Mama ikut berjuang bersama Papanya.
Dan itu membuat Samuel tidak bisa berbuat apa apa, pria itu hanya bisa menatap Ina sendu. Dia juga tidak pernah berharap kalau semua ini terjadi karena ulah sang Papa.
"Ayo masuk!" Samuel yang pertama kali meraih knop pintu besi itu setelah mereka disemprot oleh kabut putih sebelum masuk kedalam.
saat pintu besi itu terbuka, ternyata didalam sana tidak kosong. Banyak orang orang tengah mengobrol dan sebagainya, bahkan ternyata orang orang yang Ina dan Samuel kenal pun ada didalam ruangan ini.
"Verzon?" Samuel mendekat kearah pria yang tengah membalut tangannya sendiri diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Oh hai sepupu!"
SEMOGA KALIAN SUKA, THANKS